halo! apakabar disana? sudah lama tidak berjumpaaa~~
beberapa hari, tidak.. beberapa minggu ini.. aku bergulat dengan emosiku sendiri. karena emosi tidak pernah diajarkan di bangku sekolah, padahal dulu aku adalah anak yang lumayan penurut dalam mendengarkan ucapan guruku... beberapa sampai sekarang masih kuingat seperti nama-nama raja pada kerajaan hindu-budha, ya tapi, sayang sekali, tidak ada mata pelajaran ‘mengenal emosi’ waktu itu.
beberapa orang sangat lihai... mungkin karena melihat contoh di sekitarnya. apakah aku terdengar seperti menyalahkan takdir? maaf. maksudku bukan begitu. maksudku.. yang ingin kukatakan.. bahwa sebenarnya mempelajari emosi sejak dini akan membantu seseorang bertumbuh jadi manusia yang merdeka. mereka yang tidak akan terbelenggu oleh pikirannya sendiri.
sebuah takdir barangkali, tantanganku adalah belajar mengenal emosi. aku tidak ingat sebelum ini bahwa emosi yang aku punya adalah wajar dan perlu diterima. kemudian dikelola. tapi kau tau, bagiku ini lebih sulit daripada mengerjakan tugas kuliahku (tadinya aku mau bilang ini lebih sulit daripada mengerjakan soal matematika saat aku SD tapi tentu tidak akan relevan.. dikatakan kuliah karena seiring waktu berjalan, dirasa tidak akan menjadi mudah).
tapi ini seru.. yah kuanggap saja begitu..
kalau mau bertumbuh tentu kau akan dipertemukan dengan tantangan untuk memperbaiki dirimu bukan?
aku mungkin bisa saja tidak memperbaiki diriku, membiarkan diriku yang tidak mampu mengelola emosiku, dan ada di tempat yang aman... tapi barangkali aku tidak akan bertumbuh? barangkali aku tidak akan berubah jika berada di tempat seperti itu?
kini aku ditempatkan (oleh Allah SWT) di tempat super tidak nyaman.. yang melelahkan.. yang membuatku menangis terus-terusan... tapi bukankah tempat ini, tujuannya, adalah memperbaikiku menjadi pribadi yang lebih baik? walau menyakitkan, bukankah aku akan bertumbuh? dan lagi... bukan kah ini sesuatu yang kau minta? dulu kau minta untuk dijadikan manusia yang baik dan pantas... barangkali ini jalan untuk memnurnikanmu...
lalu, lantas kau pasti bisa? jawabannya tidak. tapi itu jawaban manusia. Allah yang berikan mu ujian sudah lebih paham bahwa kau bisa, kau punya kemampuan, kau punya sumber daya yang bisa dimanfaatkan, hingga akhirnya kau jadi lebih baik... satu langkah lagi.. satu anak tangga lagi...
walaupun di rasa hari-hari sangat gelap rasanya...
awan... dan hujan... dan orang-orang yang keterlaluan.. dan orang-orang yang tidak paham... dan orang-orang yang terlihat memiliki segala yang tidak kau punya...
kenapa kau pikir kau perhatikan itu? karena kau tidak punya dan sebenarnya kau ingin punya. misalnya, pernahkah kau memerhatikan hp bagus temanmu dan kau merasa kesal? jarang sekali, kau lebih sering tidak peduli. mengapa? karena... kau tidak ingin punya. pernahkah kau memerhatikan tubuh cantik, wajah cantik perempuan di instagram? jarang sekali, kau lebih sering tidak peduli. mengapa? karena... kau tidak ingin punya.. karena kau mensyukuri wajahmu, tubuhmu, dan tidak ingin apa-apa lagi terhadapnya.
namun mengapa kau perhatikan cara orang mengemukakan pendapat mereka dengan lancar dan santai? mengapa kau perhatikan cara orang bicara? cara orang mengekspresikan diri mereka? karena kau belum punya caranya. dan kau ingin punya. sebab kau juga punya sesuatu yang ingin dikeluarkan tapi kau belum tau caranya.
disini. saat menulis ini. akupun masih kebingungan. awan hitam, hujan, dan sebagainya.. ya aku masih disana. tapi kali ini... aku bisa tersenyum sedikit sambil kehujanan. karena aku mulai mengerti maksudnya. jika aku ingin semua ini berakhir pilihannya adalah berubah jadi lebih baik... bukannya aku tidak menerima diri sendiri.. tapi buktinya, selama ini akupun masih tersiksa karena belum bisa mengelola emosiku (tapi tidak ada orang yang tau karena aku memasukannya dalam botol). maka jika aku berdiam, dan terus seperti ini, bukankah berarti aku tidak peduli pada diriku sendiri? dan membiarkannya menderita selamanya? padahal saat ini ada kesempatan baik untuk berubah? justru dengan berubah, mengenal emosiku, aku mencintai diriku sendiri.
mungkin tulisanku memunculkan pertanyaan: bagaimana mungkin ini dijadikan sebuah pertengkaran antara mencintai diri sendiri atau menyakiti diri sendiri?
jawabanku: karena sesulit itu. karena... aku menangis setiap hari. apakah itu wajar? apakah air mataku akan cukup? karena sesulit itu... kali ini pun aku sebenarnya ingin lari... aku ingin pergi... aku ingin dipeluk erat oleh orang-orang yang paham... tidak... aku ingin mendekat padaNya saja. aku ingin merayuNya untuk memberi tahuku bagaimana caranya melalui semua ini... tentu Dia tau soal dan kunci jawabannya.
bahkan ini aku tulis sambil menyeka pipi, menyedot air mata yang turut turun dari hidung :))) ini menjadi agak lucu.
tapi aku tidak akan kalah dari soal-soal ujian itu. yah boleh saja mereka buat aku menangis... tapi aku akan duduk di kursi sampai aku selesaikan soalnya, entah dengan jawaban apa (bisa jadi permintaan maaf kepada Yang Membuat Soal karena jawabanku tidak cukup benar) seperti yang aku lakukan pada setiap ujian. dan setelah kuingat-ingat aku baik dalam ujian. aku paling berkonsentrasi pada ujian. dan... yah.... jujur saja, aku menyukai ujian dan adrenalin yang aku dapatkan di dalamnya.
nanti tiba saatnya aku keluar dari ruang ujian.
dengan perasaan lega. atas apapun hasilnya. karena aku sudah bersungguh-sungguh di dalam.
aku menangis. tapi sambil tersenyum sekarang.