"Dia adalah buah hatiku yang paling kukasihi ya Allah"
Khutbah Idul Adha 1 Dzulhijjah 1445 H Masjid Al Furqan, Gunung Putri, Bogor
Di hari raya ini, kita memohon kepada Allah untuk terus berusaha senantiasa melaksanakan semua perintah Allah, dan berusaha seoptimal mungkin meninggalkan seluruh larangan Allah.
Setiap bulan Dzulhijjah setidaknya ada 2 momen penting, 1. Yang pertama adalah ibadah haji Kita doakan semua yang sedang beribadah haji, semoga amalannya diterima Allah dan pulang dengan selamat dan sehat, serta diberikan rizki oleh Allah dengan haji yang mabrur
2. Yang kedua adalah ibadah qurban ((Versi mengapa Nabi Ibrahim diminta oleh Allah menyembelih anaknya (Nabi Ismail) ada banyak, tetapi ada salah satu versi yaitu versi dari kitab Al Hikam yang ditulis oleh Syeikh Ibnu Atha'illah).
Paling, Kata yang Menggetarkan 'Arys-Nya
Syeikh Ibnu 'Athaillah, beliau adalah imam besar. Dalam salah satu kitabnya yaitu al Hikam diterangkan bahwa suatu hari Nabi Ibrahim pernah terbersit dalam hatinya, beliau merasa beliau adalah makhluk Allah yang paling berbelas kasih terhadap sesamanya. Ada 1 kata yang menggetarkan 'Arsy yaitu kata "paling". Beliau berkata seperti itu bukan tanpa alasan.
Selalu mencari orang untuk makan bersama
Nabi Ibrahim setiap kali ia mau makan, maka beliau selalu mencari orang untuk makan bersama, bahkan beliau sampai berjalan 1-2 mil untuk menemukan orang yang diajak makan bersama.
2. Berqurban sangat banyak
Tidak hanya itu, Nabi Ibrahim adalah nabi yang gemar berqurban. Setiap kali berqurban, jumlahnya sangat banyak yaitu 1000 ekor kambing, 300 ekor lembu, 100 ekor unta. Jangankan manusia, malaikat pun terkagum dengannya.
Dialog Nabi Ibrahim dengan Allah di Alam Malaqut
Dari kata paling yang terbersit di dalam hati Nabi Ibrahim, maka Allah menguji apa yang ada di dalam hatinya. Nabi Ibrahim diajak hampir setiap malam untuk naik ke langit ke alam malaqut. Ia menyaksikan apa yang terjadi pada manusia di dunia. Allah saksikan kepadanya manusia yang keji dan bangga dengan maksiat (pezina, syaribul khamri/ mabuk, dan macam lainnya).
Lalu Allah bertanya kepada Nabi Ibrahim,
"Bagaimana pendapatmu tentang mereka yang bermaksiat?"
Kata Nabi Ibrahim,
"ya Allah binasakanlah mereka, mereka hidup di bumi Engkau, memakan rizki Engkau, kemudian mereka tidak taat kepada Mu." Dalam suatu riwayat Allah menuruti pendapat Nabi Ibrahim dan orang itu meninggal, sampai sekian peristiwa yang mungkin 3-4 kali.
Ke sekian kalinya Nabi Ibrahim memberikan pendapat yang sama yaitu meminta Allah membinasakan mereka yang bermaksiat, kemudian Allah menegurnya dan memintanya turun.
“Aku lebih sayang hamba-hamba-Ku dibanding kau terhadap mereka. Ibrahim, turunlah. Mereka yang kaukecam mungkin akan bertobat dan berharap.”
“Ibrahim, kau ini orang dengan doa yang maqbul. Janganlah berdoa untuk kehancuran hamba-hamba-Ku karena mereka masih memiliki tiga kemungkinan; pertama, mereka bertobat dan Aku menerimanya; kedua, Aku menciptakan keturunan-keturunan darinya yang bertasbih memuji-Ku; dan ketiga mereka mati secara wajar yang bisa saja Kumaafkan atau Kusiksa.”
Setelah sekian tahun, dan saat itu Nabi Ismail dalam usia yang telah sanggup untuk berpikir, beliau bermimpi yang dalam mimpi itu beliau diminta untuk menyembelih anaknya (QS. Ash-Shaffat: 102).
"Ya bunayya (duhai anakku), sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu."
Lalu nabi Ismail berpikir dan menjawab ayahnya,
"Ya abati (duhai ayahku), lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. insyaaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."
"Yaa bunayya", kata yang Nabi Ibrahim gunakan, ini bukan sekedar panggilan biasa, kata ini menunjukkan kasih sayang yang begitu mendalam. Seiring dengan itu, bukan dijawab dengan "ya abi, ya buya," atau yang lainnya, oleh Nabi Ismail dijawab "ya abati", menandakan rasa sayang dan hormat yang teramat sangat kepada ayahnya.
Kemudian, Nabi Ibrahim menuntun anaknya sambil membawa pisau sampai ke Mina, tempat di mana Ismail akan disembelih.
Pesan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim
Ketika sampai, Nabi Ismail berpesan 4 hal kepada Nabi Ibrahim:
Ayah, tolong ikat aku dengan kencang agar aku tidak bergerak dan menyebabkan ayah kasihan dan menyulitkanmu
Tajamkan pisaumu agar aku tidak merasakan kesakitan yang sangat, karena sungguh kematian adalah sesuatu yang berat
Tolong singsingkan lengan baju ayah sehingga darahku tidak menciprat dan ketika ayah pulang bertemu dengan bunda, bunda tidak bersedih melihatnya
Sampaikan kepada bunda bahwa aku telah berpulang menghadap Allah dan agar ia bersabar dengan perintah Allah, dan apabila bunda dan ayah merindukanku, bawalah pulang bajuku agar itu menghapuskan kerinduan kalian kepadaku.
(Sebagai tambahan: - hadapkan wajahku ke arah tanah, agar engkau tidak melihat wajahku, lalu ayah menjadi kasihan padaku. - jangan kabarkan pada ibu bagaimana ayah menyembelihku dan mengikatku. - jangan ada anak-anak yang dekat pada ibu, jika ada anak yang seusiaku, janganlah lihat agar tidak terus menerus bersedih. Itulah pesanku wahai ayah”.)
Keraguan dalam Hati Nabi Ibrahim
Saat akan menyembelih Nabi Ismail, datang keraguan dalam hati Nabi Ibrahim dan dalam hatinya ia berkata kepada Allah, "Ya Allah Tuhanku, ini adalah buah hatiku, anakku yang paling aku kasihi."
Lalu Allah menjawabnya, "Wahai Ibrahim, ingatkah engkau suatu malam ketika kau memintaku untuk membinasakan hambaKu. Apakah kau tidak tahu bahwa aku menyayangi mereka sebagaimana engkau mencintai anakmu? Kalau kau memintaKu membinasakan mereka, maka akan Ku perintahkan kepadamu untuk menyembelih anakmu satu-persatu."
(seakan mengisyaratkan, "ketika Aku angkat engkau (Nabi Ibrahim) ke alam malaqut, lalu engkau mengusulkan untuk membunuh hamba-hamba Ku yang bermaksiat itu dan Aku melaksanakannya, tetapi kenapa ketika Aku meminta engkau untuk menyembelih anakmu lalu engkau terus berpikir? Aku menciptakan hambaKu, lalu engkau dengan ringannya mengusulkan untuk membunuhnya").
Lalu teguhlah hatinya, dan bismillahi Allahu akbar, Nabi Ibrahim menggerakkan pisaunya hingga datanglah pertolongan Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba.
Tambahan: Semenjak saat itu, pada eranya Nabi Ibrahim menjadi orang yang "aswaqunnas", orang yang paling sayang kepada manusia.
Wallahu a'lam bish shawab.
#panah-arah #Notulensi
by l.n.z












