I want to delete myself too
No title available

JBB: An Artblog!
No title available
Xuebing Du
Alisa U Zemlji Chuda

JVL
I'd rather be in outer space đž

â

@theartofmadeline
Not today Justin
will byers stan first human second
Cosmic Funnies
No title available

⣠Chile in a Photography âŁ
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
TVSTRANGERTHINGS
Jules of Nature

Discoholic đȘ©
Claire Keane
Today's Document

seen from TĂŒrkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Romania

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Chile
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from France
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from France

seen from Indonesia
@postdysphoria
I want to delete myself too
Membawa Maut di Punggung
Aku sudah pernah belajar hidup, karenanya aku sudah pernah belajar membunuh. Aku belajar membawa perasaan bersalah sebagai kedaulatan. Tubuh yang mengejang atau darah yang muncrat di jelang ajal. Entah itu semut entah itu waktu yang akan melumat habis jasad. Aku sudah pernah belajar membunuh tapi aku tak pernah belajar cara bertarung melawan orang-orang yang enggan hidupnya dicabut. Mereka membiarkan aku membunuh. Aku hanya ingin mencabut mimpi dari seluruh tidurku. Mencabut pelajaran-pelajaran membunuh yang merenggut segala bentuk perasaan dari dalam tubuhku.
Namun itu bukan masalah lagi. Aku sudah pernah belajar caranya mati. Sabtu lalu aku pergi menjumpai tubuhku lagi dan menyadari bahwa mati hanya perasaan terburuk: kita berpikir bahwa ia adalah akhir, namun ia hanya pintu bagitu hidup lain yang harus kita laluiâlagi, berulang kali. Aku tak tahu bagaimana orang-orang lain dapat bertahan hidup, bagaimana mereka bisa menyenangi hari, bagaimana mereka bisa menyadari bahwa perjalanan mereka masih punya arti. Mampus, kau mampus. Pergi mati pun kau gagal, lagi dan lagi. Bagaimana sih caranya mengelola energi? Tubuhku tekun mengajak pergi mati.
Pada akhirnya kita memang tidak punya waktu untuk asmara-asmara yang remeh dan lugu
Hal-hal yang perlu kita catat malam ini
1. Narasi kesadaran kelas diberangus secara tersistematisasi sejak Orde Baru. Residunya masih berlaku hingga hari ini. Mempercayai narasi demonisasi terhadap pendekatan kritis ini sama artinya dengan menyerahkan diri pada penundukan. Lawan.
2. 'Kemandirian' adalah kemewahan. Kita yang terpelajar (ini juga butuh modal) dibuat percaya bahwa kita istimewa, setidaknya pada hari-hari ini. Kelas menengah adalah rekayasa. Kita sebetulnya tak berbeda, tapi dibuat merasa berbeda. Dibuat mendominasi, untuk menstabilisasi rantai eksploitasi.
3. Narasi independensi kita melemahkan diri kita sebagai individu. Narasi ini juga melemahkan kita sebagai bagian dari kelompok sosial yang lebih besar. Narasi ini hanya membawa polarisasi antarkelas (padahal kelas menengah itu tadi adalah rekayasa).
4. Kita tidak sedang baik-baik saja. Apa yang kita nikmati bisa jadi ialah investasi penjinakkan hari ini. Kita tak bisa berpura-pura netral. Mengaku diri sebagai apolitis adalah juga sikap politik itu sendiri. Kita tak lagi boleh menjadi massa mengambang yang mudah dikendarai.
5. Ganggulah status quo.
Suatu waktu, minggu gagal berlabuh. Tubuhnya larut pada subuh yang meluruh sedang perasaan-perasaan kita terlalu mudah rapuh.
Kau begitu ingin memeluk kekasihmu begitu bangun nanti, tapi kau tahu bahwa kau hanya tengah diajar mencintai sepi.
Selamat pagi, bisikmu lagi. Kemudian kau akan terbiasa menjawabi dirimu sendiri. Kau tak suka hubungan tak suka perasaan tak suka bagaimana dirimu sendiri bisa begitu lalai mengakali ingin.
Selimutmu begitu dingin subuh ini. Puisimu pergi menggigil.
Apakah di jendela apartemenmu ada laporan cuaca yang baik?
Aku sudah tak lagi menanti debaran. Aku sudah tak ingin menghabiskan waktu menerka-nerka, âKau sedang apa?â Aku tak ingin bolak-balik membuka kotak percakapan kita dan bertanya-tanya sendirian mengapa kau tak kunjung membalas pesankuâsebab bukankah kita telah sepakat bahwa daya pikat memang punya masa kedaluwarsanya dan akan berakhir tanpa pemberitahuan? Tapi aku tak ingin kau bosan dulu.
Aku masih ingin bisa menemuimu pada suatu sore yang kita juga tak tahu kapan akan terjadi: aku akan menjumpai punggungmu begitu aku menutup pintu. Kau menunduk membaca buku. Aku akan memelukmu dari belakang dan kau akan berbalik, tersenyum begitu bahagia, lalu membalasnya dengan kecupan yang begitu dalam. Suatu sore, ya, jika kita memang bisa berjumpa sebelum rasa bosan menghinggapi kita berdua. Tapi aku tak ingin kau bosan dulu.
Karena kau sudah berjanji bukan? Berjanji untuk membalas hutang-hutang pelukan dan kecupan yang kita berdua juga tak pernah ingat dari mana ia bermula. Barangkali sebab hari-harimu terlalu penat atau pekerjaanmu terlalu menjenuhkan. Aku juga tidak sedang merasa kesepian. Tiba-tiba saja kita dihinggapi penantian-penantian sementara. Tidak, aku tidak merasa kesepian. Ini perasaan yang sama sekali berbeda.Â
Tapi aku sudah tak lagi butuh debaran. Kau tak perlu merutinkan diri untuk menghubungiku di akhir pekan sebab anak laki-lakimu membutuhkan ruang pantul yang lapang (dan kekasihku akan memberikan banyak dekapan). Jadi, jangan terlalu lama membalas pesanku. Aku tak ingin kau bosan dulu.
Hotel
(Subagio Sastrowardoyo)
I Kita bisa berhenti dan pesan satu kamar Kita ingin lupa kita sudah tua dan punya anak lima orang Dinding di sini cukup tebal dan tetangga tidak akan tahu kita berpeluk dan tertawa Kau tutup mataku dengan tanganmu supaya aku hanya merasa tidak melihat Kembang di jembangan di atas meja terbuat dari kertas merah muda
II Aku bermimpi: telah mendengar nyanyian kanak dari kampung tak berhuni Suara tak berujud tapi hadir, tak berkata tapi berbicara Jamahan jari tak bermuka Kata kerja tanpa benda Waktu bangun aku terlupa semua nada dan tertawa tak perduli Bagaimana kau bermimpi? Bianglala turun di pantai siang Bukit karang menjorok ke pangku laut dan gugur batu demi batu Semua rebah tanpa suara dan air bercahaya di bawah riang warna melengkung Dingin pagi membuat tubuhku menggigil dan gila mencium
III Di kota ini semua orang jadi asing Masing-masing memakai topeng atau ingin tak bermuka sama sekali Kita anak yang bersalah yang malu akan kesalahan sendiri Padamkan lampu. Kamar ini lobang perlindungan di jaman perang dan di waktu damai jadi persembunyian bagi maling dan bagi orang tua yang ingin muda kembali Isteriku, kau kini pacarku yang baru malam ini berdamping
IV Tunggu aku di kamar ini kalau aku sedang pergi Kalau merasa sepi bisa baca buku atau duduk di jendela melihat kehidupan lewat tak berhenti Tapi jangan bicara dengan orang tak dikenal dan meninggalkan aku seperti dulu lagi Jangan lekas percaya kepada orang baru datang Petualangan menghilangkan perasaan setia. Engkau janji
V Kalau langit itu biru, semua akan biru: bumi dan laut mata dan rambut, juga cinta dan kata yang terkulum di mulut Tapi matahari telah padam sejak semalam Dan badan kita terbaring di ranjang dalam kemelut kelam
VI Kita tidak akan berbicara tentang politik atau agama Kita berbaring saja di dalam dekat lampu kelam --Malam begitu dingin, kau pakai selimutmu yang tebal Dan omong-omong mengenai anak kita yang bersekolah Tentang ketekunannya, tentang perjuangannya hendak mengerti pengetahuan kita yang dewasa Apa yang kita tahu. Hanya setitik cahaya di atas lautan rahasia Kita ingat orang tua, bapak dan ibu Yang tak pernah tahu masing hati Yang berpaling ke kubur tetap membisu Dan kita sendiri, apa yang kita tahu Tanganmu dingin di tanganku. Peganglah erat Rasakanlah. Hanya ini yang kutahu. Bahwa kau ada. Hanya itu
VII Jangan kita cari tanah atau rumah Kita tidak bisa tinggal lama Malam kita menginap dan berangkat subuh hari Kita anak piatu yang kehilangan bapak dan mencari Di hotel ini kita bertemu dan di pojok jalan ke benteng tua berpaling muka Kita akan saling lupa
Devosi
Aku gagal paham dengan yang masih keras kepala menjadikan militansi sebagai kompetisi. Apakah kita sengaja dibuat lupa bahwa kehidupan setiap orang pada dasarnya multidimensiâsehingga arah, bentuk, dan strategi perlawanannya bukan hanya sekadar hitam dan putih? Mengapa kita justru malah terlena dalam narasi dikotomi semacam ini?
Mesianisme adalah mengapa kita gagal berkali-kali, karena energi dan kesadaran dialokasikan hanya pada yang itu-itu lagi, dengan cara yang itu-itu lagi; sedangkan abad terus berlari. Dunia terus berjalan dan pada akhirnya kita harus berdiri di banyak kaki. Dunia terus berjalan sementara energi kita begitu terbatas dan harus bijak dibagi.
Tidak ada manusia yang berhutang untuk menjadi pahlawan super dan selalu siap sedia di setiap pertarungan. Kita juga terlalu lama membiarkan diri terinjak-injak dalam pertarungan yang tak perlu, hanya demi memenuhi standar-standar militansi yang ternyata tidak berpengaruh apa-apa pada yang ada di luar lingkaran kita sendiri.
Apakah sebuah kewarasan yang sedang kita percayai ketika kita terus mengharapkan hasil baru dari cara-cara yang lama dan sama? Kita memang bergerak, kita berlari, kita terseok, kita berteriak, kita kelelahanâtapi kita tidak ke mana-mana. Kita berputar di titik yang sama. Apakah penderitaan diri telah menjadi standar prestasi tersendiri? Bagaimana kita menjaga diri agar tak jadi rutin melukai diri dan menjadikannya sebagai bukti dedikasi? Bagaimana kita menahan diri agar ia tak menjadi transisi menuju romantisasi kekalahan?
Tahun lalu aku melakukan percobaan bunuh diri dan mungkin tak ada yang peduli kecuali ketika aku sampai keburu mati. Kali ini aku menghabiskan tahun dengan demam dan flu seminggu sekali. Ini kekalahan bagi diriku sendiri, dan ini bukan prestasi. Aku hanya ingin belajar mencintai diri sendiri sebelum berpikir bisa mencintai dan menjadi pahlawan bagi orang lain.
Selamat hari kasih sayang.
aku butuh pantulan-pantulan baru
Aku butuh pantulan-pantulan baru sebab kepalaku penuh. Arus besar tanpa arah hanya membentuk benturan-benturan saja di dalam tempurung. Tidak. Tidak ada nada. Tidak ada irama. Hanya gemuruh yang mengganggu dan pada saat-saat tertentu ketika ia tak bisa terbendung lagi mereka akan menyuruhmu untuk tidur yang berkepanjangan (yang bagiku terdengar menyenangkan dan begitu damai tapi tidak ingin kulakukan dulu saat ini).
Aku berhenti menulis di sini sebab aku pernah berusaha bertingkah layaknya orang-orang seusiaku: jika menulis, menulislah dengan teratur dan dewasa. Dengan tata krama dan alur cerita yang jelas, serta sumber liiterasi agar argumen-argumenmu tidak ditertawai. Namun sayangnya, tekad semacam itu hanya memperburuk kecamuk badai yang semakin hari kupikir hanya akan mengancam sinapsis-sinapsisku yang krisis.
Karenanya aku senang bertemu dengan orang-orang asing. Aku pernah merutinkan diri bertemu dengan orang-orang baru yang tak kukenal sama sekali dan menceritakan apa saja. Sayangnya aku tak lagi bisa serta merta mempercayai orang begitu saja, sebab mulut di tahun-tahun ini bisa juga berarti mencicil maut. Aku mencabut jadwal itu dari catatan kalenderku dan membiarkan diri berbenturan dengan orang-orang yang itu-itu saja. Kadang aku juga bertanya, aku ini mudah bosan atau hanya sedang berusaha melarikan diri dari kesepian.
Karenanya aku kembali lagi ke sini. Aku sedang tidak menulis untuk siapa-siapa kecuali diriku sendiri agar ia bisa menemukan dengan liar pantulannya yang lain. Aku tak bisa menerus bangun pada pukul 3-4 pagi dengan peluh dan kepala yang acak lalu gagal berfungsi sepanjang hari. Mereka memintaku beristirahat tapi otak kita tidak bisa diminta rehat. Aku berkejaran dengan tenggat dan dunia seperti berjalan begitu tergesa-gesa seakan sekarang memang hanya untuk sesaat.
Suatu waktu aku ingin belajar melepaskan diri dari tubuhku lalu menemui diriku sendiri. Mengajaknya minum kopi atau menyesap teh panas daun dan bunga yang diberikan seorang kawan sambil bertanya, apakah kamu memang mampu melalui hari? Kita sudah terlalu banyak berlari tanpa pernah tahu pasti apa yang kita cari.
Aku tak suka udara dingin yang berhasil menyergap betisku yang gemuk
âKepalamu terlalu penuh,â seseorang pernah berkata dari jaraknya yang begitu jauh. âTidak apa-apa jika kamu mau meneleponku,â lanjutnya kemudian, yang tak juga kulakukan.Â
Mungkin ia benar. Kepalaku seperti cawan yang entah karena pongahnya atau karena lugunya selalu sigap menadah. Sewaktu-waktu isinya yang terceceran menjelma menjadi kesedihan yang teduh. Di lain waktu, ia menjadi kengerian yang penuh.
Sudah dua malam berturut-turut ini aku bermimpi yang sama. Aku tinggal di suatu arena yang sepi, barangkali pegunungan yang tergentrifikasi dengan lambat. Tanah lapang diisi beberapa gedung tingkat yang kesepian. Udara sejuk rutin menyelimuti walau hari sudah tak lagi pagi.
Aku mengawali hari dengan ruang kelas yang tak istimewa. Ia memanjang secara horizontal dan tidak nampak seperti perguruan yang istimewa juga. Aku bahkan tak ingat apa saja yang aku pelajari. Yang aku ingat, kawan-kawan akan mengajakku naik ke puncak gunung setiap pulang dan melalui gerbang sekolah senormal anak sekolah perkotaan janji mampir ke pusat perbelanjaan. Tentu saja ini bukan masalah. Naik ke puncak gunung jaraknya tak makan setengah hari pun. Cara yang baik untuk bersantai. Cara yang baik pula untuk menghindari pemandangan yang terus menerus sama sepulang sekolah.
Gedung sekolah berawarna oranye-krem itu tampak baik-baik saja. Hanya saja jika kita lalui lebih jauh, gedung-gedung di belakangnya begitu menjijikkan. Lebih banyak lumut atau debu atau entah kerak apalah di gedung belakang bertingkatnya yang menghitam. Semacam selaput gelap juga berterbangan dari jendela-jendelanya.
Namun kenyataan itu masih bisa kutahan ketimbang pemandangan yang mengisi lapangan kosong sebesar 2 lapangan sepak bola di antara gedung-gedung itu: di berbagai titik mayat-mayat bocah bertumpukan. Tubuh kanak-kanak dari beragam usia bertumpuk di sana. Tubuh mereka sudah tak lagi berwarna. Hanya pasi yang beku. Tak ada bau. Tak ada lenguh. Seragam sekolahnyaâkaos polo dan celana pendekâsama pucatnya. Abu-abu nyaris puti, seperti serat kainnya pun turut mati. Aku hanya ingat aku selalu berkata, âIni bukan pemandangan yang semestinya kau lihat di depan gedung sekolah.âÂ
Aku ingat kembali masuk ke gedung itu. Kosong dan tak bertuan. Bau apek, debu, dan lengket dari temboknya menyergap. Aku masuk ke kamar mandinyaâentah untuk apa, aku juga tak paham mengapa ngeri tak begitu menyapa lagi. Yang aku ingat adalah aku benci pada kawan-kawanku yang berisik setengah mati memanggil-manggil namaku (dari mana sih mereka masuk? Untuk apa sih mereka membuntutiku?) dan mengejekku, âCeritakan dong, ponselmu kan baru! Masa tidak mau cerita! Pelit sekali kamu ini!â
Aku berusaha menghardik dan menyuruh mereka diam, seakan tak ingin ketahuan bahwa ada orang di sana. Aku tak tahu kami harus sembunyi dari siapa, tapi pada saat itu baru rasa ngeri berhasil kembali. Aku kemudian ingat bahwa ketika kemarin aku memutuskan untuk masuk ke sana, rasa ngerinya terasa jauh lebih parah tapi aku tak bisa mencari tahu kenapa.Â
Perbuatan manusiakah mayat-mayat ituâyang kontras pada warna alam sekitarnya yang begitu segar? Ataukah sisa-sisa bencana yang tak bisa kutemui jejaknya? Aku tak tahu mengapa tak seorangpun memanggil polisi, tapi desa ini memang sepi sekali. Udara terlalu dingin untuk aku berjalan-jalan seorang diri. Aku juga tak ingat rumahku ada di sebelah mana. Aku tak mau mengulang lagi rutinitas hari dengan melewati mayat-mayat bocah bertumpukan dengan rasa ngeri di dadaku yang terus menghilang sepanjang hari.
Asam lambung yang naik semata kaki
Setelah sekian waktu, kau akan terbiasa dengan penolakan-penolakan. Kau mungkin akan menghubungiku dan terus meracau, apakah kau telah menjelma membosankan dan kau tak lagi menyenangkan? Aku akan menjawabâdan ini jujur sekaliâbahwa kau masih memikat. Mungkin jauh lebih memikat ketimbang saat pertama kali aku mengenalmu. Lalu, aku yakini, kau akan menyanggah, âAh, itu kan cuma kamu saja yang berpikir begitu!â Kalau kau tanya aku, ya memang seperti itulah jawabku, karena kutahu, kau ingin tahu apa ia juga menganggapmu masih sememikat dahulu. Kalau itu, aku juga tidak tahu.
Aku sama sekali tak tahu mengapa kau tiba-tiba menjelma remaja belasan tahun yang sedang puber, padahal usiamu hampir rampung seperempat abad. Aku tak tahu apakah itu rasa penasaranmu yang sulit kau tahan untuk tak beri makan, atau kau memang betulan terpelanting ke dalam jebakan perasaan-perasaan tanpa persiapanâhingga kau lupa menyisakan pertanda untuk membawamu pulang. Kau tersesat. Itu yang aku tahu.Â
Iya, iya. Kau sudah berulang kali merengek dan bilang bahwa ia tak menjawab pesanmu lagi. Untuk yang itu aku juga tak tahu mengapa. Mungkin kekasihnya mulai mencurigai namamu yang menerus muncul di ponselnya. Mungkin kekasihnya mulai mencurigaimu yang tiba-tiba ia temui ketika mereka pergi tamasya ke luar kota. Atau mungkin, ia sedang sibuk saja. Atau mungkin, seperti kamu, ia juga sedang kelimpungan: tak tahu maunya apa.Â
Aku juga tak bisa menjawab jika kau tanya mengapa ia seakan menjauhkan dirinya darimu, walau dulu ia yang paling sering mencecarmu dengan ajakan-ajakan pertemuan. Mungkin karena kami terlalu sering mengakhiri ajakan pertemuan dengan percumbuan? Waduh, kalau yang itu aku lebih tak tahu lagi. Aku belum pernah mencumbumu jadi tak tahu apakah kau memang semembosankan itu.
Aku bukannya sedang memperburuk kekhawatiranmu. Aku juga tak mengerti mengapa kau seperti ini. Yang aku tahu, tak semua hal bisa dijawab dengan matematikaâwalau aku juga meyakini bahwa semua hal harus punya dasar logika. Kau mungkin keracunan. Jangan terlalu banyak menenggak alkohol. Negara sedang gawat. Pekerjaan butuh dikerjakan cepat. Jangan tidur terlalu larut, nanti asmamu kumat.
Kau tahu, ini yang aku tahu: dulu akupun begitu. Aku tak bisa menyarankanmu belajar menikmati nyeri-nyeri yang muncul tiap melihat pesanmu yang tak kunjung dibalas ituâjangan coba-coba meneleponnya, ya. Awas kau. Yang aku tahu: kau pun akan terbiasa dengan penolakan. Masa kau tak mau bahagia kalau ia bahagia dengan lain perempuan?
Seribu rubah pecah di jendela
Ini adalah preseden yang buruk untuk hidup kita yang lucu dan lugu. Saya jadi bertanya-tanya kembali hidup ini apa dan untuk apa dan untuk siapa dan bagaimana, apakah keraguan-keraguan dan kenekatan yang terjadi memang layak dilalui dan seterusnya dan seterusnyaâpertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tak lagi menyita begitu banyak waktu dan tenaga di usia saya yang sudah lewat dua puluh lima.
Tenaga, ya. Tenaga. Mengapa belum juga ada start-up yang menawarkan jasa lokakarya manajemen tenaga, setidaknya untuk pura-pura bahagia? Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menjadi manusia sebagaimana mestinya?
Namun, apa artinya menjadi manusia? Barangkali kita hanya gejala-gejala yang gegabah di tengah jenggala yang buta. Mudah mengayuh namun rapuh, terlalu gengsi untuk menepi walau terlalu sering dikejar-kejar sepi... Itulah, itulah. Kita terperangkap dalam penjara bahasa dan ekses-ekses kuasanya. Apakah kita harus membayangkan semesta yang nirbahasa agar tak mudah diselengkat oleh penjara bahasa? Namun, menjadi manusia juga adalah kuasa bahasa itu sendiri! Mengapa sih tak biarkan kami beristirahat dan belajar kembali caranya menyayangi diri sendiri? Tak bisakah bahasa berhenti muncul di tepi?
Tapi, apa itu kata dan mengapa ia berhak mencuri wacana? Apa ini kita dan mengapa penuh bercak dan bahaya? Seribu rubah muncul di jendela kamar saya tadi malam. Selebihnya adalah pagi yang pergi meloncat seperti seekor kutu yang kutemui dari rak bukumu, pekan itu. Astaga, saya rindu minum es kopi susu tanpa huru-hara. Namun, saya lebih rindu memiliki ragu. Saya lebih rindu memiliki takut. Namun, saya tak ingin tunduk. Tak ingin takluk. Matahari mengikuti saya pagi ini dan menyusup di antara sela-sela jari saya yang gemetar membaca berita pagi. Panasnya mengingatkan saya pada ideologi yang celaka. Tuan-tuan yang berbaris di belakang istana, kembalikan jam tidur saya.
teleportasi bukan hanya perkara jarak, tapi juga perkara interval waktu
Pada masa ini, kecanggihan teknologi tak lagi terbantahkan. Maksudku, segala kemungkinan yang kita pertanyakan sudah bisa dibuktikan. Perkaranya adalah apakah kemungkinan-kemungkinan yang bisa dibuktikan itu juga bisa memenuhi ekspektasi kita sepenuh-penuhnya? Sebut saja: teknologi teleportasi.
Aku tak tahu pasti usaha apa saja yang sebetulnya dijalani perusahaan tempatku bekerja ini. Gedung-gedung bertembok putih dan disekat kaca yang terlalu gigantik. Setiap karyawan lain yang kutemui seperti orang-orang asing yang terlalu takut untuk saling menyapa. Yang kuyakini, aku mengemban tugas penting.Â
Suatu hari, seorang laki-laki yang kukenal sejak masa lalu (aku mengenalnya di dunia nyata) ternyata jadi penjahat. Seorang kawan lama yang kukenal dan akrabi untuk kurun waktu yang tak sebentar. Ia mencuri dokumen yang harusnya tak boleh disebar pada siapapun, kecuali orang-orang tertentu di kantorku. Atasanku menyerahkan tugas penangkapan padaku seutuhnya.
Kantorku, perusahaan teknologi masa depan dan sains tingkat tinggi, menciptakan teknologi teleportasi untuk kemudahan berbisnis di antara sesama karyawannya. Dalam kondisi pengejaran target yang sudah keburu kabur jauh ini, teknologi teleportasi ini pun jadi opsi utama yang kugunakan. Dalam proses ini, yang kulakukan adalah memencet tombol âSendâ pada tablet berlapis karet gelap dengan ketebalan ± 2 cm. Proses ini harusnya tak makan waktu lama: aku mengunci titik lokasi tersangka dan mengirimkan mobil dinas ke sana untuk mengejarnya. City car warna biru tua (Siapa sih yang mengemudikannya? Aku juga tidak tahu. Di mimpi, aku tak memikirkan itu). Sialnya, entah karena jaringan satelit yang ngadat atau memang teknologi teleportasi ini yang belum siap: notifikasi âPendingâ dan âSending Failedâ muncul berkali-kali, yang refleks kurespon dengan menekan tombol âSendâ berulang kali juga.
âIa tertangkap!â Konfirmasi itu akhirnya kuterima dari atasanku. Kami meneleportasikan diri ke lokasi penangkapan: sebuah jalan perumahan yang jalur aspalnya muat 2 mobil. Di tengah perjalanan kaki menuju titik tepat penangkapan, aku merasa lumayan kangen dengan kawan lamaku yang sudah jadi penjahat ini.
Kupikir aku bisa menjabat tangannya dulu, tapi aku urung. Yang kutemukan adalah tubuh yang remuk dengan beberapa bagian yang terberai. Darah merah segar membasahi aspal. Di sisinya adalah 2 city car biru tua yang sudah berasap dan juga remuk di sana-sini. Kedua mobil itu tak utuh. Tak ada potongannya yang terhempas dari sana. Kedua mobil itu mengalami gagal pengiriman. Keduanya terkirim berulang dan bertubrukan dalam pengiriman hingga meremukkan kawan lamaku yang sudah jadi penjahat. Tak ada seorang petugas pun di lokasi yang membahas dua mobil itu. Bahkan penduduk sekitar yang menonton hanya terfokus membicarakan tubuh kawan lamaku yang remuk itu.
Sekembalinya dari sana, ada waktu dan narasi yang terpotong. Yang kuingat adalah aku menghabiskan hari-hariku untuk menyamarkan identitas dan mengganti tampilan serta nama dan aksen bicara. Dari satu lokasi perkumpulan ke lokasi perkumpulan lainnya yang ada di lantai dasar berlapis kayu, aku berpura-pura bahwa aku bukan aku. Aku terus berlari.
Aku seperti bisa mengingat caranya bicara, caranya membantah, dan caranya tertawa. Aku selalu takut jika sewaktu-waktu kecerobohanku akan mencelakakan orang, tapi aku akhirnya melakukannya pada kawan lamaku sendiri. Aku menjadikan diriku sendiri buronan yang menewaskan kawan lamaku, meski tak ada seorang pun yang membicarakan penyebab kematiannya itu. Aku pergi melarikan diri tapi kantorku seperti tak pernah jauh. Setiap karyawannya menungguku kembali, sebabâmenurut ingatan dalam mimpiku ituâaku terlalu penting.
Berbulan-bulan melarikan diri, aku akhirnya kembali. Tak ada seorang pun yang bahkan menyebut nama kawanku ini atau kasus pencurian yang ia lakukan itu. Sama sekali.  Meski demikian, aku tetap kembali dengan harapan bisa menebus dosa lewat upaya untuk memperbaiki teknologi teleportasi itu. Namun, begitu menjumpai atasanku yang selalu berjalan terburu-buru itu, yang keluar dari mulutku hanya, âBisakah aku melanjutkan saja proyek itu? Sebab toh ia juga sudah mati; sudah tak bisa melanjutkannya lagi.â
Aku tak tahuâlebih tepatnya tak ingatâjawaban yang diberikan atasanku. Yang kuingat adalah aku terbangun dengan rasa ngilu dada. Aku menyadari bahwa yang disebut penjahat dalam mimpiku adalah rekan sejawatku yang sama-sama menjalankan proyek yang sama pentingnya denganku. Bisa jadi ia membelot atau berkhianat, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti: aku telah membunuhnya dengan kegagalan teleportasi, dan aku tak ingin terlibat dalam hal-hal penting dan besar lagi.
tentang mencatat mimpi
Konon, produk audio visual yang kita tonton akan mempengaruhi visual dalam mimpi kita, terutama yang kita tonton waktu kanak. Saya gunakan kata âkononâ karena walau sudah ada beberapa artikel yang menulis tentang hal ini (misalnya saja âGenerasi Televisi Hitam-Putih Mimpinya Monokromatikâ, âBeberapa Orang Hanya Bermimpi dalam Hitam Putihâ, atau âHitam-Putih: Televisi Mempengaruhi Mimpimuâ), saya kadang masih meragukannya (apalagi pasangan saya yang ngotot kalau artikel-artikel itu dusta. Hahaha.)
Belakangan saya menyadari bahwa setiap kali saya bisa tidur lelap (deep sleep), mimpi saya kebanyakan distopian atau apokalipstik. Mungkin karena film-film yang saya tonton belakangan ini kebanyakan berlatar apokalipstik dan segala kenyataan kemajuan peradaban yang hanya menyengsarakan. Beberapa teman menganjurkan saya untuk mengurangi tontonan-tontonan depresif dan memperbanyak tontonan senang-senang dan gemas-gemas (misalnya yang semacam Flipped (2010) atau Moana (2016)); meski kadang saya ragu mimpi-mimpi itu betulan datang karena saya kebanyakan nonton yang bukan-bukan.
Lantas, karena setiap bangun tidur saya banyak melamun karena mimpi-mimpi itu, saya memutuskan untuk mencatatnya. Siapa tahu pada suatu saat nanti, mimpi-mimpi itu berguna untuk bisa bertahan di kenyataan hidup masa depan yang entah akan jadi sedistopian mimpi-mimpi saya atau tidak. Sebetulnya sih, supaya tidak lupa saja bahwa pikiran saya pernah memproyeksikan mental image nan sinematik yang terlalu sayang untuk dibuat ke tempat sampah ingatan. Begitulah.
I'm getting used to be considered as the most ungrateful daughter in entire family for trying to be more critical, logical, and the most essential of all: to be a more decent human-being.
si dungu yang bermimpi
Aku menangis malam tadi. Cahaya terlalu temaram untuk kau bisa mengenali titik yang mengambang di ujung mataku. Aku bertanya-tanya tidakkah kau menangis juga malam tadi, karena kau selalu yang paling perasa. Sementara perasaan-perasaanku seperti telah lama mangkat dan tak mengenal kehidupan kedua. Tapi, aku menangis malam tadi. Seperti luka yang lama tak pernah bertandang, lalu mampir dan menjarahâtentu saja tanpa permisi.
Aku seperti menyaksikan diriku dan kamu serta segala kegilaan yang kita pendam diam-diam. Aku tak tahu bagaimana kamu memainkan bayangan masa depan di dalam kepalamu. Aku sendiri juga kadang tak paham bagaimana bayangan masa depan berlarian di dalam kepalaku. Mereka berganti tiap petang. Mereka terganti tiap gamang.
Aku ingat malam-malam waktu kita tak bisa tidur. Mimpi-mimpi masa muda kita berlarian dalam kata yang terlontar dari lidah-lidah kita yang penuh gairah. Keinginanku, keinginanmu. Kebahagiaanku, kebahagiaanmu. Segala cita-cita yang kita pikir tak pernah perlu ada, tapi kita tetap melakukannya. Bersama luka, bersama pertaruhan terhadap segala nelangsa. Kita tetap berjalan menghadapinya, tak tahu akan ke mana. Tapi kita tetap berjalan.
Aku pernah mengira aku tak bisa lagi jadi rapuh, tapi malam tadi aku menangis. Aku seperti menyaksikan kebodohan dan kekecewaan kita diperistiwakan, dengan segala peluk dan kecup turut dalam pelarian kita yang seperti menyerah untuk berhenti, untuk kecewa, untuk terluka, atau untuk bertanya untuk apa kita lakukan ini?
Tapi malam tadi adalah istimewa dan aku menangis sambil menggenggam tanganmu. Memandangi matamu yang memandangi mataku yang memandangi setiap mimpi yang penuh dengan kegilaan. Aku ingin bisa bersamamu, menggandeng juga orang-orang gila lainnya yang tak tahu mau tahu artinya lelah, artinya disingkirkan, artinya diabaikan. Tekun di jalan sunyi, karena kau tahu cara meredup sepi.
And here's to the fools who dream Crazy, as they may seem Here's to the hearts that break Here's to the mess we makeÂ