Pelatihan Teman Sebaya SEPERLIMA – Pamflet
Wisma Hijau, Cimanggis (23/11/2013). Puluhan Anak Muda dari empat SMA di Jakarta dan Indramayu berkumpul untuk menghadiri Pelatihan Teman Sebaya (Peer Educator Training) Seputar Kesehatan Reproduksi dan Hak-Hak Seksualitas (SEPERLIMA). Selama tiga hari, para peserta terlihat antusias mengikuti tema-tema yang biasanya baru kita dapatkan di bangku perkuliahan, namun kali ini dikemas secara ringan dan dalam format visual yang menarik—dan dengan pilihan bahasa yang cocok dengan pelajar SMA.
Hari pertama Pelatihan, teman-teman muda diajak untuk memahami dasar-dasar Analisis Sosial melalui permaian ‘Star Power Game’. Pada sesi ini, para fasilitator membagikan secarik kertas berisi berbagai peran dan profesi di masyarakat, beserta keragaman gender dan tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan kepada masing-masing peserta. Ada yang berperan menjadi Buruh Migran, PSK, pegawai periklanan, menteri komunikasi,model, Anggota DPR, dan lain-lain.
Setiap peranan, setiap posisi gender, setiap status pendidikan, setiap asset yang dimiliki akan mendapatkan skor tertentu. Beberapa posisi akan dikurangi (misal: gay, atau perempuan, difabel, dan pendidikan rendah hanya akan dikurangi skornya 2, dan hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian refleksi). Dalam permainan Analisis Sosial dasar ini, peserta diminta untuk melakukan transaksi jual-beri skor/poin yang dapat dipertukarkan. Pemiliki poin yang lebih besar (mereka dengan peran status sosial lebih tinggi) dapat memberikan/menyumbangkannya kepada mereka yang memiliki poin lebih kecil. Atau, pemilik skor lebih kecil dapat membeli penambahan nilai mereka (entah itu melalui status pendidikan, maupun kepemilikan properti) dari toko nilai.
Para Fasilitator memerankan beberapa posisi yang menimbulkan 'polemik' di tengah permainan Star Power Game
Star Power Game menggambarkan berbagai peranan, institusi, relasi kuasa, kepemilikan, serta relasi kuasa yang terjadi di antaranya
Setiap pertukaran nilai ini harus disahkan oleh Notaris, dan dalam permainan ini terdapat Notaris Publik (dan secara sengaja digambarkan seperti kondisi birokrasi di Indonesia: banyak istirahat, beserta Notaris Privat).
Menarik mencermati beberapa komentar peserta pelatihan pada saat sesi refleksi, sebelum tabulasi skor putaran terakhir dilakukan:
“Kita harus dapat mengenali hak-hak tertentu kita. Mereka yang jabatannya rendah harus berupaya untuk poinnya nambah. Game ini memberi tahu mengenai cara kita memanage sesuatu.”
“Permainan ini mengajarkan kita untuk menjadi pekerja keras, semangat tinggi, dan jangan jadi egois. Untuk tidak terus melihat ke atas, tapi ke bawah juga—melihat orang-orang di sekitar kita.”
Sebagai bagian dari alur ‘skenario’ simulasi, fasilitator hanya memperbolehkan peserta dengan jumlah skor 20 ke atas yang dapat mengambil coffee break. Di sesi refleksi, hal ini dibicarakan kembali. Rumah Sakit: kalau ingin masuk ke RS yang lebih bagus, ia harus bayar mahal dan harus DP untuk didahulukan. Dan banyak lagi.
Para peserta merefleksikan apa yang mereka lalui dalam permainan ini
Tadi kalian dikasih mengenai pendidikan yang harus disediakan oleh Negara. Sementara itu, hak-hak itu kan semestinya dijamin oleh Negara. Ada yang mau komentar soal kelakuan Notaris?
Notaris kan dibayar Negara, semestinya dia melayani Masyarakat, bukan break kopi mulu.
Peserta menyatakan pada akhirnya mereka lebih memilih untuk pergi ke Notaris Swasta dibandingkan ke Notaris Publik, karena Fasilitator yang ‘berakting’ sebagai Notaris Publik selalu mencantumkan tanda “Istirahat” dan “tutup” di tengah-tengah tugasnya.
Maulidya Raviola (Moli) sebagai Fasilitator kemudian meminta peserta untuk mengingat pengalaman masing-masing peserta terkait pengalaman mereka terhadap segala persoalan menyangkut Administrasi Publik. “Kalian pernah ngantri bikin passport atau KTP? Gimana petugas birokrasinya? Lambat, apa-apa Harus bayar biar cepat. Padahal pegawai publik harusnya bekerja untuk melayani publik.”
Jenggot, fasilitator, membantu para peserta untuk berefleksi “Di luar itu unsur semacam gaji dan perlakuan atasan. Siapa tahu mereka bekerja tidak maksimal karena itu semua. Padahal semuanya bisa diperbaiki. Ini menjadi tugas kita untuk melihat, dan mengusulkan apa yang dapat dilakukan Pemerintah. Sayangnya tadi nggak ada saran dari kalian untuk bilang, ‘coba jam istirahatnya jangan panjang-panjang.”
“Ada yang ingat mengenai ‘Kontrak Sosial’ dalam pelajaran PKN?” papar Maulidya, Fasilitator lainnya. “Kontrak yang disusun antara Warga Negara dan Negaranya adalah mereka bersedia menaati aturan, asalkan Negara menjamin hak-hak mereka, kan? Contoh dalam permainan ini adalah Notaris. Untuk mewujudkan suatu Negara yang baik, keterlibatan masyarakat juga diperlukan” imbuhnya.
Ditambahkan oleh Ninies sebagai Fasilitator lain hari itu, “Permainan ini merupakan gambaran mikro kehidupan sosial kita. Gambaran besarnya juga mencerminkan bagaimana sekalipun pemerintah sudah menetapkan UU HAM, kelayakan hidup banyak orang masih belum dipengaruhi. Masih banyak kekerasan kebebasan beragama yang terjadi. Padahal kita sudah punya UU HAM. Kita bisa lihat dalam proses bernegara, apa yang harus ditagih dan dikoreksi” demikian konklusinya. “Ketika kita diam atau nggak mengusulkan, gimana Pemerintah bisa tahu. Itulah mengapa butuh tekanan masyarakat agar mereka berubah. Dan kita nggak boleh diam saja kalau melihat ada hal yang nggak berjalan sebagaimana mestinya” tambahnya.
Pada Sesi kedua, Mas Irwan M. Hidayana dari Pusat Gender dan Seksualitas (PusKaGenSeks) Universitas Indonesia berbagi mengenai apa itu Seks, Gender, dan Seksualitas. Mas Irwan meminta teman-teman berdiri dan berpencar mencari pasangan, dari sekolah yang berbeda-beda. Ia meminta peserta berdiskusi mengenai kapan pertama kali mereka mendengar kata Seks dan apa maknanya. Berikut respon peserta saat diminta untuk menceritakan kembali interaksinya:
Nadia: “Aku pertama kenal seks kelas 4 SD, tapi waktu itu ML. Aku nggak terlalu kepo sampai kelas 6 SD.”
Iko Anggara, Indramayu: “kelas 6 SD, ngerti tentang seks waktu kelas 1 SMP dan rasanya biasa-biasa aja sih. Kapan pertama kali bertanya tentang seks? Kelas 1 SMP. Setelah lebih jauh saya baru tahu kalau seks adalah jenis kelamin.”
Siti Nurhayati, Indramayu: “Kelas 6 SD dari film. Usia 12, yang saya rasakan belum terlalu kepo dan mau tahu jauh. Kapan pertama kali bertanya tentang seks: kelas 3 SMP, saat pertama kali belajar tentang Reproduksi, dan dikasih tahu Cuma sangat umum dan di depan kelas.”
Adis, Indramayu: “Pertama bingung, tapi kan suka gossip, terus dikasih tahu deh. Biasanya dari anak laki-laki ke perempuan. Kalau soal kapan pertama kali bertanya… Aku nggak nanya, soalnya Mamah memberitahu gimana bersikap terhadap laki-laki, dan menjaga diri.”
Sebagai studi kasus, pembicara menyajikan cerita Brenda (Blues) and Brian. Brenda harus beberapa kali mengubah alat kelamin –dan gendernya, karena adanya kesalahan penyunatan.
Penjelasan tentang gender dari pembicara adalah ekspektasi masyarakat terhadap peran dari sebuah jenis kelamin tertentu. Bisa jadi manusia memilih untuk menjadi maskulin karena anggapan masyarakat bahwa menjadi maskulin lebih istimewa. Salah satu peserta bertanya tentang fenomena laki-laki yang hamil apakah termasuk interseks? Untuk jadi hamil, perlu ada pertemuan antara sel telur dan sperma. Sekarang, dengan ilmu kedokteran, hadirlah teknologi bayi tabung. Mungkin saja terjadi hal demikian, jika dilihat dengan logika.
Gender berasal dari kata Generare (latin) yang artinya be the cause of. Awalnya gender digunakan untuk istilah linguistik, tapi sejak tahun 70an mengacu pada peran dan status yang dikonstruksikan secara sosial. Perbedaan peran sosial, perbedaan relasi sosial. Contohnya adalah baju yang berbeda modelnya antara laki-laki dan perempuan, pekerjaan;sekretaris dan supir. Gender mencakup anatomi, gerak tubuh, pakaian, kepribadian, pekerjaan, ketertarikan seksual.
Pembicara mempersilakan peserta untuk bertanya dalam sesi Tanya jawab. Peserta bertanya apakah gender mempengaruhi pemikiran seseorang? Hubungannya dengan budaya patriarki, kondisi dalam sebuah masyarakat yang posisi laki-lakinya dominan terhadap perempuan. Buka gender semata yang mempengaruhi pemikiran seseorang.
Seksualitas, paling tidak memiliki 5 dimensi, yakni sensualitas, keintiman, kesehatan seksual dan reproduksi, orientasi seksual dan identitas gender, dan perilaku atau praktik seksual. Sensualitas berarti kesadaran dan perasaan terhadap tubuh sendiri dan tubuh orang lain, khususnya tubuh pasangan seksual. Sensualitas membuat kita nyaman dan merasakan kenikmatan akan tubuh kita. Keintiman berarti kemampuan dan kebutuhan untuk merasa dekat kepada orang lain. Orientasi Seksual berarti ketertarikan secara fisik dan erotik terhadap seks yang sama (homoseksual), berbeda (heteroseksual), dan keduanya (biseksual). Identitas gender berarti perasaan internal seserag sebagai perempuan atau laki-laki, yang bisa tidak sesuai dengan jenis kelamin yang dipeoleh sejak lahir. Perilaku dan praktik seksual berarti siapa melakukan apa terhadap bagian-bagian tubuhnya dan/atau pasangannya. Kesehatan seksual dan reproduksi berarti kemampuan seseorang bereproduksi, dan perilaku dan sikap yang mendukung kesehatan dan kenikmatan seksual.
Sesi Tanya jawab kembali dibuka oleh pembicara. Seorang peserta bertanya tentang temannya yang satu hari bisa 5 kali melakukan onani. Apakah hal tersebut normal? Bisa jadi ada kesalahan informasi. Hal tersebut bisa memberikan pengaruh pada kesehatan seksual. Ini adalah tugas kita untuk memberikan informasi yang tepat bagi mereka.
Pertanyaan selanjutnya dari peserta adalah tentang temannya yang awalnya tidak sadar, dia pernah diberi obat tidur. Setelah sadar, dia menemukan bercak darah pada vaginanya. Apakah hal tersebut berbahaya? Karena kemungkinan hal tersebut, perempuan harus mengenal tubuh. Dengan mengenal tubuh, akan mengetahui gejala-gejala yang terjadi pada organ reproduksi. Terlihatnya bercak darah pada vagina belum tentu selaput dara yang sobek atau terjadi penetrasi. Namun, budaya kita yakin bahwa dengan adanya bercak darah adalah lambing hilangnya keperawanan seeorang.
Interseksualitas menjadi salah satu penekanan dalam materi yang dibawakan, serta bagaimana paradigma sifat seksualitas yang cair dan dapat dipertukarkan telah menjadi pembuka jalan untuk mendefinisikan ulang peranan gender yang selama ini mengotak-kotakkan perempuan dan laki-laki, yang pada akhirnya mendorong kepada tatanan yang tidak seimbang.
Sesi berikutnya bertajuk “Dinamika Anak Muda” dengan pembicaraAquino Hayunta. Sesi dibuka dengan pertanyaan dari pembicara. Pertanyaannya adalah apa perbedaan anak muda dan orang tua? Peserta menjawab dengan jawaban yang beragam, seperti pola pikir, orang dewasa berpikir jauh ke depan, sikap, emosi, tanggungan, uang, masalah lebih berat orang tua, jati diri,kepentingan, tanggung jawab, kebebasan, kekuasaan, anak muda belum terjebak pada struktur tertentu.
Selanjutnya, peserta menulis 1 kata ciri-ciri anak muda dan masalah khas anak muda di kertas dan menempelnya di dinding. Kemudian, pembicara menyimpulkan beberapa ciri khas anak muda, yaitu bersemangat, mmpunyai cita-cita. Selain ciri-ciri, masalah anak muda seperti galau, malas, emosional, labil, seks bebas, kurang komitmen juga disimpulkan oleh pembicara.
Menurut pembicara, ada tiga jenis kesadaran yang melanda anak muda sekarang, yaitu permasalahan magis –semua terjadi di luar kehendak, kesadaran naïf –ada masalah di dalam dirinya, kesadaran kritis –ada masalah dalam sistem sosial. Dengan melihat adanya masalah sosial di sekitar kita, masalah lain yang bersifat personal seperti galau akan terlihat kecil.
Seorang peserta bertanya dengan cerita, ada permasalahan yang didukung oleh diri sendiri dan lingkungan. Faktor lingkungannya tidak baik, karena diisi oleh para pemabuk. Orang tuanya tidak mendukung pendidikan, padahal pendidikan sangat dijunjung tinggi oleh si anak. Jawaban dari pembicara adalah tidak adil kalau seluruh tanggung jawab hanya dituntut pada si anak. Pemerintah, termasuk RT, RW, Camat, dll di dalamnya harus memastikan satu lingkungan kondusif untuk hidup. Sebagai individe, manusia selalu memiliki pilihan; keluar dari lingkungan itu atau mencari cara kreatif untuk mengubah keadaan –aktivisme.
Diskusi dalam sesi dinamika anak muda berlanjut membicarakan tentang kekerasan. Pembicara kembali melempar pertanyaan kepada peserta, siapa yang pernah mengalami kekerasan? Seorang peserta menjawab bahwa ia pernah menjadi korban bullying. Diludahi oleh teman saya sewaktu SD.
Setelah membicarakan tentang kekerasan, beberapa peserta diminta menjadi penjaga warung yang sudah disediakan. Masing-masing peserta berkesempatan untuk datang ke salah satu warung untuk bercerita tentang pengalamannya yang pernah mengalami kekerasan. Penjaga warung menceritakan kembali kekerasan yang dilaporkan ke warungnya kepada pembicara.
- Kekerasan seksual: dipegang pantat di tempat umum, dicubit payudara, alat kelamin.
- Kekerasan orang tua: ditendang, dipukul dengan sapu, ditampar, dicambuk, dicubit sampai biru, dikunci di kamar mandi.
- Kekerasan Dalam Pacaran: dilarang menggunakan jejaring sosial, ditampar, dll
- Kekerasan teman sebaya: dijauhi, dikucilkan, dijenggut, diancam, dibohongi berkali-kali, dicemburui, dipukul, digunting tangannya.
- Kekerasan lain-lain: digigit, dijitak, ditampol, ditendang orang gila, ditodong, diteror, diseret,
- Kekerasan senioritas: ditatar, dipalak, dimusuhi, dilaporin ke BK, disuruh senyum, disuruh hormat, disuruh seri, kerja paksa
Kesimpulan dari simulasi tersebut adalah bahwa kekerasan memang kadang tidak dapat dengan mudah diungkapkan. Pelaku kekerasan banyak yang berada di sekitar kita seperti teman, orang tua, kakak kelas, pacar, dan lain-lain.
Pembicara mengajak peserta untuk bermain games. Seorang peserta diminta untuk mengambil sepatu yang diletakkan di tengah-tengah lingkaran yang dibuat oleh 5 orang peserta lainnya, dengan cara apapun. Sebelumnya, kelompok pembuat lingkaran harus menghalangi pengambil sepatu, keculai jika mengucapkan permisi. Pesan moral dari games tersebut adalah bahwa kekerasan dapat terjadi karena tidak ada komunikasi.
Sesi berlanjut kepada penjelasan tentang macam-macam kekerasan. Kekerasan terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:
- Kekerasan psikologis. Kekerasan yang efeknya bersifat psikologis, mislnya kekerasan yang dilakukan oleh pacar dengan tujuan merendahkan.
- Kekerasan Fisik. Kekerasan yang bersifat fisik, misalnya memukul, menjambak, menggigit.
- Kekerasa Struktural. Kekerasan yang berada dalam situasi/kondisi yang mmebuat kita untuk melakukan kekerasan. Misalnya ospek yang menggunakan kekerasan, stereotyping, pelecehan terhadap perempuan karena perempuan dianggap makhluk yang lemah dan merupakan objek seks.
Tidak hanya macamnya, kekerasan juga memiliki beberapa tingkatan, yaitu:
- Penggolongan: mengklasifikasikan seseorang atau sekelompok orang dalam golongan yang lebih buruk.
- Simbolisasi: Menjadikan sebuah simbol menjadi karakter tertentu oleh seseorang atau sekelompok orang secara umum.
- Dehumanisasi: menganggap seseorang atau sekelompok orang tidak sebagai manusia.
- Kekerasan: Jika kita sudah mulai menggolongkan, berarti kita sudah mulai melakukan kekerasan.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik/kekerasan:
Di akhir sesi, pembicara menyimpulkan kepada peserta agar jangan percaya bahwa kekerasan adalah ciri khas anak muda. Anak muda memang banyak dijadikan alat untuk melakukan kekerasan, namun bukan menjadi sumber mutlak kekerasan.
Sesi ditutup dengan tanya jawab. Seorang peserta bertanya tentang temannya yang punya pacar, tapi pacarnya cemburuan sampai harus berbohong mengganti nama kontak di telepon genggamnya. Apakah ini termasuk kekerasan? Menurut pembicara, ini termasuk kekerasan, karena posesif berlebihan. Apalagi belum menikah. Seorang peserta lainnya menambahkan bahwa kasus seperti ini namanya crazy lover.
Pertanyaan lain dari peserta adalah tentang temannya yang dipaksa berhubungan seksual, tapi pihak perempuan mau. Tapi teman-temannya melarang. Harus bagaimana? Kalau dilecehkan, perhatikan kedua belah pihak. Kalau keduanya mau, berarti itu bukan pelecehan.
Di hari berikutnya, Afra Suci Ramadhan, Koordinator Umum Pamflet, berbagi seputar Prinsip dan Hak-Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas remaja yang disahkan dalam ICPD (International Conference on Population and Development). Ia berbagi ilustrasi ‘Genderbread v2.0’ mengenai kecairan sifat gender, dan identitas yang dapat dipertukarkan. Identitas gender adalah bagaimana kita mengidentifikasi diri kita, sementara Ekspresi Gender dapat berupa agender, maskulin feminine, butch, femme, androgimus, maupun gender netral. Sementara Seks Biologis mengacu kepada organ-organ yang dapat diidentifikasi, baik itu hormon, kromosom pada tubuh perempuan (female), interseks (intersex), dan laki-laki (male). Karena perkembangan teknologi medis terkini, pertukaran seks biologis sudah dapat dilakukan—semacam Bunda Dorce yang melakukan operasi alat kelamin. Sementara Orientasi Seksual terdiri dari heteroseksual, biseksual, dan homoseksual.
Sesi berikutnya diisi oleh Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psi. mengenai hubungan interpersonal. M'bak Gisella bekerja di Klinik Pulih, dan juga pengajar di Universitas Pancasila. Ia mengajukan pertanyaan penting di awal sesi: “Who am I?” dan meminta peserta melakukan penilain terhadap diri, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Komunikasi efektif, papar Gisella, adalah hal-hal yang bisa kita lakukan sebagai Peer Educators untuk mengirimkan pesan secara efektif. ”Kita perlu tahu bias apa yang terjadi di masyarakat saat teman-teman akan menyampaikan materi mengenai KSHR, tidak perlu ngotot, kata Gisel.” Peer Educators harus memiliki kemampuan berempati—kemampuan merasakan emosi orang lain. Simpati berada di luar, sementara empati berasal dari dalam dan melibatkan tindakan (bukan semata-mata ekspresi). Salah satunya: memberikan informasi yang spesifik, bahasa veral dan non-verbal yang tepat, menggunakan beragam pilihan kata & bahasa tubuh.
Kemampuan lain yang harus dimiliki seorang pelatih sebaya adalah menjadi pendengar yang baik. Supaya lawan bicara kita merasa didengarkan, kontak mata, respon verbal & non verbal, mengulang pernyataan—adalah beberapa teknik yang dapat dipraktikkan. Bayangkan, gimana perasaan lawan bicara kita kalau belum-belum kita sudah 'nembak' dengan pernyataan "Lo lagi depresi, ya?" dlm percakapan. Kalau ingin melakukan sesuatu, pikirkanlah secara reverse atau terbalik. Tidak perlu menilai, cukup menyatakan kembali yang disampaikannya. Beberapa tips praktis ketika menghadapi teman yang curhat: dengar pesan utama, sampaikan kembali simpulan/inti pesan, cek ricek jika tidak jelas.
Sesi berikutnya diampu oleh Aida dari Rahima dengan tema "Kontroversi dan Isu-Isu Sensitif dalam Kesehatan Reproduksi &Seksualitas.” Secara harfiah, aborsi berasal dari kata abortus, yang artinya mati. Faktor penyebab Aborsi: kegagalan negosiasi seksual, media & internet, kegagalan komunikasi, dan kegagalan kontrasepsi. Ada dua istilah KTD: 1. Kehamilan Tidak Diinginkan (terjadi pada kondisi belum menikah) dan 2. Kehamilan Tidak Direncanakan (sudah menikah).
Dalam Agama Protestan, tidak ada liturgi yang secara khusus bicara soal Aborsi. Beberapa pendetanya memperbolehkan dengan alasan tertentu. Sementara di agama Katolik tidak diperbolehkan. Aida memberikan kertas yang berisi narasi dengan berbagai topik. Peserta diminta memberi kata kunci yang ditemukan.
Pemateri berikutnya adalah M'bak Martha (Ocha) dari Centra Mitra Muda (CMM) PKBI dengan materi "Menjadi Peer Educator." Keberadaan Peer Educator (Pendidik Sebaya) bertujuan untuk mempermudah penyebaran informasi, penjangkauan teman sebaya, serta akselerasi penyampaian informasi. Mereka adalah individu-individu yang memiliki kemauan, komitmen, keterampilan, mau diajak berdiskusi, serta mendengar. Pendidik sebaya tidak boleh 'sok tahu' dan perlu menguasai materi dan metode. Seorang pendidik sebaya juga perlu memiliki keterampilan untuk mempermudah transfer informasi kepada temannya, kata Martha. Ada kesamaan bahasa informasi, memberikan pengetahuan, serta memberikan pengaruh sikap dan perilaku.
Yang perlu dihindari saat menjadi pendidik sebaya adalah sikap-sikap semacam instruksi yang tidak jelas, egoisme, mudah curiga, sok tahu, dan merasa paling benar sendiri hingga tak mau belajar lebih jauh, menganggap rendah orang lain. Percaya Diri itu poin penting, supaya kita bisa rileks saat berbagi, mudah mencari solusi, kesetaraan/tidak menggurui, serta terbuka pada siapa saja.
Kreatif itu nomer satu, lalu focus terhadap tujuan yang ingin diraih. Untuk mendapatkan keduanya, perencanaan penting dilakukan. "Menjadi pendidik sebaya tidak boleh sok tahu" kata Martha. “Gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan, yang paling penting: menjadi diri sendiri!” Kata Martha.
Di akhir sesi dilakukan presentasi kelompok dan perwakilan setiap kelompok berlatih untuk menyampaikan informasi yang tepat dengan cara efektif di depan teman-temannya. Senang sekali mendapati salah satu peserta yang dengan malu-malu berseru “Because Life is a Choice…” di akhir presentasi mereka.