Halo tumblr.. Udah lama juga ga nulis hehe. Malam ini aku gabisa tidur karena siang tadi ketiduran. Akhir-akhir ini kalau tidur siang pasti malamnya susah tidur. Pengen nulis aja di sini tapi bingung apa yang mau di tulis ya.
Kali ini mau nulis random aja. Tapi tentang apa ya? Kadang bingung apa yang mau ditulis. Tapi pengen banget nulis hahaha, padahal ya tulisannya juga belum tentu ada yang baca.
Oke, aku mau cerita pengalaman tak terlupakan *aseek haha.
Dulu waktu usia ku masih sekitar 14 tahun, aku masih duduk di kursi SMP kelas 9. Ibu ku divonis terkena kista di payudaranya oleh dokter, aku masih belum paham kala itu. Karena ibu terlihat sehat saja seperti biasanya tapi kok tiba-tiba dibilang sakit. Tidak begitu ingat bagaimana proses ibu bisa ke dokter tapi ibu pernah cerita kalau payudaranya memang beberapa waktu itu sering nyeri yang konsisten dan terasa ga nyaman, akhirnya ibu memutuskan untuk ke dokter dan keluarlah hasil diagnosa itu setelah melewati proses pemeriksaan, USG, dan lain-lain. Waktu itu aku yang seharusnya fokus untuk persiapan Ujian Nasional tapi ikut khawatir dengan keadaan ibu. Ibu jadi agak pemurung, tidak banyak bicara. Sampai suatu hari jadwal ibu untuk dioperasi diangkat kistanya agar dibiopsi apakah jinak atau ganas (kanker). Waktu itu hanya operasi kecil di mana biusnya pun lokal, ibu masih sadarkan diri. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, ibu diperbolehkan pulang dan harus kembali lagi beberapa hari untuk menerima hasil dan penjelasan dokter.
Sampai harinya tiba dokter menjelaskan hasil biopsi kista yang diambil kemarin, dokter menyatakan itu sudah kanker stadium 2 dan payudara ibu harus diangkat. Aku yang kala itu hanya seorang remaja 14 tahun, masih belum paham dan mengerti ketakutan yang ibu alami. Tapi aku tetaplah sedih, karena ibuku sakit. Maka dokter menjadwalkan operasi besar yang harus dijalani oleh ibu, namun samar teringat ibu ragu untuk melakukan operasi. Sampai suatu hari datanglah adik-adik dan kerabat ibu menyemangati, mendukung, dan menguatkan bahwa aku dan adik-adik masih butuh ibu. Ibu sempat terpikir tidak mau berobat medis, cukup alternatif saja. Tapi karena banyak teman ibu di bidang kesehatan yang menyarankan untuk mengambil jalan medis, akhirnya ibu setuju untuk dioperasi.
Sehari sebelum ibu dioperasi, aku dan ibu berangkat ke rumah sakit yang cukup jauh, kami naik bus kesana. Ya, kami hanya berdua karena adik-adik ku masih sekolah. Aku tidak ingat bagaimana di perjalanan tapi yang aku ingat ketika sampai di kamar perawatan sudah malam aku tidur bersama ibu di satu kasur. Ya, itu kasur pasien dan ibu harus puasa karena besok pagi akan menjalani operasi. Terlihat ibu banyak berdzikir dan sempat sholat tahajjud, entah apa yang diminta tapi memang sholat malam itu kebiasaan sehari-hari ibu. Sampai tiba waktu pagi, ibu akan dibawa ke ruang operasi. Waktu itu aku tidak paham bagaimana perasaan ibu, tapi kali ini aku bisa membayangkan betapa takut dan sedihnya jadi ibu saat itu. Takut akan operasi besar yang harus dijalani, dan sedih akan bagian tubuhnya yang harus dibuang agar bisa "bertahan". Kuat sekali ibu ku memang. Beliau masuk ke ruang operasi dengan ku temani mengganti baju, tidak ada kata yang disampaikan, seingatku ibu cuma bilang "ka ida nganter sampe sini aja, ga boleh masuk". Pagi itu aku menunggu di ruang tunggu bersama ayah dan tanteku. Sungguh waktu yang sangaaatttt lama rasanya. Aku mengamati setiap pasien yang keluar dan berharap itu ibu, tapi ternyata bukan.