teleportasi bukan hanya perkara jarak, tapi juga perkara interval waktu
Pada masa ini, kecanggihan teknologi tak lagi terbantahkan. Maksudku, segala kemungkinan yang kita pertanyakan sudah bisa dibuktikan. Perkaranya adalah apakah kemungkinan-kemungkinan yang bisa dibuktikan itu juga bisa memenuhi ekspektasi kita sepenuh-penuhnya? Sebut saja: teknologi teleportasi.
Aku tak tahu pasti usaha apa saja yang sebetulnya dijalani perusahaan tempatku bekerja ini. Gedung-gedung bertembok putih dan disekat kaca yang terlalu gigantik. Setiap karyawan lain yang kutemui seperti orang-orang asing yang terlalu takut untuk saling menyapa. Yang kuyakini, aku mengemban tugas penting.
Suatu hari, seorang laki-laki yang kukenal sejak masa lalu (aku mengenalnya di dunia nyata) ternyata jadi penjahat. Seorang kawan lama yang kukenal dan akrabi untuk kurun waktu yang tak sebentar. Ia mencuri dokumen yang harusnya tak boleh disebar pada siapapun, kecuali orang-orang tertentu di kantorku. Atasanku menyerahkan tugas penangkapan padaku seutuhnya.
Kantorku, perusahaan teknologi masa depan dan sains tingkat tinggi, menciptakan teknologi teleportasi untuk kemudahan berbisnis di antara sesama karyawannya. Dalam kondisi pengejaran target yang sudah keburu kabur jauh ini, teknologi teleportasi ini pun jadi opsi utama yang kugunakan. Dalam proses ini, yang kulakukan adalah memencet tombol “Send” pada tablet berlapis karet gelap dengan ketebalan ± 2 cm. Proses ini harusnya tak makan waktu lama: aku mengunci titik lokasi tersangka dan mengirimkan mobil dinas ke sana untuk mengejarnya. City car warna biru tua (Siapa sih yang mengemudikannya? Aku juga tidak tahu. Di mimpi, aku tak memikirkan itu). Sialnya, entah karena jaringan satelit yang ngadat atau memang teknologi teleportasi ini yang belum siap: notifikasi “Pending” dan “Sending Failed” muncul berkali-kali, yang refleks kurespon dengan menekan tombol “Send” berulang kali juga.
“Ia tertangkap!” Konfirmasi itu akhirnya kuterima dari atasanku. Kami meneleportasikan diri ke lokasi penangkapan: sebuah jalan perumahan yang jalur aspalnya muat 2 mobil. Di tengah perjalanan kaki menuju titik tepat penangkapan, aku merasa lumayan kangen dengan kawan lamaku yang sudah jadi penjahat ini.
Kupikir aku bisa menjabat tangannya dulu, tapi aku urung. Yang kutemukan adalah tubuh yang remuk dengan beberapa bagian yang terberai. Darah merah segar membasahi aspal. Di sisinya adalah 2 city car biru tua yang sudah berasap dan juga remuk di sana-sini. Kedua mobil itu tak utuh. Tak ada potongannya yang terhempas dari sana. Kedua mobil itu mengalami gagal pengiriman. Keduanya terkirim berulang dan bertubrukan dalam pengiriman hingga meremukkan kawan lamaku yang sudah jadi penjahat. Tak ada seorang petugas pun di lokasi yang membahas dua mobil itu. Bahkan penduduk sekitar yang menonton hanya terfokus membicarakan tubuh kawan lamaku yang remuk itu.
Sekembalinya dari sana, ada waktu dan narasi yang terpotong. Yang kuingat adalah aku menghabiskan hari-hariku untuk menyamarkan identitas dan mengganti tampilan serta nama dan aksen bicara. Dari satu lokasi perkumpulan ke lokasi perkumpulan lainnya yang ada di lantai dasar berlapis kayu, aku berpura-pura bahwa aku bukan aku. Aku terus berlari.
Aku seperti bisa mengingat caranya bicara, caranya membantah, dan caranya tertawa. Aku selalu takut jika sewaktu-waktu kecerobohanku akan mencelakakan orang, tapi aku akhirnya melakukannya pada kawan lamaku sendiri. Aku menjadikan diriku sendiri buronan yang menewaskan kawan lamaku, meski tak ada seorang pun yang membicarakan penyebab kematiannya itu. Aku pergi melarikan diri tapi kantorku seperti tak pernah jauh. Setiap karyawannya menungguku kembali, sebab—menurut ingatan dalam mimpiku itu—aku terlalu penting.
Berbulan-bulan melarikan diri, aku akhirnya kembali. Tak ada seorang pun yang bahkan menyebut nama kawanku ini atau kasus pencurian yang ia lakukan itu. Sama sekali. Meski demikian, aku tetap kembali dengan harapan bisa menebus dosa lewat upaya untuk memperbaiki teknologi teleportasi itu. Namun, begitu menjumpai atasanku yang selalu berjalan terburu-buru itu, yang keluar dari mulutku hanya, “Bisakah aku melanjutkan saja proyek itu? Sebab toh ia juga sudah mati; sudah tak bisa melanjutkannya lagi.”
Aku tak tahu—lebih tepatnya tak ingat—jawaban yang diberikan atasanku. Yang kuingat adalah aku terbangun dengan rasa ngilu dada. Aku menyadari bahwa yang disebut penjahat dalam mimpiku adalah rekan sejawatku yang sama-sama menjalankan proyek yang sama pentingnya denganku. Bisa jadi ia membelot atau berkhianat, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti: aku telah membunuhnya dengan kegagalan teleportasi, dan aku tak ingin terlibat dalam hal-hal penting dan besar lagi.








