#Repost @dimasagus with @repostapp ・・・ Seruuu @petualang_cilik #petualangcilik #rumahperubahan #anakbebelac #bekasi #kids

roma★
Today's Document
ojovivo

Origami Around

Kaledo Art
Stranger Things

No title available

@theartofmadeline
AnasAbdin

Discoholic 🪩

No title available

titsay
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
sheepfilms
occasionally subtle
noise dept.
No title available

No title available
TVSTRANGERTHINGS
seen from Italy

seen from Belgium

seen from Albania
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Italy
seen from United Kingdom

seen from Albania

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
@petualangcilik
#Repost @dimasagus with @repostapp ・・・ Seruuu @petualang_cilik #petualangcilik #rumahperubahan #anakbebelac #bekasi #kids
#Repost @nanda_perdani with @repostapp ・・・ Kseruan siang tdi bareng teman n kaka y @petualang_cilik
#Repost @shendydjati with @repostapp ・・・ Happy family with rumah perubahan
@Regrann from @diansetiawati.78 - Joint di acara outbond nya @petualang_cilik tgl 28feb2016... seruuuu bgt. Ujan yg mengguyur jakarta menambah semangat anak2... ujan2an tambah seruuuu🙅🙆🙇 dapat pendamping kk nya juga yg asyiiik dan ramah kepada anak2... #tks kak fauzan,kak umar🙇😊 #Regrann
Petualang Cilik Sayangi Bumi
Kalau kamu mengaku cinta bumi dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah plastik atau menggunakan kendaraan umum agar mengurangi polusi, itu sih mainstreem. Bahkan hal tersebut harusnya jadi kewajiban untuk kita lakukan. Cara lain untuk mencintai bumi tidak hanya sekedar menjaga lingkungan sekitar tetapi juga menyayangi sesama mekhluk hidup di bumi ini.
Seperti yang dilakukan anak-anak pada Minggu, 19 April 2015 kemarin di Petualang Cilik Rumah Perubahan Batch 27 “Spesial Hari Bumi”, mereka melakukan aktivitas yang tidak biasa dan mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dimulai dengan mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh kak Chacha dari Gejabers AKSI, hingga memberi makan Nara si Rusa.
Kak Chacha mendongeng tentang Kong Jali Sang Pahlawan Sampah, seru sekali bahkan Kong Jali yang diperankan oleh salah satu volunteer dari Rumah Perubahan hadir di tengah anak-anak. Anak-anak tertawa dengan riang menikmati dongeng oleh Kak Chacha.
Selain itu ada ular tangga raksasa! wah yang ini juga ga kalah serunya. Setiap peserta punya kesempatan untuk bermain dan mendapatkan tantangan bagi yang beruntung.
Kegiatan lainnya seperti memanen sayuran juga seruuu. Anak-anak dengan bangganya bisa memanen sayuran organik yang biasa mereka makan. Seperti foto yang di bawah ini nih anak-anak seru banget foto dengan sayurannya.
Dan yang seru di batch ini adalah kaka-kaka mentor yang luar biasa hebat dari Tanoto Scholarship. Semangatnya sama seperti para petualang cilik dan mereka senang juga mau kembali lagi menjadi bagian dari Petualang Cilik.
Serunyaa Petualang Cilik Spesial Hari Bumi. Akan selalu mencoba berkontribusi bagi bumi dan anak-anak di Indonesia.
Sampai bertemu lagi di batch selanjutnya
Camera Branding
Tidak dapat dimungkiri bahwa televisi telah menjadi actor penting yang mengubah peradaban manusia sejak abad 20 #CameraBranding
Dan harus diakui sejarah pembentukan brand tidak pernah luput dari kamera bergerak (televisi) #CameraBranding
Brand erat hubungannya dengan televisi, terlebih di era social TV dewasa ini #CameraBranding
Berbagai penelitian mengenai branding menemukan : 1) Brand yang baik mempunyai daya pikat pasar yang kuat, lebih dipercaya dan membuat pelanggan rela “membayar lebih” #CameraBranding
2) Menghasilkan “value creation” yang tinggi, 3) cenderung mudah dimaafkan bila melakukan kesalahan #CameraBranding
Televisilah aktor utama yang mengubah kehidupan banyak orang: Apakah ia menjadi lebih baik atau lebih buruk #CameraBranding
Kita memang tengah berada di sebuah peradaban kamera, sehingga semua orang pada saat yang sama memiliki impresi tertentu tentang suatu hal , yang lalu saling mendebatkan dan berpolemik #CameraBranding
Setiap orang adalah mahluk social yang melakukan pertukaran. Pertukaran itu selalu dimulai dari kemampuan memasarkan diri yang dimulai dari interaksi positif #CameraBranding
Camera branding ibarat keluar dari perangkap neraka dan naik tangga menuju surga #CameraBranding
Artinya, setiap orang yang berusaha pada akhirnya ingin mendapatkan apa yang disebut loyalitas. Loyalitas adalah puncak dari upaya camera branding #CameraBranding
Sebuah restoran baru bisa dianggap branded bila ia memiliki loyal customers yang kembali lagi melakukan repeat order #CameraBranding
Seorang public speaker, baru disebut memiliki camera branding bila memiliki klien yang datang berulang-ulang #CameraBranding
Becoming is better than being ...
Becoming is better than being” ― Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of Success
“...when people already know they're deficient, they have nothing to lose by trying.” ― Carol S. Dweck, Mindset “I don’t mind losing as long as I see improvement or I feel I’ve done as well as I possibly could.” ― Carol S. Dweck, Mindset
Kita bahas sedikit hasil studi tentang anak-anak pandai yang berpotensi gagal, dan sebaliknya dari Prof Carol S Dweck (Stanford). Carol mengumpulkan dua kelompok anak-anak. Kelompok pertama adalah anak2 berprestasi tinggi dan sadar dikenal sebagai anak pandai di sekolah. Kelompok ke kedua, terdiri dari anak-anak yang prestasi akademisnya biasa-biasa saja dan ketika ditanya mnjawab, "I am survive". yang jelas mereka bukan "anak pintar".
Kedua kelompok di interview dan diberi soal-soal yang terdiri dari soal yang mudah (sudah pernah diajarkan dan gampang) dan soal-soal sulit. Selama experimen, dalam pelaksanaannya ternyata anak-anak kelompok pertama banyak protes ketika mengerjakan soal-soal sulit yang belum diajarkan dan mereka menolak mengerjakannya. Lembar jawaban tidak di isi dan mereka mengatakan " ini belum diajarkan"
Mungkin karena mereka pandai maka mereka tahu apa yang mereka ketahui dan yang tidak diketahui. Sebaliknya, anak-anak yang mengaku "survived" justru mengerjakan semua soal. Mereka kurang peduli apakah itu sudah diajarkan atau belum mereka tidak protes, tidak peduli dengan image mereka sekalipun nilainya akan jeblok atau di nilai kurang pandai. Setelah menjalankan tes, semua anak diajak bicara dan di minta menuliskan surat pada seseorang tentang pengalaman mereka selama ikut eksperimen itu.
Carol tersentak, ternyata anak-anak dari kelompok pandai melebih-lebihkan diri mereka, bercerita lebih hebat dari yang bisa atau mau mereka kerjakan sedangkan kelompok kedua bercerita apa adanya. Kelompok pertama, dalam suratnya mengaku di beri soal mudah dan sulit, dan keduanya mereka kerjakan dengan hebat. Setelah melalui analisis mendalam dan wawancara terstruktur, Dweck menemukan dua tipe manusia yang menentukan sikapnya terhadap sukses atau gagal.
Dia mengatakan begini: “After seven experiments with hundreds of children, we had some of the clearest findings I’ve ever seen: Praising children’s intelligence harms their motivation & harms their performance. How can be? Don’t children love to be praised? "Benar, anak-anak senang dipuji. Khususnya terhadap bakat dan kecerdasannya. Pujian mendorong gerakan, keindahan—but only for the moment." "The minute they hit a snag, their confidence goes out the window and their motivation hits rock bottom If success means they’re smart, then failure means they’re dumb. That’s the fixed mindset.” ― Carol S. Dweck
Jadi mau pandai atau kurang pandai, muaranya akan pada kegagalan kalau setinggan pikirannya adalah FIXED MINDSET. Ini masalahnya, banyak pendidik mengukur kecerdasan dari kemampuan belajar di atas kertas, bukan kemampuan anak mengelola hidup. Dan kalau seorang anak sudah percaya bahwa ia sudah pandai, juara, dst..maka ia bisa merasa sudah selesai, sudah hebat, sudah cukup...
FIXED MINDSET memiliki kecenderungan seperti: 1) Merasa paling pandai sehingga tak berani mencoba hal-hal baru setiap kali mencoba hal baru dan dinilai kurang bagus, kurang pandai, maka ia akan sangat mudah kecewa dan mengungkapkan kekecewaannya 2), Mereka umumnya juga tak bisa menerima kenyataan orang lain dinilai lebih baik dari dirinya 3) Sulit menerima tantangan baru, mencoba hal baru yang sama sekali tak dikenal dan tak disukainya, dan menolak menghadapi kesulitan 4) Mereka tak mudah menerima kritik, otaknya mudah hang dan keriting thd kritik atau negative feedback. Padahal orang maju butuh itu.
Terhadap orang lain yg lebih dinilai sukses, lebih dinilai bagus dalam fase berikutnya, maka ia menyambut dengan sinisme. Itulah yang membuat orang pandai terkotak dalam batasan yang ia buat sendiri, sementara yang merasa "survive" bisa tumbuh dan berubah. Orang yg "survive" seringkali merasa kurang pandai, maka ia mencoba terus, segala kemampuannya. Dari sesuatu yang ia kalah cepat memulainya. Maka bukan awal yang menentukan sesuatu, tetap bagaimana kita menaklukkan rintangan dalam perjalanan itu, menumbuhkan sesuatu yang kurang beruntung awalnya. Itulah yg disebut Carol Dweck sebagai GROWTH MINDSET.
Maka dia katakan, "Becoming is better than being” ― Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of Success artinya, "berupaya menjadi" (becoming) jauh lebih baik daripada " memiliki sesuatu" (being). Ia melanjutkan, “I believe ability can get you to the top,” says coach John Wooden, “but it takes character to keep you there. It’s so easy to … begin thinking you can just ‘turn it on’ automatically, without proper preparation It takes real character to keep working as hard or even harder once u’re there. When u read about an athlete wins over and over when you read about an athlete that wins over and over, remind yourself, ‘More than ability, they've character.' ” ― Carol S. Dweck.
Karakter itu fondasinya dibentuk dari kecil, dipertajam saat dewasa, dan dikoreksi lewat gerinda yang keras untuk membongkar keangkuhan. Maka orangtua, jangan bangga dengan prestasi akademik sekolah anak2 yang dipaksakan melalui les dan les dan les. Anak-anak butuh pembentukan mindset, yang kita kenal sebagai self regulation. Mereka harus di latih meregulasi diri agar terbuka terhadap perubahan. Mereka butuh kemampuan beradaptasi, respek terhadap perbedaan dan keunggulan orang lain, mau mencoba hal baru bukan cepat baca kalimat, mengenal huruf, hapal rumus, tahu ini tahu itu lebih dulu dari yg lain. Semua itu gampang disusul orang lain. Mereka juga perlu dilatih kreativitas, berani mencoba hal baru, siap koreksi diri, berdamai jiwa, tidak melakukan hal yg tak terpuji. Semua itu disebut sebagai executive functioning, dan dalam buku Ellen Gallinsky disebut "Essential Life Skills".
Pujian itu penting, tetapi hidup dalam pujian juga bisa rawan. Lantas apa salahnya failed? “I don’t mind losing as long as I see improvement or I feel I’ve done as well as I possibly could” C.Dweck
Lebih jauh lagi, “If parents want to give children a gift, the best thing they can do is to teach their children to love challenges be intrigued by mistakes, enjoy effort, and keep on learning. That way, their children don’t have to be slaves of praise dengan mendidik seperti itu, "They will have a lifelong way to build and repair their own confidence.” ― Carol S. Dweck. Itulah yang disebut Paul Stoltz sebagai The Climbers. Ayo hidup sesuatu yang sulit, jangan takut gagal. Orang Korea bahasa Inggrisnya lebih buruk dari anak-anak Indonesia tapi lebih banyak yang masuk doktoral program di USA. Dan orang Korea juga banyak gagal, setiap tahun selalu ada yang drop out dari doctoral program. Tetapi kini mereka bisa menyaingi Apple.
Begitu juga bangsa China, Taiwan, India, Israel dll. Mereka lebih sering gagal di sekolah daripada anak-anak kita. Tetapi mengapa dalam hidup selanjutnya, setelah sekolah, anak-anak kita yang sekolahnya hebat, ya biasa2 aja prestasi hidupnya...why? Saya pun becermin dalam hidup saya, saya orang yang dulu belajarnya susah, jauh lebih susah daripada anda semua tetapi saya pantang menyerah, pantang membenci, pantang mendendam, saya selalu mencari jalan.
Dengan mengakui bahwa kita terperangkap dalam FIXED MINDSET telah menjadi titik awal sebuah perubahan, lanjutkan terus, buka apa yg harus dilakukan jika anak-anak kita memang hebat, cerdas dan cepat menyelesaikan math (misalnya) dengan benar dan logic? Ini jawaban DweckI say, “Whoops. I guess that was too easy. I apologize for wasting your time. Let’s do something you can really learn from!” Carol S. Dweck. Sesuatu yg sangat sering saya rasakan dan lihat belakangan ini: banyak orang blaming others terhadap kegagalan atau kekalahan yang dialaminya. Blaming others (menyalahkan orang lain) misalnya mengatakan juri tidak adil, dicurangi, dipersulit, pilih kasih, sudah ada "pemenangnya", dst. Padahal kemenangan itu butuh cara, butuh sikap sebagai pemenang, dan salah satunya: never ever blame others...
Resolusi 2014
Menyambut tahun baru, banyak resolusi diagendakan. Bagaimana pendapat Rhenald Kasali ? simak selengkapnya http://rumahperubahan.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=755&Itemid=1
Perbaiki Indonesia dari Pelabuhannya
Tahun baru, Pelabuhan baru, menuju Indonesia baru. Seperti apa ceritanya? Selengkapnya di artikel Rhenald Kasali rumahperubahan.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=731&Itemid=1z
Tahun Ini Kitalah Penentunya
Esensi perubahan seperti apa yang akan terjadi di tahun 2014? baca selengkapnya di artikel Rhenald Kasali
http://rumahperubahan.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=735&Itemid=1
Pertarungan Business Model - Sindo, 17 Oktober 2013
Apa yang membedakan sektor pertanian Indonesia dengan Thailand? Penduduknya sama-sama makan dan menghasilkan pangan yang sama: sama-sama suka pedas, kecut, manis, dan santan. Sama-sama menanam padi, sayuran, buah-buahan tropis, bawang, dan seterusnya. Sama-sama suka durian, manggis, kelapa, asam, dan petai. Yang membedakan adalah business model-nya. Yang satu berorientasi untuk konsumsi domestik dan terabaikan, sedangkan satunya ditekadkan sebagai komoditas ekspor secara terpadu. Maka itu, business modelindustri pangan Thailand dibangun dengan basic research yang kuat. Selain itu, juga didukung oleh industri penopang yang modern dan didorong oleh puluhan ribu rumah makan Thai yang tersebar di seluruh dunia. Ke mana pun Anda pergi di seluruh dunia ini, Anda akan menyaksikan rumah makan Thai, lengkap dengan foto raja, ornamen budaya, informasi pariwisata, dan pelayan yang dibalut pakaian berbahan sutra atau tenun Thai. Padahal, pemilik kedai itu tak selalu warga negara Thailand. Hasilnya tentu saja berbeda. Di Thailand sektor pertanian hanya memberi kontribusi 9% produk domestik bruto (PDB), tetapi dari luar negeri, sektor ini berkontribusi 21% dari total ekspor Thailand. Bandingkan dengan Indonesia: kontribusi sektor pertanian terhadap PDB sekitar 15%, tetapi boro-boro ekspor, kita malah impor. Defisit subsektor pangan Indonesia pada 2011 dua kali lipat dari defisit tiga tahun sebelumnya dan mencapai USD6,439 miliar. Rumah makan Indonesia di luar negeri juga tak begitu terdengar, selain beberapa yang bergerak independen dirintis perorangan yang tak ada hubungannya dengan program peningkatanvalue pangan Indonesia. Satu hal yang pasti, dalam bidang apa pun, kita tengah berada dalam medan persainganbusiness model, sehingga jarang sekali negara dan perusahaan yang mampu mempertahankan keunggulan daya saingnya secara abadi. Di seluruh dunia produk-produk unggulan, bahkan merek-merek terkenal, jatuh bangun ke luar dan ke dalam. Ke luar merek-merek besar itu digantikan pendatang-pendatang baru yang memiliki business modelyang lebih fit. Ke dalam merek-merek besar dan sektor-sektor usaha hancur dirusak oknum-oknumnya sendiri yang abai menata diri dan beradaptasi. Business Model Fit Jauh sebelum itu dunia usaha sudah lama mengirim sinyal-sinyal perubahan. Setiap pendatang baru sesungguhnya jarang sekali yang benar-benar datang dengan produk atau layanan yang benar-benar baru. Hanya melalui sentuhan“business model” yang diperbarui, hilanglah keunggulan- keunggulan merek-merek terkenal. Anda mungkin masih ingat berakhirnya kejayaan pemegang merek-merek kopi bubuk saat Starbucks mem-franchise-kan kedai kopi. Pelanggan-pelanggan kopi memilih kedai kopi sebagai tempat melakukan pertemuan dan membeli kopi dalam bentuk yang disajikan ketimbang mengolahnya sendiri di rumah atau di kantor. Padahal cat yang dibayar pelanggan bisa sepuluh kali lipat dan konsumen membayarnya. Setelah itu ribuan merek kedai kopi baru pun bermunculan. Pertarungan antar-business model membuat perdagangan kopi bubuk harus putar otak, dari kopi biasa menjadi kopi sachet yang dijajakan para pedagang kopi keliling bersepeda yang datang dari daerah Banyumas di Jakarta dan kotakota besar lainnya. Demikianlah seterusnya. Demikian pula dengan Modern Group yang kehilangan daya cengkeram dalam bisnis cuci-cetak foto setelah dunia kecanduan kamera digital. Mengalami penurunan pendapatan dari penjualan film rol secara signifikan, mereka memilih gerai Seven Eleven yang diperkaya dengan business model “warung tempat anak muda nongkrong”. Business model Seven Eleven berbeda dengan business model Alfa dan Indomaret dan sempat memusingkan regulator yang mempersoalkan izin, apakah usaha ini ritel atau rumah makan. Yang benar business model mereka memang berbeda. Yang satu convenient store, yang satunya kedai modern tempat anak muda ngumpul. Banyakorangmemeganghak atas merek-merek besar, baik sebagai franchise maupun distributor yang tidak menyadari bahwa mereka harus terus melakukan investasi untuk membuat business model baru yang fit agar selalu siap menghadapi perubahan. Ya, business model fit. Barang atau layanannya tetap sama, tetapi cara dan baurannya bisa diperbaharui. Riset atau action research diperlukan. Menggali insight. Menghubungkan sesuatu yang baru ke dalam sistem yang lama untuk mendapatkan struktur biaya yang lebih murah, yang memberi nilai yang lebih besar bagi pelanggan, kenikmatan yang lebih memberi kepuasan atau mengisi tantangan baru yang dimunculkan oleh teknologi baru, dan seterusnya. Tak tertutup penggalian cara-cara baru bahkan berpotensi menghasilkan sesuatu yang benarbenar baru. Saya ambil contoh Amusement Park (tempat-tempat bermain anak-anak) dan rumah sakit-rumah sakit besar. Di tempat berkumpulnya orang secara masif itu masing-masing menjadi arena pemasaran air minum yang sangat potensial. Baik Amusement Parkmaupun rumah sakit sama-sama bisa menjadi pemasok air minum bagi pelanggannya masing-masing. Apalagi sejak teknologi membuat air dari embun dengan metode SSP tersedia. Air yang diperoleh dari udara, menurut uji klinis, ternyata sangat baik bagi kesehatan dan dapat diproduksi dalam skala kecil. Bayangkan kalau teknologi mini pembuatan air minum bisa mereka dapatkan, pasar air minum dalam kemasan yang business model-nya berbeda (diambil dari pegunungan dengan biaya transportasi yang tinggi) mengalami gangguan. Di dunia sendiri, dewasa ini tengah terjadi value migration dalam berbagai kategori industri. Dari air mineral dalam kemasan, dunia tengah beralih ke kategori functional water, yang sebagian justru terdiri dari air-air yang bebas dari mineral. Kampanye air non-mineral perlahan-lahan mulai meluas, sebuah business model baru menjadi tantangan bagi pemain lama. Di Amerika Serikat, para venture capitalist sedang mengamati dengan seksama kemajuan- kemajuan yang dicapai para pelaku crowd funding atau situs-situs seperti Kick Starter yang mampu mengumpulkan dana besar secara kolaboratif untuk membiayai bisnis yang kaya inovasi. Lagi-lagi, business model mereka berbeda. Dunia tengah menghasilkan sebuah pertempuran baru, bukan antarmerek besar, melainkan pertarungan business model. Pemenangnya adalah mereka yang model bisnisnya paling fit dengan tuntutan-tuntutan baru para pelanggannya. Maka itu, penting bagi para eksekutif membuka mata lebar-lebar dan melatih kaum muda melahirkan business model baru secara kreatif. Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan
Ketika Satu Pintu Tertutup - Sindo, 10 Oktober 2013
Hampir setiap hari kita membaca negeri ini selalu dirundung masalah. Beda benar nasibnya dengan China, Singapura atau Malaysia yang sangat pandai “menyembunyikan masalah” dari hadapan publik. Selain tidak transparan, rakyatnya pun dilarang berbicara sembarangan. Sebegitu pandainya negeri-negeri itu sehingga ekonom Paul Krugman tidak memercayai data-data ekonomi negeri itu. “Tak ada kritik masyarakat, tak ada kebenaran,” ujarnya suatu ketika. Tapi di sini kita hidup seperti di dalam sebuah roller coaster: pusing, mumet, dan banyak membuat orang putus asa. Bagi orang-orang itu, ketika satu pintu tertutup, seakan-akan sudah tak ada lagi jalan keluar. Sikap yang demikian tentu saja amat bertentangan dengan ketentuan yang berlaku di era APEC yang saling terhubung, saling terbuka, dan saling memanfaatkan. Ketika dunia menjadi lebih terbuka, mereka yang cepat mati akal, yang hanya mampu melihat pintu-pintu yang tertutup, akan mengalami kemunduran. Pemimpin- pemimpin dan pengamat-pengamat yang demikian hanya mampu menularkan rasa frustrasi ketimbang jalan keluar. Sebaliknya di negara tetangga, selain informasinya tidak seterbuka dan sebebas di sini, mereka justru tidak mudah mati akal. Selalu mengeksplorasi berbagai kesempatan. Ketika satu pintu tertutup, mereka justru mencari pintu-pintu lain yang terbuka. Quitters vs Campers Paul Stoltz yang menulis buku Adversity Quotient mengungkapkan, ada 3 manusia dalam menghadapi abad perubahan ini. Maka buku itu diberi subjudul: Turning obstacles into opportunities. Bagi sebagian orang, rintangan adalah pintu yang tertutup. Tapi pada tipe manusia lain, ditemukan kemampuan mengubah kesulitan menjadi sebuah kesempatan, bahkan kesejahteraan dan jalan keluar. Manusia tipe pertama yang membuat kita pusing itu adalah quitters, yang selalu melihat perubahan sebagai sesuatu yang gelap dan menakutkan. Mereka bahkan sudah berhenti sebelum memulai. Maka jangankan menjadi pemenang, kalau menjadi pemimpin, orang-orang ini hanya bisa menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain. Ia menjadi benih bagi munculnya perilaku proteksi diri yang berlebihan. Dalam konteks yang lebih luas, kalau dipercaya sebagai pemimpin perusahaan atau pemimpin negara, mereka hanya menjalankan prinsip play to not lose. Quitters senang menyalahkan situasi atas kegagalan hidupnya dan abai melihat potensi besar yang dimiliki. Mereka tak berani mengambil risiko, bermain aman, dan tak berani menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut keberanian. Tipe kedua adalah campers. Meski berani memulai dan pada awal perjalanan terlihat bersemangat, campers ternyata bukan pejuang sejati. Ibarat orang yang kuliah di perguruan tinggi, mereka hanya semangat membentuk prestasi, tetapi berhenti belajar setelah mendapatkan ijazah. Sebagai pendaki gunung, mereka hanya mendaki mencarispot yang bagus untuk berkemah. Di situ mereka berhenti dan merasa sudah cukup. Mereka menggunakan seluruh energi besar yang masih dimiliki untuk memelihara statusquo. Akibatnya mereka tak pernah mencapai potensi penuh yang dimilikinya. Ini berbeda besar dengan manusia tipe climbers yang tak ada matinya. Ibarat sekolah, seperti yang dialami desainer kebaya Anne Avantie, meski sekolahnya terhenti di bangku SMA dan hanya menggenggam ijazah SMP, ia tak pernah berhenti belajar. Ia terus mendaki dan mendaki. Hari Selasa kemarin, di MMUI ia mengungkapkan perjalanan dari Semarang ke Jakarta selalu ia tempuh dengan menumpang kereta api. Tentu bukan karena ia mau berhemat atau tak punya uang, melainkan karena ia memang tak berani terbang di ketinggian. Tapi itu tak membuatnya berhenti untuk berkarya. Malam itu Anne Avanti langsung kembali ke Semarang dengan kereta api, menjadi perjalanannya yang ke-2.321 selama 25 tahun terakhir. Saya kira PT KAI wajib memberikan penghargaan kepadanya. Climbers tak ada matinya. Ia bergerak terus meski batu-batu berjatuhan menimpa kaki tangannya, meski kesulitan selalu menghadang. Apa Tidak Letih? Di Kolese Kanisius, tiga minggu lalu saya ditanya para siswa, kalau mendaki terus, “Kapan menikmatinya?” Pertanyaan ini sama nadanya dengan ungkapan hati ibunda saya yang sering bertanya kepada saya apa tidak letih? Hari ini saya ada di Bandung, sore hari sudah di Jakarta, besok di Pulau Buru, beberapa hari kemudian di Brunei Darussalam, lalu pagi harinya sudah di kota lain. Saya bekerja di depan kelas, di belakang meja, di kebun, di masyarakat, dan di pesawat terbang. Mengajar, menulis, memimpin perusahaan, dan seterusnya. Tapi saya selalu menemukan kenikmatan itu justru ada di dalam perjalanan atau pendakian itu sendiri. Mungkin itulah yang membedakan antara pengemudi motor besar dengan pengemudi sepeda motor biasa. Yang satu enjoy the riding, yang satunya tempat tujuan (destinasi). Bagi orang yang hanya memikirkan destinasi, perjalanan yang padat dan jauh sungguh menjemukan dan meletihkan, sementara bagi penikmat berkendara, perjalanan itu sendirilah sumber kenikmatannya. Bagi quitters atau campers, capai itu berarti fisiknya letih, sedangkan bagi climbers, capai fisik itu bukan masalah. Ia tahu persis ada dua jenis capai: capai fisik dan capai mental. Kalau hanya fisik saja, itu bukan capai, bukanlah rintangan. Sekarang, di era yang penuh kesempatan dan persaingan ini, mari kita evaluasi diri masing-masing. Apakah kita iniquitters, campers atau climbers? Kalau perusahaan sudah mencanangkan program transformasi, meletihkan sekali kalau pimpinannya tak bisa membedakan mana eksekutifnya yang quitters, campersdan mana yang climbers. Pengalaman saya menunjukkan, kemampuan memisahkan dan mengubah dua dari tiga tipe itu akan menentukan seberapa jauh transformasi bisa digerakkan. Tapi andaikan Anda tak merasa perlu memperbarui diri, renungkan saja apa yang ingin Anda dapatkan dari anak-anak yang Anda besarkan. Kalau Anda ingin mereka berubah, Andalah yang pertama-tama harus berubah. Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan
Join Us @Dynamic Entrepreneur Training!
Setelah sukses dengan 35 angkatan sebelumnya, Rhenald Kasali School for Entrepreneurs (RKSE) kembali membuka kelas Dynamic Entrepreneur, 25-27 Oktober mendatang, di Rumah Perubahan-Bekasi. Dynamic Entrepreneur merupakan sebuah program pelatihan untuk membangkitkan jiwa entrepreneur bagi mereka yang masih terbelenggu paradigma lama kewirausahaan. Bersama para pakar dan praktisi, Rumah Perubahan melepaskan batasan-batasan serta mengasah kemampuan berwirausaha agar semakin baik, mengubah mental pekerja ‘kantoran’, dan menyiapkan peserta menjadi entrepreneur sukses.
Dynamic Entrepreneur ini juga bertujuan untuk membangkitkan jiwa entrepreneur; membangun network, mengenalkan cara berpikir kreatif dalam mencari dan mengembangkan ide-ide bisnis, membahas bisnis-bisnis rumahan yang unik dan tidak memerlukan modal besar namun mampu memberikan revenue, mengembangkan potensi diri untuk mulai berwirausaha, serta memberikan pemahaman: apa yang entrepreneur kerjakan, pikirkan, dan eksekusi.
Bagi Anda yang tertarik mengikuti Dynamic Entrepreneur Training, dapat menghubungi Ikhlasul Amal: 0896.3048.5581 atau [email protected] dan Dewi : 0812.4113.1307 atau [email protected]. Dapat diskon menarik untuk pendaftar lebih dari dua orang. Investasi ini sudah termasuk penginapan, training kit, outbound, konsumsi selama pelatihan, dan sertifikat.
Bergabunglah bersama kami dan jadilah wirausahawan tangguh Indonesia!
Change Leadership Training: Becoming An Inspirational Leader!
Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen. Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuannya memprediksi perubahan dan menjadikan perubahan tersebut sebagai suatu potensi untuk meningkatkan kinerja. Karenanya, perubahan jangan dipandang sebagai hal negatif, melainkan harus dijadikan katalisator untuk menjadi lebih baik.
Untuk mengubah paradigma negatif mengenai perubahan serta mempersiapkan para pemimpin yang visioner dan siap memimpin perubahan, maka Rumah Perubahan menggelar public training Change Leadership, 24-25 Oktober 2013. Metode training pun disampaikan dengan menarik dan mudah dipahami dalam interactive lecturing dan participant centered learning, serta diperkaya dengan simulasi dan role play.
Bagi Anda yang tertarik mengikuti Change Leadership Training, dapat menghubungi Reni: 0812.9033.3744 atau [email protected] dan Anggun: 0812.8268.0260 atau [email protected]. Dapat diskon menarik untuk pendaftar lebih dari dua orang. Investasi ini sudah termasuk bahan-bahan training, sertifikat, makanan, dan coffee break selama training.
Bergabunglah bersama kami dan jadilah agent of change!
Syuradikara - Jawa Pos, 3 Oktober 2013
Beberapa hari yang lalu saya menghabiskan weekend di sebuah kota yang tenang, tempat pembuangan Bung Karno: Ende. Di situ saya diundang oleh para alumnus sebuah sekolah yang menghasilkan lulusan-lulusan hebat yang kini tersebar di berbagai profesi. Namanya Syuradikara yang didirikan 60 tahun lalu oleh para misionaris Katholik, yang dalam bahasa sansekerta berarti : Pencipta Pahlawan Utama. Dari pulau terluar Indonesia itu saya terkejut karena bertemu tokoh-tokoh masyarakat yang namanya biasa kita lihat di media massa. Ada pimpinan perusahaan asing, professional keuangan, aktivis sosial, pendidik terkemuka, wartawan, seniman, pengusaha, dan tentu saja pastor. Saya tak habis pikir, bagaimana di kota “Pembuangan” sejauh ini bisa memiliki sekolah dengan lulusan-lulusan yang melahirkan impact yang besar. Sebuah Kesahajaan Sekolah yang hebat tentu saja bukan melulu dibangun dari aset-aset yang hebat seperti belakangan kita saksikan di Jakarta dan Surabaya. Sejarah menunjukan, sebuah kesahajaan pun bisa menghasilkan kehebatan, asal tidak memanjakan. Di atas lahan seluas 12 hektar yang subur di dekat Gunung Meja, saya masih bisa menyaksikan sebuah kesahajaan dengan para siswa yang datang dari berbagai kabupaten terpencil di propinsi NTT. Tetapi 12.000 Alumnusnya yang tersebar di seluruh Indonesia tidak membiarkan junior-juniornya terperangkap dalam kebesaran sejarah masa lalu mereka. Mereka sadar betul zaman telah berubah, cara belajar baru menjadi tuntutan. Tetapi, siapa yang bisa mengubah kalau semua sibuk di Kota-kota besar? Mereka juga tahu bahwa sekolah-sekolah Katholik yang dulu berjaya kini kebanyakan ditangani orang-orang yang terperangkap dalam cara berpikir lama yang sulit berubah. Karena itu, mereka beramai-ramai pulang kampung, membuka sepotong jendela, memasukan udara segar agar sekolah mereka bisa melihat dunia baru yng benar-benar telah berubah. Saya mengatakan, kalau para alumnus bisa bergantian memberikan sharing pengalaman masing-masing seminggu dalam setahun saja sambil pulang kampung, sudah pasti perubahan akan menjadi kenyataan. Sekolah seperti itu tentu masih sangat digemari. Meski sebagian sekolah Katholik yang dulu dikenal sukses mulai memudar, Syuradikara masih tampak sangat diminati. Tetapi seringkali hal ini tidak disadari bahwa anak-anak kita telah hidup dalam dunia yang benar-benar telah berubah. Aspirasi dan tantangan mereka berbeda dengan aspirasi serta tantangan yang dihadapi para guru. Saya teringat dengan komplain seorang dosen senior di Jakarta yang kesal melihat mahasiswa hanya main-main di perpustakaan. Mahasiswa, kata dia, hanya menggunakan laptop untuk bermain. Setelah saya amati, ternyata pernyataan itu tak sepenuhnya benar. Ini hanyalah perbedaan perspektif belaka. Bagi generasi tua, perpustakaan adalah buku dan belajar adalah serius, fokus, diam dan tekun. Sementara itu, bagi Generation C (Connected Generation), belajar adalah komputer. Di dalam komputer mereka bisa melakukan empat hal sekaligus: Work , Leisure, Social, and Learning. Sekali mendayung mereka dapat empat hal sekaligus. Tentu saja mereka tidak seperti para senior. Tetapi mereka terus belajar, meski sebagian di antara mereka sulit fokus dan melompat-lompat. Kesahajaan seperti apa yang harus dibangun di era baru seperti ini? Para guru tentu harus siap menerima perubahan. Apalagi, sekarang guru sekolah-sekolah swasta bergaji lebih rendah dari guru-guru sekolah negeri yang telah diangkat menjadi PNS. Negara tentu tak boleh melupakan guru-guru swasta. Sebab, sekolah-sekolah itu turut berpartisipasi memperbaikan kualitas sekolah manusia Indonesia. Tetapi, saya sering bilang kepada Anda, di daerah-daerah terpencil, kesungguhan bisa menghasilkan kehebatan. Tidak dapat dimungkiri, semua itu berasal dari penanam nilai-nilai kedisiplinan. Bila seorang yang cerdas diadu dengan orang yang disiplin, hampir pasti pemenang akhirnya bukanlah orang yang cerdas. Ketika sekolah-sekolah bermodal besar berfokus pada pengetahuan, ada satu yang dilupakan. Yaitu, belajar cara menggunakan pengetahuan itu sendiri. Di Syuradikara, saya masih bisa melihat anak-anak sekolah menyapu dan membersihkan lantai. Saya juga melihat anak-anak dari berbagai suku belajar di sekolah ini dan tinggal di asrama. Meski datang dari daerah yang berbeda-berbeda, semua senang makan singkong Ende yang terkenal itu. Begitu terkenalnya, sampai-sampai para alumnus memborong pulang berkilo-kilogram untuk dibawa ke Jakarta. Semua alumnus berbicara tentang singkong. Saya pun terheran-heran, apa istimewanya singkong itu? Seorang alumnus senior menjelaskan bahwa singkong tersebut menjadi enak karena ditanam di tanah abu vulkanik yang subur sehingga ubinya besar dan lembut. Tetapi seorang teman menulis di e-mail sambil guyon. Dia mencatat dimana-mana orang Flores senang makan singkong. “kalau sudah makan singkong, orang Flores bisa lupa sama mertua,“ ujarnya. Tetapi, dia menambahkan, “Kalau orang Flores mulai cerita tentang enaknya singkong, perlu dicurigai, apakah enak ataukah rindu kampung,”ungkapnya. Saya kira dua-duanya benar. Sebab selain singkongnya enak, alam dan adat budaya Flores amat kaya. Saya tidak pernah mengunjungi daerah yang hampir setiap kecamatannya mempunyai corak tenun yang unik dan indah. Desa-desa adatnya pun masih terpelihara. Saya tidak heran bila Sidomuncul sempat memasang iklan dengan tagline: Pergilah ke Labuan Bajao. Kalau Anda kesini, Anda pasti akan sependapat dengan saya. Tetapi jangan bandingkan fasilitas dengan Pulau Dewata yang sudah 30 tahun lebih maju. Kelak Syuradikara pun bisa menelurkan wirausaha-wirausaha unggul yang siap mengangkat kekayaan alamnya sebagai bisnis yang penting. Kemiri yang dibiarkan berjatuhan, cengkih, cokelat, kopi, dan jutaan kekayaan alamnya tumbuh diantara objek-objek wisata dunia seperti Danau Kelimutu. Kalau para romo memahami perubahan dan tidak menganggap berwirausaha kegiatan “yang rendah”, mereka pasti bisa mengembangkan kesejahteraan yang lebih baik lagi. Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan
Cognitive Flexibility - Sindo, 3 Oktober 2013
Anda mau tahu mengapa banyak orang bergelar akademis tinggi di sini kurang berhasil, kaku, bahkan frustrasi dalam hidupnya? Pertanyaan seperti ini juga banyak ditanyakan para sekjen kementerian yang tengah menggelorakan reformasi birokrasi: “Saya heran sekolahnya bagus-bagus, tetapi banyak yang sulit diajak maju dan tak punya inisiatif. Semuanya terpaku pada constraint.” Di dalam birokrasi itu sendiri, orang-orang hebat bukan tidak tahu masalah yang dihadapi, melainkan tak berdaya mengatasinya. Semua orang bekerja under constraint, tetapi kalau constraintselalu dijadikan alasan, ini sudah menjadi penyakit mental yang disebut cognitive in flexibility. Tapi nanti dulu, pertanyaan serupa ternyata juga datang dari banyak manajer HR yang mulai “trauma” merekrut pegawai yang terlalu pandai, tetapi kurang bisa menerima pandangan-pandangan lain yang berbeda. Saya pun menganggukkan kepala. Tapi bukankah itu juga terjadi pada mereka yang kurang pintar? Dalam executive functioning(KORAN SINDO, 19 September 2013) anak-anak dibentuk kemampuannya dalam self regulation, inhibitory control, dan focus. Di sana anak-anak belajar mengendalikan diri, tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Anak-anak lalu diaktifkan working memory-nya, mendapatkan kemampuan berpikir kritis dan logis. Lantas di mana kemampuan fleksibilitas dan kreativitasnya? Mengapa orang-orang hebat menjadi “kaku”, gagal melihat, dan mengambil “kesempatan” emas yang bisa memajukan bangsanya? Pintu Emas Bell Anda mungkin masih ingat dengan Alexander Graham Bell. Salah satu quotes terkenal yang dipakai untuk menjelaskan pentingnya melatih daya kelenturan berpikir anak-anak ternyata berasal dari dirinya. Ia mengatakan begini: “Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain terbuka. Tapi acap kali otak kita terpaku begitu lama menyesali pintu-pintu yang tertutup itu sehingga tidak mampu melihat pintu-pintu yang dibukakan.” Heidi McKenzie (2011), seorang psikolog klinis,menuliskan pengalaman masa kecilnya saat merayakan Paskah di sekolah. Saat itu ia sangat menginginkan hadiah berupa cokelat kelinci yang didapat siapa saja yang berhasil mengumpulkan telur paling banyak. Telur sudah dihias dan disebar di pekarangan sekolah, disamar-samarkan di antara rerumputan, daun, dan pohon-pohon besar. Ketika memungut beberapa butir telur, ia melihat sebuah bungkusan plastik berisi cokelat. “Ah itu bukan telur,” ujarnya. Heidi kecil (4 tahun) berpaling, tetapi temannya memungut kantong itu dan memasukkan ke dalam keranjangnya. Ia tertegun, lalu di dekatnya ada lagi benda lain, tapi bentuknya bukan telur. Ia ragu. Tapi temannya yang lain memperhatikan pandangannya dan dengan tangkas mengoreknya, lalu memasukkan ke dalam keranjangnya. Lagi-lagi ia kehilangan. Tapi ia berpikir, “Semua itu bukan telur. Biarkan saja.” Alhasil, Heidi kecil hanya mendapatkan sedikit telur dan gagal mendapatkan cokelat Paskah. Ia menangis. Pemenangnya adalah anak-anak yang mengambil kantong-kantong plastik yang sudah ia lihat tadi. “Andaikan saya lebih fleksibel dengan melihat ‘telur’ bukan semata-mata ‘telur ayam’ atau ‘telur betulan’, andaikan saya luaskan makna ‘telur’ tadi, mungkin sayalah pemenangnya, “ tulisnya 2 tahun yang lalu di Yahoo Network. Mengutuk Pintu yang Tertutup Setiap anak mengalami fase inflexibility. Namun pendidikan bisa mengubah mereka kalau kita mau meluaskan makna sekolah dari sekadar belajar angka dan huruf menjadi belajar tentang kehidupan dan bagaimana menaklukkan kesulitan. Dari belajar tentang pengetahuan menjadi bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan. Anak-anak yang tak dilatih kemampuan fleksibilitasnya cenderung mengutuk pintu-pintu yang tertutup sehingga sama sekali tak mengembangkan keahlian menemukan pintu-pintu yang terbuka. Tapi, maaf, ini juga terjadi pada orang dewasa. Lihatlah bagaimana orang ngotot dan marah saat izin membangun rumah ibadah tak diberikan, padahal umat harus terus beribadah. Tengoklah mantan karyawan yang bertahun-tahun berorasi dan melakukan long march dari Bandung ke Jakarta selama bertahun-tahun menuntut kenaikan uang pesangon yang diberikan kurang cukup (padahal sebagian teman mereka sudah melamar di perusahaan lain yang lebih berkualitas). Maaf, saya bukan tak setuju melawan diskriminasi dan penindasan. Saya setuju kita harus bela negara dengan membela kebenaran. Tapi kita juga harus lentur dalam berjuang dan memenangi pertempuran dengan kepala tegak. Seperti kata Adlai Stevenson, “Lebih baik kita menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.” Harus saya katakan pula hidup saya sendiri juga tak jauh berbeda dengan Anda. Karier kita ibarat perjalanan seekor kelinci yang membuat lubang di dalam tanah. Bukan hal yang aneh bila “lubang-lubang yang kita buat” ditutup oranglain. Itu bukan hal yang istimewa. Apalagi bila Anda jujur, disiplin, dan cerdas. Masalahnya adalah, mampukah Anda mencari dan menemukan “pintu-pintu” lain? Mereka yang membangun usaha pasti tahu, visi dan modal besar saja tidak cukup untuk menjadikan usaha besar. Segala yang Anda pikirkan dan kerjakan selalu saja ada hambatan dan sumbatannya. Anda yang sedang membuat tesis atau disertasi, ya sama saja. Gagasan-gagasan besar akan mati bersama kebebalan Anda, sedangkan mereka yang biasa-biasa saja bisa meraih banyak hal dengan mudah karena kecerdikannya yang kita sebut sebagai cognitive flexibility. Cognitive flexibility adalah sebuah keterampilan yang bisa dilatih, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Ia adalah sebuah keterampilan merajut pengalaman-pengalaman baru pada pengetahuan yang sudah ada sehingga dapat dipakai dalam situasi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Ini sama artinya dengan keterampilan menembus batas-batas kesulitan secara kreatif. Kata Heidi McKenzie, banyak orang yang gagal berubah karena selalu muncul pertanyaan “bagaimana kalau ....” Bagaimana kalau saya gagal, bagaimana kalau saya jatuh dan malu, dan seterusnya. Manusia harus banyak belajar bertanya dari sudut yang berbeda, yaitu: bagaimana kalau semua penghalang what if itu tidak ada? Bukankah saya akan menjadi lebih efektif? Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan
Belajar Melihat Perspektif - Kompas, 1 Oktober 2013
Salah satu latihan yang disukai anak-anak di sekolah kami adalah latihan perspektif. Ada sebuah gunungan di tengah-tengah meja yang membuat seorang anak yang duduk di satu sisi hanya bisa melihat benda-benda yang tampak di depang gunung yang menghadap ke dirinya. Ketika ditanya guru, apa saja yang bisa ia lihat dari sisinya sambil duduk, anak-anak menyebut semua benda yang tampak di depannya dengan baik. Di situ tampak seekor kambing, pohon kelapa dan sebuah mobil. “Sekarang, bisakah engkau melihat yang aku lihat dari sini?,” tanya bu guru yang duduk di sisi seberang. Anak itu menggelengkan kepalanya. Mereka lalu bertukar tempat duduk. Anak itu tersenyum. Ia lalu menyebut apa saja yang ia lihat dari sisi belakang gunung. “Seekor burung hantu, tulang tengkorak, pohon cemara dan ada orang,” ujarnya. “Sekarang, bisakah engkau melihat apa yang aku lihat dari sini?,” tanya bu guru. Anak itu mengangguk-anggukan kepala . “Ya!,” ujarnya mantap. “Seekor kambing, pohon kelapa dan sebuah mobil.” Ia lalu menyebutkan semua benda yang ada di atas meja, baik yang hanya bisa dilihat dari sisinya maupun dari sisi yang dilihat gurunya. Belajar “Melihat” Berulangkali saya mengatakan, perubahan tidak mungkin bisa dilakukan selama manusia gagal diajak melihat. Silahkan mengadah ke langit. Anda bisa saja berujar, “langit berwarna biru.” Teman di sebelah Anda enggan menoleh ke atas, ia hanya berujar pendek, “tak biru lagi.” Atau “tak semuanya biru”, “hanya sebagian biru,” bahkan “tak sama birunya.” Sudah hampir pasti setiap perubahan selalu menimbulkan guncangan, atau bahkan mendorong orang melakukan demo. Begitu ada yang berubah, manusia Indonesia belakangan ini menjadi lebih ekspresif dan reaktif. Seorang diplomat asing yang senang melihat demokrasi di Indonesia berujar, “Di negara saya, orang berpikir dulu, lalu mengambil tema dan turun ke jalan. Di Indonesia, begitu bangun tidur, orang punya kecenderungan berbicara dan mengajak orang lain berdemo.” Untuk apa berdemo kalau suara satu orang saja bisa didengar? Jawabnya jelas, untuk menimbulkan perhatian. Bahkan bisa juga untuk mengancam. Tetapi benarkah demo selalu dilakukan untuk kebaikan banyak orang dan demi perubahan yang lebih baik? Di UI saya pernah menerima petisi dari satu kelas mahasiswa S3 yang minta jadwal ujian preliminary ditunda satu bulan. Ujian itu sebelumnya tak pernah ada karena program studi sebelumnya diurus mereka yang tidak pernah sekolah doktor berbasiskan kuliah. Begitu ditata ulang dan diperbaiki, tentu para mahasiswa itu “kegerahan”. Namun setelah saya susuri, ternyata penyebabnya hanya 1 orang yang takut tidak bisa mendapat nilai bagus. Saya pun memanggil mereka satu persatu dan memisahkan “alang-alang dari padinya“. Akhirnya sumbernya ditemukan. Satu orang yang gelisah telah memprovokasi orang-orang yang siap ujian. Orang-orang baik yang siap mengikuti ujian ternyata kalah mengikuti kehendak satu orang yang paling lemah. Setelah diajak berdialog, orang yang paling aktif dan galak menentang jadual ujian secara beramai-ramai ternyata adalah orang paling cengeng ketika dihadapi seorang diri. Sejak saat itu saya menerapkan peraturan, dilarang mengajukan protes beramai-ramai, sebab suara satu orang pun pasti didengar. Saya memberikan nomor telpon saya kepada seluruh mahasiswa dan mereka boleh protes apa saja. Syaratnya hanya satu: jadilah pemberani yang terbuka. Saya pun wajib mendengarkan dan mencarikan jalan untuk masa depan mereka. Tidak sulit bukan? Tetapi masalahnya, masalah satu orang seringkali dipaksakan menjadi masalah banyak orang dan ini tentu keliru. Tapi yang jauh lebih penting dari semua itu adalah biasakan melatih orang melihat perspektif. Tugas pemimpin yang bersungguh-sungguh melakukan perubahan adalah mengajak orang lain mampu melihat apa yang ia lihat. Membukakan mata jauh sebelum sebuah perubahan digulirkan. Orang harus diajak melihat perspektif-perspektif baru sehingga ketika satu pintu tertutup mereka bisa "melihat" pintu-pintu lain yang terbuka. Jokowi tentu bisa mengubah Jakarta dengan ketulusan dan kejujurannya. Juga Prabowo bisa saja membukakan mata para penegak Hukum di Malaysia bahwa Wilfrida, TKI yang terancam hukuman mati adalah korban woman trafficking yang pantas dibebaskan dari ancaman hukuman mati. Tetapi untuk memperbaiki perspektif tentang perbedaan keyakinan yang belakangan tumbuh tajam di negeri ini, semua guru harus berani turun melatih anak-anak didiknya melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda-beda. Ini kalau kita masih ingin hidup dalam bingkai NKRI dan Pancasila. Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar, yang terlalu sempit bila dilihat dari satu titik yang dapat bertentangan warnanya dengan titik warna lainnya. Agama atau keyakinan adalah sesuatu begitu agung dan mulia yang mengisi kehidupan manusia dunia-akhirat bagi bangsa ini. Namun, ia menjadi sangat kecil bila diselewengkan manusia-manusia luka batin yang mempunyai aneka kepentingan dengan isu-isu SARA. Agama tak hanya bisa dilihat dari satu ayat dari sebuah surat untuk membenarkan perilaku-perilaku buruk bertentangan dengan ajaran pokok yang mengajarkan toleransi, kebaikan, dan saling menyayangi. Indonesia sendiri tengah menghadapi goncangan-goncangan perubahan yang tak pernah berhenti. Dalam goncangan-goncangan itu, kedamaian, dan kesejahteraan hanya bisa dicapai kalau orang yang datang dengan perspektif yang berbeda-beda mau melihat, mendengar, dan membuka pikiran-pikirannya terhadap kesulitan orang lain. Hari ini di sini kita menjadi mayoritas, esok saat berkelana dan hijrah kita bisa menjadi minoritas yang terasing. Saat itulah kita merasakan, betapa pentingnya arti dukungan dan bantuan orang lain. Tapi itulah awal dari perubahan yang kebih baik: biasa melihat dari sudut yang berbeda. Ayo latih diri melihat dari titik yang berbeda dan biasa menerima perbedaan sebagai sebuah kekuatan. Rhenald Kasali Founder Rumah Perubahan