Momen Wisuda PKBM Paket A Mas S
Kupikir hari ini aku tak akan menangis. Karena tanganku akan penuh membopong dua balita, dan pikiranku akan sibuk memastikan mereka tak rewel di tengah formalitas wisuda.
Namun ternyata, air mataku tetap meleleh.
Pertama, ketika pembacaan ayat Qur'an yang memuat do'a Nabi Sulaiman.
Perpisahan sering membuat seseorang menoleh ke belakang dan melihat begitu banyak nikmat, yang telah mengantarkannya sampai di titik tersebut. Pada saat yang sama, momen perpisahan juga menjadi sebuah titik mengawali harapan.
Doa Nabi Sulaiman tersebut tidak berpusat pada pencapaian, melainkan pada hal-hal yang pada akhirnya paling berarti: mensyukuri nikmat yang telah diterima, menghormati jasa orang tua, memohon kemampuan untuk beramal shalih, memohon kebaikan generasi penerus, serta kembali kepada Allah dengan taubat dan penghambaan.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku pada keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al-Ahqaf: 15)
Kedua, ketika diingatkan tentang tujuan utama pendidikan.
Sejatinya, tujuan utama pendidikan bukanlah predikat lulus, nilai yang bagus, atau masuk sekolah bergengsi. Yang terpenting adalah apakah ilmu yang diterima bermanfaat bagi akhiratnya. Apakah ilmu tersebut akan membantunya meraih surga?
Yang disebut ilmu bukanlah apa yang berhasil dihafal, bukan pula sekadar apa yang diterima, melainkan apa yang benar-benar bermanfaat.
Jujur, pada momen ini aku banyak merenungi diriku sendiri.
Ingatanku melayang pada masa ketika anak yang akan wisuda hari ini masih sangat belia. Mas S saat itu terlalu kecil untuk mengerti bagaimana ia harus ikut dibawa mengumpulkan data di sebuah desa di selatan Jogja saat usianya masih hitungan bulan; bagaimana ia ditimang dan disusui di depan laptop; serta bagaimana ia dibawa melintasi benua untuk menemani perjuangan mempertahankan sebuah tesis.
Kuharap kelak Mas S akan memahami bahwa jika seseorang bisa begitu ambisius mengejar ilmu dunia, maka sudah semestinya seorang muslim lebih ambisius lagi dalam menuntut ilmu agama yang jelas akan menjamin kebahagiaan hidupnya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Allahumma inni a‘ūdzu bika min ‘ilmin lā yanfa‘u, wa min qalbin lā yakhsya‘u, wa min nafsin lā tasyba‘u, wa min da‘watin lā yustajābu lahā.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas (serakah), dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Abu Dawud)
Ketiga, ketika dibawakan kisah tentang Ummu Ayman.
Setelah wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab mengunjunginya sebagaimana dahulu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sering mengunjunginya. Ketika mereka mendapati Ummu Ayman menangis, keduanya bertanya, “Mengapa engkau menangis? Bukankah apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?”
Ummu Ayman menjawab bahwa ia tidak menangis karena perpisahan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, melainkan karena wahyu dari langit telah terputus dengan wafatnya beliau. Mendengar jawaban itu, Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis bersamanya.
Kisah itu mengisyaratkan bahwa kesedihan yang dirasakan bukan semata-mata karena perpisahan. Sebagaimana Ummu Ayman menangisi terputusnya wahyu, kami pun merasa sedih saat membayangkan tidak lagi mendengar suara anak-anak bertilawah, menyetorkan hafalan, dan menghidupkan hari-hari di sekolah maupun di rumah dengan lantunan kalamullah.
Ya Allah, aku sungguh menangis karena ternyata perjalanan membersamai anakku begitu singkat. Sebentar sekali.
Rasanya baru kemarin aku menggendongnya ke mana-mana, menyesuaikan ritme hidup dengan kehadirannya, menjawab pertanyaan demi pertanyaan, mengajarkan ini dan itu, mengulang nasihat yang sama berkali-kali. Hari-hari itu dahulu terasa panjang. Ada kalanya melelahkan. Ada saatnya aku merasa frustasi dan hilang kesabaran. Ada kalanya membuatku berharap waktu berjalan lebih cepat. Astaghfirullah...
Namun hari ini aku menyadari bahwa justru hari-hari itulah yang akan paling kurindukan.
Saat merasa lelah mengurus dan mendidik mereka, kita menganggap itu sebagai ujian. Namun ketika mereka tak lagi menyibukkan hari-hari kita, barulah kita tersadar bahwa mereka adalah nikmat yang Allah hadirkan. Dan nikmat itu, sebagaimana seluruh nikmat di dunia, tidak akan menetap selamanya.
Hari ini aku belajar bahwa setiap fase memiliki keindahannya sendiri. Tidak ada masa yang perlu disegerakan berlalu. Tidak ada pelukan yang terlalu lama. Tidak ada suara-suara kecil yang seharusnya dianggap mengganggu. Sebab suatu hari nanti, semua itu akan berubah menjadi kenangan yang sangat ingin kita dengar sekali lagi.
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimush shalihat...
Semoga kelak ketika ia melangkah lebih jauh meninggalkan rumah, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang pendidikan yang telah ia tempuh, tetapi juga bekal ilmu yang menjaga dirinya, ilmu yang bermanfaat yang menjadi bashirah, serta amal shalih yang terus mengalir hingga mempertemukan kami kembali di surga-Nya.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ
Allahumma innī a‘ūdzu bika min zawāli ni‘matika, wa taḥawwuli ‘āfiyatika, wa fujā`ati niqmatika, wa jamī‘i sakhaṭika.
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksaan-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu." (HR. Muslim)
Ciputat, 15 Juni 2026













