tempat-sampah.
dalam genggaman ray setumpukan kertas yang sudah terlipat-lipat, bau kerak gosong, setengah basah.
kertas-kertas itu bertempelan satu sama lain, satu sisi kertas menampilkan satu huruf penuh besar-besar, dan sisi lainnya ada bekas selotip bolak-balik. ia menemukannya ketika sedang mencari-cari barang-barang berguna di tumpukan sampah bersama dengan kawan-kawannya di tempat pembuangan akhir.
ia sudah mengurutkan satu per satu hurufnya hingga terbaca. tetapi, kertas-kertas lain yang hanya berisi angka itulah yang jadi masalah. karenanya ia butuh pendapat lain. ray membuka pintu keras-keras, "assalamualaikum! mak!"
"waalaikumsalam," terdengar jawaban ibunya, tidak segera datang tergopoh-gopoh, jadi pasti sedang sibuk. ray mengatur napas, melangkah sambil mengingat arah datangnya asal suara ibu. ingatan yang tidak begitu berguna, sebab lagi pula, tidak begitu susah mencari ibu di sekeliling rumah yang sempit ini.
ibu sedang di dapur, berjongkok di kursi kecil, mengulek sambal. ray mendekat dan menjelaskan temuannya, sambil menyusun satu per satu kertas-kertas yang ia temukan hingga membentuk kata yang dapat dibaca utuh: ONCE. lalu sisanya adalah angka-angka yang tidak beraturan, 1, 2, 7, 0.
"once sebentar lagi," ujar ray. once--our national colors festival, sebuah kegiatan berisi pameran sejarah dan budaya dari kampus terbaik di kota, uneka, universitas wiweka. "tapi aku nggak tahu tanggalnya kapan." ada banyak deretan tanggal dan bulan yang terwujud dari empat angka dalam kertas.
diam sejenak, ibu berpikir. tidak susah untuk mengira-ngira tanggal dari bulan saat ini: juli. "antara 12 juli atau 21 juli mestinya ya?" tanya ibu, ia kembalikan lagi pada ray karena ia sendiri yakin bahwa anak semata wayangnya sudah punya dua kemungkinan yang ia ajukan barusan.
ray menganggukkan kepala. "boleh ke uneka? besok kupastiin lagi tanggalnya kapan."
"boleh."
senyum ray merekah. ia memeluk ibunya yang tidak dapat membalas pelukan itu dengan utuh karena sebelah tangannya masih mengulek sambal. pelukan terlepas secepat terengkuh, dan ray pun lekas pamitan untuk kembali lagi mencari-cari barang berharga di antara tumpukan sampah.
selepas smp, ray tidak lagi melanjutkan sekolah. tapi uneka sudah ada di dalam kepalanya sejak masih belia, sebab mahasiswa-mahasiswa dari sana lebih sering dan rutin berkunjung ke tempat pembuangan akhir tempat ray tumbuh dibandingkan mahasiswa lainnya, bahkan dibandingkan para pejabat setempat. di antara banyaknya kegiatan yang sering ray baca dalam kepingan koran atau obrolan-obrolan dari kakak-kakak uneka yang ia dengar, ia paling menyukai once---ray sadar ia memiliki kedekatan dan panggilan terhadap budaya negeri dan komponen lain di sekitarnya.
biasanya ray hanya hidup dari siang ke siang, hingga sering kali melewatkan festival atau pameran budaya lainnya. tapi mulai hari itu, hingga pelaksanaan once yang waktunya akan ia pastikan kemudian, ray tahu ia telah menemukan alasan untuk bersabar dan bertahan hidup menghitung hari demi hari.
ini aku datang.













