Sejak tadi pagi, satu-satunya kucing yang aku miliki dan lebih aku sayangi daripada adik-adik alien penghuni rumah, ngeong-ngeong gak jelas. Kenceng pula suaranya. Sampai detik ini aku ngetik dia juga masih ngeong-ngeong dan mondar-mandir.
Sebagai penyayang kucing sejati sejak jaman old, aku udah paham kenapa kucingku, si shalita itu ngeong-ngeong seharian: birahi.
Dan itu memaksaku untuk segera membuat keputusan. Apakah shalita harus segera aku jodohkan dengan kucing-kucing jantan macho milik tetangga atau teman? Atau lebih baik gak usah dan mengurungnya di kandang seperti biasanya?
Ya, emang ini bukan pertama kalinya kucing kesayanganku itu birahi. Terakhir kali, seingatku sebulan yang lalu ketika shalita birahi, aku ngurung dia di kandang seharian. Dia tetep ngeong-ngeong dan cuma berhenti kalo lagi makan dan tidur. Aku gak bener-bener tau, ngurung kucing di masa birahinya itu salah atau gak. Modal internetan doang. Dan tertulis di sana: lebih baik dijauhkan dari lawan jenis. Jadi, aku gak merasa salah. Hehe. Lagian, mau konsul ke klinik juga gak punya uang. Ya, emang aku ini majikan yang miskin. Huhuhu.
Semua orang rumah, nampaknya juga khawatir. Ayah menyuruhku mengeluarkan shalita, si penghasil eek, begitu panggilan sayang dari Ayah, untuk dikeluarkan dari rumah, supaya dia bisa nyari pacar sendiri sesuai keinginannya. Ibu? Iya-iya aja. Dan ibu justru menyerang dengan pertanyaan pedas begini, “Seandainya kamu sendiri dijodohin, nikah sama yang bukan pilihan kamu, mau kamu? Hah?!”
Ah, gak boleh! jelas aku menolak keras keputusan pihak investor. Sungguh keputusan jahat, pertanyaannya juga jahat. Tapi, ada benarnya juga.
Tapi, kucingku sepenuhnya milikku. Aku gak akan membiarkan makhluk imut ini menderita kalo harus berjodoh dengan kucing kampung buluk. Cuih. Shalita itu cantik, mempesona, banyak lamaran-lamaran kucing macho yang dia tolak. Aku gak rela. Jodohnya harus macho, titik!
Jangan sampai shalita bernasib sama seperti si piko, kucing kesayangan di masa SMA. Piko hamil di luar nikah, kisah cinta gelapnya dengan kucing kampung warna hitam milik tetangga sebelah gak pernah aku ketahui sebelumnya. Dia tiba-tiba hamil, lahiran di kamar ibu, anaknya lima, eeknya banyak, ibu marah-marah setiap hari, padahal aku waktu itu sedang sibuk UN, bimbel, try out, dll. Sungguh kisah maha pilu.
Si piko, kucingku yang cantik itu akhirnya aku berikan ke seorang teman, anak-anaknya juga aku bagi ke teman-teman. Gak lama setelah itu, gatot, si kucing hitam pacar gelapnya piko jatuh sakit, diracun orang, dan meninggal dengan tenang. Sedih rasanya, padahal aku waktu sore-sore bantuin pemiliknya ngasih penawar racun untuk gatot. Sungguh kisah maha pilu.
Dimana-mana, pasti semua orang menginginkan yang terbaik untuk sesuatu yang dia sayangi.