Happy Marriage
Ternyata bahagia menikah itu bukan ketika kita tidak ada masalah sama sekali, bukan ketika kita banyak sekali uang dan harta yang berlimpah, bukan juga karena kita punya sesuatu yang lebih dan kita merasa aman karena hal itu. Ternyata bahagianya pernikahan itu ketika kita bisa saling mengerti satu pada sesuatu yang kurang baik satu sama lain terutama ketika pasangan kita berada di titik terendahnya, walaupun kita menginginkan sesuatu dan ia tidak bisa memenuhinya, lisan dan lidah kita tidak pandai berucap hal yang tidak enak didengar seperti 'aku tidak bahagia bersamamu', 'aku ingin pergi saja' dan lain sebagainya. Itu bentuk sakinnah yang seringkali didoakan oleh teman kerabat dan saudara. Bahkan hati yang penuh cinta dan kasih sayang Allah ini selalu pintar mencari kebaikan di dalam dirinya atau biasa disebut dengan mawaddah. Manusia dengan banyak kurang dan baiknya tergantung bagaimana sudut pandang kita melihat dan merasakannya, itu pilihan kita sendiri, mau disengsarakan oleh kekurangan atau fokus pada kelebihan sehingga menutupi kekurangan itu sendiri. Pun jika ada sesuatu yang bisa kita amalkan sebagaimana pasangan para nabi, sahabat, kita tidak perlu memandang ia harus seperti mereka terlebih dahulu karena apa yang kita lakukan ikhlas dan mengharap ridho Allah, tidak perlu berharap feedback dari manusia karena itu salah satu hal yang akan membuat kita kecewa; berharap selain kepada Allah. Lalu rahmah akan muncul dari semua proses yang telah dijalani dengan sabar, sholat, pengertian, saling menutupi kekurangan, saling berbuat baik satu sama lain. Jadi jika indikator kebahagiaan dalam pernikahan adalah pasangan yang sesuai dengan kemauan dan keinginan kita itu hanya akan menyiksa diri sendiri, indikator kebahagiaanku adalah menikmati proses perjuangan berdua bersama untuk mewujudkan sakinnah mawaddah dan rahmah dengan berharap hanya pada Allah saja.














