Cerita Lahiran
Masih lekat rasanya dalam ingatanku, dekapan pertama dari 'Ula' --cintanya Mama dan Baba yang pertama-- disertai hangatnya peluk dan suara lembutnya.
🕕🕕🕕
Senin Menjelang Magrib
"Sayang," tulisku via pesan singkat kukirim kepada suamiku, Senin, menjelang magrib.
"Kenapa? Udah ada yang kerasa?" tanya suamiku setibanya di rumah, selang beberapa menit setelah kukirim pesan singkat.
🕖🕖🕖
Senin Menjelang Isya
"Betul ini tanda akan melahirkan," kata bidan usai mengecek cairan yang keluar dari jalan lahirku.
"Tapi kita gak tahu ini lahirnya sehari atau dua hari lagi. Jangan panik, pulang dulu aja makan yang banyak, tidur yang cukup, istirahat, boleh dibawa jalan-jalan dulu besok, disiapkan juga semuanya," katanya sambil menenangkanku yang cukup panik karena khawatir cairan yang keluar adalah air ketuban.
"Ini bukan air ketuban, apakah pertanda mau lahir? Iya betul. Kalaupun ini ketuban kita masih punya waktu 12 jam, jadi tenang aja," tutupnya, membuatku semakin tenang.
Gelombang Cinta Datang
Meski tak menunjukkan satu sama lain, aku dan suamiku sadar, kami sama-sama merasa tak karuan. Kami mencoba tetap tenang, malam itu, secara perlahan gelombang cinta hadir.
Aku mulai mengabari orang-orang terdekat memohon doa karena tanda kelahiran cintaku yang pertama sudah hadir. 'Tenang, tenang, tenang... jangan panik... Semuanya akan aman, lancar dan nyaman...' Afirmasi itu yang terus menerus aku bisikkan.
🕗🕗🕗
Hari Selasa
Aku merasa kurang tidur bukan main, setelah shalat subuh kupaksakan kembali tidur meski terbangun setiap gelombang cinta menyapa.
Seperti yang telah direncanakan, sejak awal aku memang tak ingin berlama-lama di tempat bersalin. Aku ingin merasakan keintiman setiap gelombang cinta datang di rumah, dengan tenang, penuh cinta, bertiga saja; aku, suamiku dan cinta pertama kami.
Pijatan endorphin menemani setiap gelombang cinta datang. Suamiku mengusap bagian belakang kepala hingga kaki. Ikhtiar ini membuat tubuhku lebih rileks dan nyaman.
Sinar jingga perlahan terlihat, aku tak akan melewatkan pagi ini untuk bertemu langsung dengan hangatnya sinar mentari.
Mondar mandir aku jalan di depan rumah ditemani suami, sambil sesekali berdiam mendekap tiang, jok motor yang terparkir, tembok rumah saat gelombang cinta --yang masih terus berulang-- hadir.
Beberapa warga yang berpapasan dengan kami menyapa sembari menguntai doa-doa, sebab tahu pertanda kelahiran sudah terasa.
"Tos aya karaos neng? Cing lungsur langsar nya bageur, insyaAllah sing salamet (Sudah ada yang terasa ya? Semoga lancar, insyaAllah selamat prosesnya)," ucapan yang berkali-kali kudengar dan menguatkanku di masa-masa itu.
Siangnya, aku kembali beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga, agar lebih percaya diri, menyiapkan tubuh untuk bertemu dengan cinta pertamaku.
Menjelang senja, aku ikhtiarkan naik turun tangga yang sejak minggu ke 36 rutin kujejaki. Namun kini, rasanya sudah tak biasa, ada khawatir, tapi juga tak sabar, menjelang penantian panjang hampir 40 pekan.
Aku mulai gelisah, karena gelombang cinta masih terasa lembut dan berjeda. Malam harinya, suamiku membalur perutku dengan racikan daun panglay untuk menambah kekuatan gelombang cintaku.
Benar saja, malam itu, gelombang cinta mulai tak tertahan, namun jedanya sesekali masih bisa membuatku bernapas lega.
🕖🕖🕖
Rabu Pagi - Pukul 07.00
Aku kembali ke bidan, mengecek perkembangan bukaan.
"Sudah bukaan 4, bisa jadi bukaan selanjutnya cepat atau paling lama penambahan satu bukaan bisa satu jam," kata bidan.
Cinta pertamaku diprediksi lahir waktu Dzuhur atau Ashar. Aku dan suamiku memilih kembali ke rumah.
Kami kembali menikmati gelombang cinta yang mulai merapat. Aku meminta waktu istirahat sebab sejak malam tidurku lagi-lagi tak nyenyak.
Seperti hari sebelumnya, aku menikmati gelombang cinta --yang sinyal ya sudah terasa kian hebat-- dengan berbaring di ruang depan.
Tapi kali ini gelombang cinta yang datang sudah semakin rapat tak berjeda, jika sebelumnya suamiku membantu mengusap bagian pinggul untuk menahan nyeri, kali ini sudah tak tertahankan lagi. Pukul 09.00 kami memutuskan kembali menuju ke bidan.
🕘🕘🕘
Rabu Pagi - Pukul 09.00
Meski masih beberapa jam dari prediksi, kuyakinkan kembali ke bidan. Sebab gelombang cinta yang datang sudah tak tertahan lagi. Kami berangkat kembali ditemani ibu mertuaku dan adik iparku.
"Sudah bukaan lengkap, tapi jangan dulu mengejan ya, kita tunggu supaya bisa langsung keluar," kata bidan.
Berkali-kali aku tak bisa menahan mengejan. Berkali-kali pula aku ditahan untuk tak mengejan.
Hingga waktunya tiba, kali ketiga aku mengejan diarahkan bidan dan ditemani keluarga yang datang, pukul 10.18 pagi; Ula lahir dengan selamat.
Dekapan pertama terasa sangat membahagiakan, disambut senyuman hangat, hati yang melega, diiringi adzan dari suamiku yang telah resmi menjadi ayah. Ula menatap sekelilingnya dengan mata yang terbuka lebar dan bibir merahnya mulai belajar mencari ASI.
Mungkin ia merasakan kebahagiaan yang sama dengan kami, perjumpaan yang telah dinanti-nanti, namun juga khawatir dengan dunia barunya.
"Tenang nak, ada Mama dan Baba yang selalu menjagamu dengan penuh cinta dan doa."
Haru, bahagia, lega, sungguh nikmat setiap prosesnya.
Ya Rabb... Terima kasih sudah mengizinkan kami merasakan cinta yang luar biasa ini. Kami sadar tidak ada orang tua yang sempurna, tapi izinkanlah kami menyempurnakan cinta kami untuknya :")
Ula, sayang...
Cinta kami selalu mengiringi langkahmu Nak...
We Love You 🖤












