Resiprokal
Kenyataan bahwa manusia tidak bersifat substitutif adalah hal yang kupercayai sejak lama.
Seiring berjalannya waktu, kehadiran yang awalnya cuma satu kutangkap di rahim ibu, menjalar dan bercabang menuju kehadiran-kehadiran lainnya. Entah berapa pasang mata, berapa jenis suara, dan berapa rasa yang telah kutemui. Tidak seorangpun sanggup menakar kuantitasnya.
Dari sekian kehadiran yang ada, tak semuanya menjalin dan mengikat. Dari sekian yang menjalin dan mengikat, tak semuanya berhasil menembus seleksi alam. Kau tahu, aku tidak pernah bermaksud membuat ini terkesan seperti kompetisi. Tapi antara kehadiran dan harmoni, ada jurang besar yang tidak sederhana untuk dilewati.
Ini bukan semudah kau membuatku tertawa atau aku menyediakan telinga. Bukan seringan menarik tanganmu kala kau buta arah. Bukan serapi sistematika menjungkat-jungkit saat ada salah satu dari kita marah dan merasa tinggi lalu satunya lagi langsung mengalah begitu saja tanpa perlu diminta.
Ada mekanisme tertentu yang diselenggarakan dalam rangka saling jaga. Kau lihat, benda sebesar matahari dan seremeh zarah pun punya tata kelola yang serba rapi. Semuanya bertahan karena interaksi, yang jelas-jelas tidak dilakukan sendiri. Dari seluruh percakapan dan pengalaman bersama, kupunyai sebuah proyeksi tentang aku, kau dan semua orang, begitu pula sebaliknya.
Mengapa hanya proyeksi? Karena sebagaimanapun lihainya kita untuk mencairkan rahasia, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar mengetahui satu sama lain secara akurat.
Sayangnya, kita memuja bayangan tentang orang yang ada dalam kepala kita dan menganggapnya kebenaran hakiki. Sampai ternyata, alur mendadak ganti haluan dan semua tidak lagi seperti apa yang mulanya dikira. Bisa jadi aku tidak sebaik yang kaukira. Bisa jadi kau tidak sejahat yang kukira. Atau barangkali kita….. tidak seindah yang kita kira.
Kemudian, mekanisme itu kian lama kian tak berguna. Ada hal yang entah mengapa tidak lagi dirasa tepat dan tak lagi bekerja. Perbincangan yang dulunya bergerak secara timbal balik berangsur-angsur menjelma monolog dua arah. Akan ada pesan-pesan yang tak terkirim, salah tafsir, atau tak lagi bisa diterjemahkan. Kini kupahami mengapa semua teori punya batas, mengapa semua sejarah dunia punya titik balik, dan mengapa semua dongeng punya klimaks yang disebut-sebut sebagai bagian paling krusial di atas segalanya.
Antara kita, ada sesuatu yang menjadi pembatas sekaligus bom waktu. Sesuatu itu telah terjadi di luar kuasa kita, namun kita tak henti mencoba atas nama perjuangan yang mustahil sia-sia.
“Semuanya akan jauh lebih mudah saat semua orang saling mengerti. Masalahnya, saat kita mengerti, belum tentu yang bersangkutan balik mengerti.”
“Memangnya kita mengerti untuk dimengerti, ya?”
“Lalu kalau aku mengerti, tapi kamu tidak. Siapa yang harus mengerti?”
“Mungkin aku yang harus mengerti bahwa aku tidak akan sanggup mengerti walau sekuat apapun telah mencoba.”
“Atau aku yang harus mengerti bahwa kau tidak bisa mengerti.”
Asingnya aku dan usangnya engkau seharusnya menjadi transaksi yang dibayar impas. Akhirnya, kita berakhir sebagai ingatan semata. Dan karenamu, aku baru mengerti bahwa ada beberapa ingatan di dunia ini yang dapat kubenci sekaligus kusyukuri dalam saat yang sama. Engkau adalah salah satunya.
Bersama kepasrahan dan rasa sakit yang entah mengapa justru menuai damai, temali itu kelak putus.
Dan saat itu terjadi, kuharap aku, kau, dan kita semua, tidak perlu merasa tergantikan.







