A Reason to Stay Alive
Beberapa waktu belakang, ada yang nge-ask ke kak @kotak-nasi tentang buku apa yang baik dibaca oleh seseorang yang sedang mengalami depresi. Saat itu aku menganjurkan untuk membaca Reasons to Stay Alive dari Matt Haig; buku yang kutemukan ketika berusaha membantu seorang kawan dengan F.32.2. Alhamdulillah si penanya merasa terbantu juga. Jadilah muncul keinginan untuk membahas buku ini, semoga bisa lebih bermanfaat.
Dalam dunia psikiatri seseorang dikatakan mengalami depresi jika memenuhi minimal dua gejala utama (afek depresif, hilang minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah; rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja dan menurunnya aktivitas) disertai gejala lainnya (konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang) yang mana gejala-gejala tersebut menetap sekurang-kurangnya 2 minggu.
Setidaknya, satu dari lima orang yang kita temui sedang berjuang melawan depresi; mulai dari derajat ringan, sedang, hingga berat. Diperkirakan sekitar 800000 orang meninggal bunuh diri akibat depresi berat. Hingga WHO memprediksi pada tahun 2020, depresi akan menjadi penyakit dengan beban global kedua terbesar di dunia setelah penyakit jantung iskemik. So, what should we do?
Reasons to Stay Alive merupakan memorabilia dari penulis saat jatuh dan berjuang melawan depresi. Penulis membagi ‘perjalanan’ depresinya menjadi lima fase; falling-landing-rising-living-being. Ia bercerita mulai dari jatuh, mencoba menerima, bangkit, hidup, dan kembali menjadi (manusia).
Haig mendefinisikan depresi sebagai sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang meski sudah dikatakan pun, tidak mungkin tentu dapat dirasakan oleh lawan bicara. Dari luar seseorang itu terlihat utuh, tersusun dari jutaan sel, tapi di dalam mereka adalah Big Bang; ledakan di ruang hampa, menyebar melewati semesta hingga batas gelap tak hingga.
Bicara dan dengar, bicara dan dengar. Pada seseorang dengan depresi, mampu berbicara dengan orang yang dipercaya adalah sebuah langkah baik. Bahwa ia mulai menerima depresi bukan lagi sebagai hal yang memalukan, tapi adalah bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Maka dengarkanlah, jangan pernah merasa bosan.
“Where talk exists, so does hope.”
Reasons to Stay Alive disajikan dengan sederhana, ada beberapa bagian berupa self-talk (A conversation accross the time by then me and now me), dan list (Things you think during your first panick attack, Things you think during 1000 panick attack, Things that make me worse, things that (sometimes) make me better, How to live (Forty pieces of advice i feel to be helpfull but which i dont always follow, etc). Dan benar, penting bagi seseorang dengan depresi untuk mengetahui hal-hal yang membuat pikiran kacau, lebih penting lagi untuk mengenali apapun yang membuat pikiran tenang;
“Wherever you are, at any moment, try and find something beautiful. A face, a line out of a poem, the clouds out of window, some graffiti, a wind farm. Beauty cleans the mind.”
Hal menarik lainnya adalah bagian #reasonstostayalive, sebuah survey online yang dibuka Haig kepada teman-teman dengan depresi. There are sooo many reasons to stay alive, at least; find one!
“Not everyone think you are as much of a waste space as you do when in depth of depression. Trust others.”
“The uncertain future. It may cause anxiety, but it also like a book that is really hard to predict.”
“The surgeon worked so hard to give me the future that I deserved to have.”
“Fresh air. Sunny morning. Music”
“Suicide may lead to my friends and family becoming depressed, I would never wish depression on anyone.”
Terakhir, Tuhan tak mungkin berniat buruk, maka mampu menerima sesuatu itu sebagai bagian dari takdir, kurasa lebih dari cukup untuk dijadikan alasan.
Batusangkar, 19 Januari 2018
Reasons to Stay Alive, Matt Haig;
(https://play.google.com/store/books/details?id=IMB-BAAAQBAJ)















