Pangeran Cilik dalam Dua Fase Hidup
Pada halaman awal Le Petit Prince atau Pangeran Cilik ditulis Antoine de Saint-Exupéry, disebut bahwa ia menujukan ceritanya ini pada orang dewasa. Tapi seandainya bisa, saya ingin memberitahu semua orang di dunia untuk membaca buku ini ketika masih kanak-kanak—jika sempat, atau pada anak-anaknya kalau perlu—dan saat beranjak dewasa untuk merasakan kehebatan perenungan de Saint-Exupéry yang begitu jitu melihat manusia.
Kakak memiliki buku itu kala saya bersekolah di jenjang SMP. Kami menyukai cerita yang lumayan pendek tapi berumur panjang itu. Bahkan, kami sampai menonton versi adaptasi animasinya. Kesukaan Kakak itu sekiranya terus dibawa olehnya hingga bertahun-tahun, nama hotspot smartphonenya saja menggunakan nama si penulis buku tersebut.
Ketika dulu membaca Pangeran Cilik, saya sebenarnya sudah memiliki kesadaran bahwa de Saint-Exupéry sedang mengolok-olok cara pandang orang dewasa. Lihatlah para penghuni planet yang si Pangeran Cilik kunjungi, dengan perilaku-perilaku absurd orang dewasa (seorang raja yang selalu ingin disanjung, orang sombong yang selalu ingin dipuji, seorang pemabuk yang ingin lupa rasa malu atas mabuknya, dan lain-lain). Seperti Pangeran Cilik, saya juga tidak mengerti mengapa mereka semua berperilaku aneh seperti itu—saat itu, kehidupan belum mengajarkan saya banyak hal.
Kini, ketika saya sudah berkuliah, terbersit perasaan ingin membaca ulang. Sejujurnya, memang saya sudah agak lupa mengenai isi buku itu. Tapi mengenai para penghuni planet-planet itu, saya masih ingat samar-samar. Jika tidak dengan orang-orangnya, setidaknya dengan impresi saya yang buruk tentang mereka.
Saya pinjam kembali buku itu dari Kakak. Ada gambar yang terselip di buku itu. Oh! Itu gambar hasil tangan saya! Betapa sukanya saya dengan buku itu, sampai saya menggambar planet tempat tinggal si Pangeran Cilik, bedanya yang ada di sana bukan Pangeran Cilik, tapi seorang astronaut (saya sudah lupa siapa itu sebenarnya, apakah itu saya? Apakah itu orang lain? Apakah itu orang yang asal saja saya gambar? Tapi dari rupanya, tampaknya ia seorang bocah juga).
Setelah melihat gambar itu, saya mulai membaca isinya. Kali itu, akhirnya setelah sekian waktu yang lama, saya kembali menangis oleh buku. Ya, saya di fase hidup yang sudah berbeda dengan saat pertama membacanya, telah mengerti lebih banyak dan merasakannya lebih dalam. Saya mengerti kebingungan si Pangeran Cilik lebih baik. Saya mengerti rahasia si rubah dengan lebih baik ketika ia bilang, "hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata".
Mari kita lihat dialog yang terjadi sebelum rahasia itu diungkapkan (saya menggunakan versi terjemahan Henri Chambert-Loir). Rubah berkata, "Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia..."
"Aku mulai paham," kata Pangeran Cilik. "Ada sekuntum bunga... Aku kira ia telah menjinakkanku."
"Jinak" di sini menurut rubah adalah "menciptakan pertalian".
Kemudian, mari kita pindah pada ucapan Pangeran Cilik mengenai bunga yang tumbuh di planetnya.
Pangeran Cilik pergi melihat bunga-bunga mawar.
"Kalian sama sekali tidak sama dengan mawarku, kalian belum apa-apa," katanya pada mereka. "Kalian belum dijinakkan siapa pun, dan kalian belum menjinakkan siapa pun. Kalian seperti rubahku dulu. Hanya seekor rubah yang serupa dengan seratus ribu rubah lain. Tapi sudah kujadikan temanku, maka dia satu-satunya di dunia." Bunga-bunga mawar merasa malu.
"... ia setangkai lebih penting dari kalian semua, karena dialah yang telah kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penyekat. Karena dialah yang kubunuh ulat-ulatnya (kecuali dua-tiga untuk kupu-kupu). Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, atau malah kadang-kadang kebisuannya. Karena dialah mawarku."
Pangeran Cilik mendorong saya untuk memikirkan kembali makna hubungan manusia. Apa yang membuat semua orang yang saya cintai itu spesial? Bukan sekadar "orang lain" belaka? Karena merekalah yang saya "dengarkan keluhnya, bualannya, atau malah kadang-kadang kebisuannya". Lihat, de Saint-Exupéry bahkan melihat pula keheningan sebagai bentuk interaksi dalam hubungan. Mencintai atau "menciptakan pertalian" adalah menikmati riuh-rendah manusia.
Suatu hari, saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Logos ID, si narasumber membedakan antara hubungan transaksional dengan hubungan relasional. Hubungan transaksional melihat orang sebagai "a thing", sedangkan yang relasional melihatnya sebagai "a being". Setiap hubungan pasti transaksional—tentu, kita semua saling mengerjakan sesuatu untuk orang lain—tapi tidak semua hubungan itu relasional. Hubungan transaksional hanyalah hubungan-hubungan pragmatis saja—bukan tindakan yang salah juga—berbeda dengan hubungan relasional yang "menciptakan pertalian". Akan ada banyak orang yang melihat kamu sebagai alat atau sarana untuk mencapai sesuatu, begitu pula kamu pada orang lain, tapi hanya segelintir orang yang akan mendengar keluhan, bualan, atau kebisuan orang-orang dengan hati terbuka.
Namun, di saat yang sama de Saint-Exupery tidak menyederhanakan sikap-sikap itu dalam kenyataannya. Ketika Pangeran Cilik mengatakan berbagai hal itu, seperti mawarnya yang ia cintai karena ia rawat, hubungannya sendiri dengan mawar awalnya sulit untuk disimpulkan. Pangeran Cilik melihat sebuah mawar indah yang tumbuh dan bicara padanya di planetnya itu sebagai bunga yang sombong. Ia meminta Pangeran Cilik untuk melayaninya, bocah itu pun merawatnya sekaligus mendengarkannya bicara angkuh dan bohong. Namun, Pangeran Cilik sendiri menyadari sesuatu, "Seharusnya aku menilainya atas dasar perbuatannya, bukan kata-katanya. la mengharumi dan menerangi diriku. Aku tidak pantas melarikan diri. Aku semestinya menebak kemesraannya di balik tipu dayanya yang kekanak-kanakan. Bunga-bunga begitu penuh kontradiksi! Tetapi waktu itu aku masih terlalu muda untuk bisa mencintainya."
Ucapan si mawar ketika Pangeran Cilik hendak meninggalkannya dengan berupaya menutup bunga itu dengan sungkup seperti yang diminta oleh si mawar untuk terlindungi dari angin sebelum berangkat juga menarik untuk diperhatikan.
"Tentu saja aku mencintaimu," ujar bunga itu. "Kau tidak mengetahuinya karena kesalahanku sendiri. Tidak apa-apalah! Tetapi kamu juga sebodoh aku. Cobalah berbahagia Biarkan sungkup itu. Aku tidak menghendakinya lagi."
Saya pikir, memang de Saint-Exupéry berusaha mengingatkan akan banyak hal. Bahwa mawar itu telah "mengharumi dan menerangi" si Pangeran Cilik, dan Pangeran Cilik merawat si mawar adalah bukti-bukti yang dapat dilihat dengan pasti, tapi yang demikian pun masih juga sering disalahpahami atau kurang dimengerti. Perasaan cinta yang dikandung keduanya, toh, bukan apa yang dikatakan—sebelum akhirnya si mawar mengatakannya sendiri. Keduanya belum tahu apa-apa saat itu, "kamu juga sebodoh aku". Maklum, saat itu, Pangeran Cilik belum bertemu dengan si rubah dan belum mendengar ia mengatakan "hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata".
Ah, betapa hebat suatu karya sastra. Seperti apa kata Seno Gumira, soal buku, yang lama pun dapat memberikan hal baru.













