Ada type temen yang low maintenance, tapi tiap lo lagi down dia dateng. Nggak banyak tanya dan ngerti tanpa harus dijelasin.

Discoholic 🪩
Three Goblin Art
he wasn't even looking at me and he found me
Sweet Seals For You, Always

#extradirty
One Nice Bug Per Day
will byers stan first human second
Show & Tell

oozey mess
DEAR READER
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

⁂
Claire Keane
Lint Roller? I Barely Know Her
ojovivo

roma★
Not today Justin

Janaina Medeiros
taylor price

izzy's playlists!
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Sweden

seen from Singapore

seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Greece

seen from United States
seen from United States
@nyarande
Ada type temen yang low maintenance, tapi tiap lo lagi down dia dateng. Nggak banyak tanya dan ngerti tanpa harus dijelasin.
Beberapa kali dekat dengan maut namun tak kunjung berjodoh.
First time senin jadi sumala, gimana engga hampir 1 team minta approval cuti 😭
Makin dewasa ngerasa the true luxury is not about how much you make, but how much free time you actually own.
Akhir-akhir ini, ikhlasnya jauh lebih besar dari biasanya.
Pulang
Jika masih ada sisa ruang, semoga setiap amin yang kulangitkan mampu memantik kembali kehangatan yang sempat padam.
Namun, jika semesta menggariskan jeda yang selamanya, aku harus mengerti bahwa merelakan bukanlah sebuah kekalahan. Ia adalah bentuk kasih sayang paling tulus untuk diri sendiri.
Berhenti mendekap kaktus yang hanya memberi luka, padahal hatimu berhak untuk kembali pulih dan dijaga.
Remembrance (1)
Aku belum menuliskan secara detail bagaiman ibu berpulang. Aku yang masih mengeja rasa, memluk semua duka, merasa masih terpocel-pocel langkah ini, rasanya selalu berat untuk menelusuri waktu lagi melihat kebelakang semua hal yg terjadi begitu cepat.
Ya, begitu cepat, dari kebahagiaan menjadi sebuah kedukaan......
Ibuku datang ke Melbourne pertengahan Oktober. Ia datang bersama nenekku yang ingin merasakan Melbourne, sedangkan aku sendiri masih di perjalanan melanglang buana dari Rotterdam. Sebelumnya, adikku yang perempuan sudah datang duluan di Melbourne, dan beberapa hari kemudian adikku yang laki-laki datang ke Melbourne.
Tak pernah disangka, kaum kelas menengah ini bisa membawa keluarganya ke luar negeri, terima kasih kepada pendidikan yang bisa memberikan akses sebegitu besarnya. Kemudian nenekku pulang dan adik-adikku pulang di awal november, tapi ibuku tidak pulang karena ia akan menghadiri wisuda AAS ku di akhir November dan wisuda universitasku di pertengahan desember.
Di pertengahan november, aku dan suami pergi berlibur ke Tasmania hanya berdua. Hal yang sudah kurencanakan jauh-jauh hari, sambil meminta izin ibu, "Apakah gapapa aku nitip Hannah untuk diantar dan jemput sekolah selama 5 hari?" dan ibu bilang tidak apa, maka kami berangkat.
Memang sepulang kami dari Tasmania, kesehatan ibu terlihat menurun. Ibu mengeluh sakit di beberapa bagian seperti perut yg terus-terusan terasa begah, dan juga di sekitar payudara yang rasanya seperti ditusuk-tusuk tembus sampai punggung. Setelah beberapa hari sakit, ia baru menunjukkan kalau ternyata ada massa besar di sekitar payudara yg pernah di mastektomi. Sudah memerah dan keras sekali. Itulah yg menjadi penyebab setiap malam ibu tidak pernah bisa tidur nyenyak, nyeri hebat.
Ibu selalu bilang kepada kami, "Padahal waktu di Indonesia, ibu udah pengen jalan2 naik tram sendiri karena udah hafal. Tapi ibunya malah sakit." Ia tertawa getir. Ia hanya di rumah saja, terkadang keluar flat kami, tapi ibu tetap memasak untuk kami sehingga setiap kali kami pulang ke rumah sekitar jam 6 sore sudah terhidang makanan enak di meja.
Pada suatu hari, ia merasa sedikit bosan dan menerima tawaran kami untuk berjalan-jalan ke Preston market, dan disanalah deep conversation terakhir aku dan ibu terjadi. Di tempat yang ramai dan banyak distraksi. Tapi dari sana aku benar-benar lega dan merasa tidak ada tanggungan lagi dengan ibu.
Memasuki bulan desember, kesehatan ibu semakin menurun lagi. Ia bahkan tak sanggup lagi beranjak dari kasur. Ia akan beranjak jika hanya ingin ke toilet. Sudah tidak ada lagi hidangan lezat setiap harinya.
Aku yang hanya tinggal menunggu wisuda dan sudah tidak ada assignment apa-apa, mencoba untuk menemaninya setiap hari di rumah. Akhirnya aku random mengajaknya untuk menonton drama korea berjudul "Bon Apettite, Your Majesty" ternyata ibu sangat menyukainya. Drama ini mengingatkan ibu pada drama korea jaman baheula di Indonesiar berjudul "Jewel in The Palace" yang sama-sama bercerita tentang koki istana.
Di masa ini, aku sering kali terbangun malam hari dan melihat ibu meringis-ringis kesakitan, atau bahan menungging-nungging menahan sakit. Ia sering kali minta dipijetin punggungnya untuk mengurangi rasa nyeri hebat. Beberapa kali kami minta ibu untuk ke dokter tapi ibu tak mau. Ia tahu harga dokter yg tidak di cover asuransi akan sangat mahal sekali. Sehingga ia hanya minum obat pereda nyeri dari chemist saja. Tapi sepertinya, obat itu tidak menolong banyak karena ibu tetap tidak bisa tidur semalaman, dan terkadang hanya jatuh tertidur 15-30 menit saja.
sampai sini dulu, rasanya belum sanggup lagi menulis. aku merasa hormon stresku keluar banyak
Apakah Benar Kita tidak Pernah Benar-benar Sembuh?
Kita sering diajari bahwa luka punya akhir, bahwa suatu hari nanti, semuanya akan pulih, kembali seperti semula. Tapi mungkin yang tak pernah benar-benar kita akui adalah tidak semua yang retak bisa utuh lagi dengan bentuk yang sama. Ada bagian dari diri yang tetap menyimpan bekas, seperti dinding yang pernah diguncang gempa, masih berdiri, tapi tak lagi persis seperti dulu. Dan anehnya, kita tetap hidup di dalamnya, belajar menata ulang ruang, seolah-olah itu sudah cukup untuk disebut sembuh.
Barangkali, sembuh bukan tentang menghapus rasa sakit, melainkan tentang berdamai dengan kehadirannya. Tentang bagaimana kita tetap bisa tertawa di sela ingatan yang sesekali menyengat, atau tetap melangkah meski ada bagian kecil yang diam-diam masih tertinggal di masa lalu. Kita menjadi ahli dalam menyamarkan luka bukan untuk membohongi orang lain, tapi agar kita sendiri bisa terus berjalan tanpa harus berhenti di setiap rasa yang belum selesai.
Jadi, apakah benar kita tak pernah benar-benar sembuh? Mungkin iya. Tapi itu bukan kegagalan. Itu hanya cara lain dari menjadi manusia—rapuh, tapi bertahan. Kita tidak kembali utuh seperti dulu, melainkan tumbuh dengan cara yang berbeda: membawa luka sebagai bagian dari cerita, bukan sebagai akhir dari segalanya. Dan mungkin, di situlah letak keindahannya, bahwa meski tak sepenuhnya pulih, kita tetap memilih untuk hidup, lagi dan lagi.
Written by Aftansa
Catatan dari East of Eden.
Kalimat ini membuatku berhenti sejenak
"And now that you don't have to be perfect, you can be good."
Selama ini aku terlalu sibuk memastikan segalanya terlihat 'selesai'. Aku sering merasa kalau satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk menghapus semua nilai yang aku bangun.
Segalanya terasa lebih ringan saat aku berhenti mengejar standar yang tidak masuk akal. Steinbeck menyebutnya Timshel—sebuah pilihan. Bagiku, itu adalah pilihan untuk berhenti mempersulit diri sendiri.
Menerima diri sebagai sosok yang tidak pernah benar-benar 'selesai' jauh lebih melegakan; sebuah bentuk syukur atas keterbatasan yang memang sudah semestinya ada.
Pagi ini aku kembali mengingatmu, Nek... dalam diam yang tiba-tiba terasa penuh.
Di masa kecilku yang belum benar-benar mengerti kehilangan, engkau hadir seperti rumah... yang tidak banyak bertanya, tapi selalu menerima.
Saat dunia terasa tidak utuh, engkau yang diam-diam merapikannya kembali. Dengan kata-kata sederhana yang mungkin orang lain anggap biasa, tapi bagiku… itu adalah cara pertama aku belajar mencintai diri sendiri.
“Kamu anak yang cantik, seperti putri kerajaan.”
“Kamu pintar, kamu berani, kamu baik hati dan lembut.”
Dan anehnya, Nek… aku mempercayai semua itu, hanya karena yang mengatakannya adalah engkau.
Hari ini aku tumbuh, melewati banyak hal yang tidak selalu mudah, tapi setiap kali aku hampir meragukan diri sendiri, suaramu selalu datang... pelan, tapi tetap sama hangatnya.
Seakan mengingatkanku, bahwa aku pernah dilihat dengan begitu utuh, oleh seseorang yang benar-benar tulus.
Aku rindu… bukan hanya pada sosokmu, tapi pada cara engkau membuatku merasa cukup... bahkan di saat dunia terasa kurang.
Dan mungkin… yang engkau tanam dulu, masih hidup sampai hari ini... di caraku bertahan, di caraku tetap lembut, di caraku tidak menyerah.
Dan ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa aku lupakan, Nek…
Engkaulah yang pertama kali meletakkan Al-Qur’an di tanganku.
Bukan sekadar memberikannya, tapi seakan menitipkan arah... bahwa di saat nanti aku tersesat, aku akan tahu ke mana harus kembali.
Aku mungkin belum selalu menjadi seperti yang engkau doakan dulu… tapi setiap kali aku membukanya, aku seperti kembali menjadi anak kecil itu... yang duduk dekatmu, yang percaya bahwa dunia masih baik, karena ada engkau di dalamnya.
Dan hari ini, meski ragamu sudah tiada, aku tahu… sebagian dari doamu masih tinggal di dalam hidupku.
Terima kasih, Nek… karena pernah menjadi tempat paling tenang dalam hidupku yang kecil.
Semoga Allah memelukmu dengan rahmat-Nya, sebagaimana engkau dulu memelukku dengan cinta. 🤍
Karena ternyata, Nek… yang benar-benar hilang bukanlah engkau... melainkan waktu yang tidak bisa mengembalikanmu.
Tapi cintamu… tetap tinggal, bahkan saat aku harus belajar kuat tanpa genggamanmu.
#RinduNenek #KenanganYangHidup #DoaUntukYangTelahPergi #TentangRumah #MemoriKecil #CintaYangTertinggal #YollaOllaWrites
Duka Itu Akan Selalu Ada
Ya, duka kehilangan orang yang sangat kita sayang di dunia ini memang gak akan hilang. Setahun, dua tahun, bahkan puluhan tahun, duka itu selalu ada dalam hati. Hanya saja, sikap kita yang membedakannya hari per hari.
Saat awal-awal kehilangan, kita akan selalu sedih bahkan menangis ketika ada orang lain yang membahasnya. Tapi setelah bertahun-tahun, kita malah dengan senang hati menceritakannya sendiri tanpa ditanya.
"Dulu, almarhumah mamaku..."
"Mamaku itu orangnya..."
"Kamu jangan makan itu banyak-banyak, nanti sakit kayak mamaku..."
"Waktu mamaku meninggal..."
Dan lain-lain, padahal orang lain suka gak tega dan banyak khawatirnya ketika mau bertanya soal orang yang sudah tiada itu hehe. Walau respon kita sudah seringan itu, bukan berarti duka itu sudah tidak ada. Duka itu akan selalu ada, gak bisa dihapus, gak bisa dilupain rasanya, sekalipun kelihatannya kita udah bahagia betul tanpa kehadirannya.
Contohnya aku. Walau kelihatannya gak pernah nangis lagi karena inget Mama, aku masih kok merasa iri lihat temanku yang masih punya Ibu, masih merasa aku gak beruntung karena gak ada doa Mama, masih merasa bingung milih orang yang jadi tempatku cerita karena udah gak ada Mama, masih nangis kalau kangen banget, masih inget mama dan degdegan kalau liat ambulance dan masuk IGD, dan masih banyak lainnya.
Meskipun duka itu akan tetap ada, aku gak pernah bilang duka itu beban. Justru duka itu lah yang selalu buatku inget, bahwa aku punya Mama yang hebat dan sayang banget sama aku, sampai aku gak pernah bisa lupa sama beliau. Aku seneng karena tiap kali rasa duka itu terasa, aku jadi inget muka dan suaranya lagi.
Teruntuk aku dan kamu, berduka gapapa kok. Tapi, jangan berlarut dalam kesedihan ya. Kita hadapi duka ini dengan lebih dekat sama Allah swt, doain orang yang selalu doain kita di selama hidupnya kemarin. Semoga kita bisa jumpa lagi di tempat yang gak ada momen kehilangan di dalamnya. Aamiin.
Terkadang kita ingin hidup sebaik mungkin, karena pernah melihat seberapa kuat orang tua kita bertahan.
Hari pertama dia berpulang, nampaklah wajah dunia yang sebenarnya. Dingin, sebab kehangatan tak lagi ada bersamaan dengan kepergiannya.
Hari pertama dia menemui kesejatian, nampaklah wajah dunia yang sesungguhnya. Penuh penghakiman, menilai tanpa mau melihat kebenaran. Tidak ada lagi rumah yang nyaman sebagai tempat berlindung.
Memang, aku tidak lagi menunjukkan tangisan. Aku tebarkan senyum dan tawa. Tapi bukan berarti aku tidak merindukannya. Di hari aku hantarkan jasad itu, lubang besar telah terbentuk dihatiku. Sejak hari itu, aku menjalani hidup dengan bagian yang hilang.
Kini, sudah lebih dari satu dekade. Menerima takdir 'ditinggalkan' adalah perjalanan panjang yang tak diketahui ujungnya.
Pake qris selain lebih sat set juga bikin saldo rekening minta maaf karena tidak mencukupi 🫠
Ada ga si azab buat orang yang ngechat duluan terus malah ngilang?
Lucu ya, orang bisa cepat bilang kita lambat, tapi nggak pernah tahu seberapa banyak yang lagi kita tangani.
Berserakan
Beradu argumen dengan orang yang selalu punya cara untuk "menjadi korban" bukan lah jalan yang tepat. Lebih baik tuli, dan pergi dengan harga diri.