Pria yang kupanggil, Kakek.
Di luar gerimis. Sabtu kelabu makin menjadi nyata. Aku duduk diam di sebuah sudut cafe. Merenungi sesuatu yang mengganggu hatiku semalam. Mata yang enggan tertutup, mata yang enggan merasa lelah membuatku semakin marah pada diriku. Bertanya pun tak akan menemui jawab.
Rindu, mungkin. Tapi pada siapa? Entah.
Sepagi ini, aku menemukan jawabnya. Mungkinkah rindu ini tentangmu. Tentang pria yang tak pernah akrab denganku. Yang hampir kulupakan kenangan tentangnya. Ketika hanya ada rasa kesal yang terbayang bila terlintas namanya.
Lalu, di sudut cafe ini aku termenung. Memikirkanmu yang sedang menahan rasa sakit. Aku kemudian terbayang wajahmu. Wajah tuamu yang sedang menahan sakit ketika jarum halus menusuk pelan kulit tipismu. Aku memikirkanmu.
Hujan turun lagi. Lebih deras. Aku menutup mata merapal beberapa doa yang kubisa ucap. Untukmu. Untuk kesembuhanmu.
KepadaMu Tuhan,
Aku meminta permohonan ampun untuknya. Untuk pria tua yang kusebut Kakek. Kakek yang kusayangi. Baginya, kami adalah permatanya. Yang ketika kecil, ia timang dan ajak bermain.
Tuhanku,
Kini aku adalah cucu yang beranjak dewasa. Aku memohon padaMu, cabutlah rasa sakitnya. Gantilah dengan kesehatan yang utuh. Agar ia tetap sehat dan dapat melihatku dengan balutan kebaya putih suci pada hari pernikahanku, kelak,
Tuhanku,
Lindungilah kakekku. Berikanlah kesempatan untuk sehat sekali lagi. Ijinkan kami -- aku -- cucunya, membahagiakannya.
Dan Tuhanku,
Rawatlah mereka yang merawatnya. Berikan kekuatan dan kesehatan. Entah, aku tak dapat berkata lagi. Rasa itu bukankah hanya kita yang tahu, Tuhan?
Dan pada akhirnya, aku mulai kehabisan kata. Entah. Hati menginginkan banyak kata yang tertuang, tapi jemariku berhenti menari diatas papan huruf. Biarlah. Biar doaku, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Rasa sayang, punya banyak cara untuk disampaikan.
Peluk dari jauh untukmu, Yai.
Surabaya 2013










