Terlahir kembali #1
Melewatkan banyak sekali cerita yang terjadi di penghujung 2020 kemarin sampai saat ini, hampir di penghujung 2021. 7 September 2021. Belum terlalu terlambat (mungkin) untuk mengisah balik pengalaman ajaib sebagai sepasang manusia yang tinggal di Bumi.
01. Pertemuan
Aku dan suami menikah di akhir bulan Maret 2020. Sengaja memilih tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran suami, alasannya, kalau nunggu tanggal kelahiranku masih lama di bulan November. Keputusan untuk melangkah ke jenjang pernikahan bukan jadi hal yang mudah buat kami. Sejak 2017 lalu, kami memulai semuanya kembali. Ya, hubungan ini. Sebagai (mungkin) teman SMA di tahun 2008-2011 tidak ada yang istimewa di antara kami. Sekedar tahu dan tak pernah menjalin. Entah bagaimana Allah menakdirkan kami bertemu kembali dalam suasana yang sangat entah dan tidak mudah di pertengahan 2017. Saat itu kami sedang sama-sama terhuyung dalam hubungan yang patah dengan partner masing-masing. Rasanya aneh kalau tidak ku sebut takdir, karena se-random itu kami bersama menemukan mata air di tengah padang pasir. Sejuk.
Lantas, ternyata takdir tak semudah itu berjalan hingga kami mencoba saling mengusahakan atau meninggalkan. Lelah kehilangan. Lagi. Sampai akhirnya butuh waktu cukup panjang untuk meyakinkan batin masing-masing. Dua tahun lebih sedikit. Kalau sekarang dipikir sih itu sih kelamaan. Tapi begitulah, yang katanya perihal "di waktu yang tepat".
02. Penantian
Daftar panjang memenuhi catatan kami sebagai calon pengantin baru. Sayangnya semua list harus tercoret karena pandemi Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia saat itu. Sadis.
Diawali dengan tamu undangan yang tak bisa maksimal hadir di pernikahan kami, rencana honeymoon yang porak poranda tanpa harapan. Cuti yang diperpanjang dari kantor suami menyisakan kami yang terpojok berdua di tepi kolam rumah mertua tanpa bisa kemana-mana. Pilihannya hanya dapur dan kasur. Dua bulan berselang belum terjadi tanda-tanda berarti di tubuhku. Beberapa rasa mual dan pusing ingin kujadikan gejala awal namun ternyata tak berlanjut karena kehadiran rutin bulanan "si merah" mengabaikan beberapa testpack yang tak kunjung bergaris dua.
03. Kejutan
Oktober 2020. Subuh yang dingin seketika menjadi hangat ketika ku pandangi cermat2 testpack murahan yang kubeli berubah warna dan bermakna. Membangunkan suami untuk menunaikan sholat sunnah 2 rakaat terlebih dulu. Setelahnya ku peluk suamiku, bukan tangis haru yang ku dapat, tapi mimik tak percaya di wajahnya setelah ku tunjukkan alat deteksi kehamilan itu. Ah, kamu mas nggak romantis blas. Ya sudah. Kejutan itu berlanjut hingga ke Jogja, kota kami tercinta.
04. Kehidupan baru
Ada yang bertumbuh dalam perutku jauh di bagian terdalam. Rasa mual memenuhi seluruh lambung terus naik ke kerongkongan hingga lebih sering ku lepaskan. Muak. Lelah kehabisan cairan. Setidaknya sampai ia berusia 16 Minggu. Alhamdulillah, tak ada kata yang bisa kuucapkan selain itu. Lepas trimester pertama, mual dan segenap rasa yang merepotkan seketika pamit undur diri. Aku dan suami mensyukurinya dengan pergi berjalan-jalan sekedar menghirupi udara ketidakmualan. Di tengah perjalanan, wait, ada yang nggak beres.
Lanjut #part2









