Perpagi ini, baca kondisi eksternal. Tadi liat orang jual emas per gram udah tembus 3.3 juta. IHSG ambruk pagi ini. Pernyata presiden kita yang astaghfirullahaladzim terkait palestina (alhamdulillah gak milih dia kemarin). Rupiah mendekati 17rb. Dan masih banyak lagi berita yang bikin kita terheran-heran, bagi beberapa orang lain mungkin sampai memicu anxiety dalam dirinya. Menimbulkan gangguan kecemasan yang sampai ke tahap parah.
Mungkin sempat ada yang berpikir, berandai kalau dulu semua tabungan disimpan jadi emas saat harga emas masih 1 juta per gram.
Tapi di antara semua berita yang kita terima hari ini. Aku jadi merelevansikan ke kajian yang akhir-akhir ini lagi kusimak. Tentang akhir zaman. Teman-teman bisa menyimak kajian tentang rentetan peristiwa di akhir zaman di banyak channel youtube, pilih kajian dari orang-orang yang kompeten.
Kita hidup di masa tersebut. Masa saat fitnah itu datang silih berganti. Kadang kita berpikir dengan logika, kenapa harus ada perang di palestina, di negeri syam dsb. Setelah belajar, memang jalannya demikian. Sekali lagi, qodarullah.
Awalnya susah sekali menerima berbagai macam peristiwa yang kita hadapi tiap hari. Memang bukan hal yang mudah untuk dilalui, masing-masing kita memilih ujian yang berbeda-beda. Masing-masing kita lagi diuji dengan berbagai realita itu, bagaimana respon kita, cara berpikir kita, keberpihakan kita. Macem-macem.
Ada satu hal yang amat kusyukuri, setelah belajar kembali tentang keyakinanku sendiri. Dalam kondisi seperti ini, ada satu hal yang terpatri di dalam benakku.
Allah yang mencukupkan rezeki kita, bahkan saat harga emas masih 500rb/gram, pun Allah yang mencukupkan rezeki kita saat harga emas sekarang 3,3jt/gram. Allah yang mencukupkan rezeki kita. Ialah Allah yang sama, yang tidak terpengaruh oleh inflasi apapun.
Bayangkan, dalam kondisi saat ini. Apakah dalam kondisi saat ini. Ketakutanmu akan masa depan semakin menjadi-jadi, terlebih soal ketidakpastian ekonomi. Menjadi mudah bagi diri sendiri untuk menilai, dimana hati kita melekat. Apakah pada materi, pada harta yang kita kumpulkan di rekening dan lembar-lembar sertifikat. Atau pada Allah Yang Maha Kaya?
Refleksi ini kalau dijawab dengan jujur, akan mengantarkan diri kita pada jawaban yang mungkin akan membuat kita berpikir lebih dalam tentang kemelekatan kita terhadap dunia.
Sementara ini, hanya dunia
Tempat yang amat sangat sementara. Benar-benar sangat sementara, seperti yang kita rasakan sekarang. Seperti baru kemarin sore kita SMP atau SMA ya, itu seperti belum lama terjadi.
Dan tiba-tiba, umur telah beranjak ke 30-an atau 40-an. Bisakah kita tenang sebentar? Memahami lebih dalam terkait hakikat keberadaan kita. Mengenal lebih dalam ketakutan dan kecemasan yang selama ini hidup dalam diri. Tenanglah, ini hanya dunia.
Dan dari dunia yang amat sangat sementara inilah, kita akan "dinilai".