dalam hasrat sepi yang membiru, lebam dan ngilu.
aku menemukan kamu tertawa diantara lawakan zaman dahulu atau mungkin menertawai aku yang kesulitan membawa surat kabar milik bidadari palsu.
katamu— "hey! turunkan berat badanmu dulu!"
lalu aku yang hanya tau cinta sebatas memberi coklat dan kedipan mata mencoba kreatif kembali ke tempatmu dengan batik jadul milik ibuku, aku percaya diri penuh.
kataku— "kamu menarik, aku suka sekali. ini, rantang isi sajak anarkis yang aku temukan di ladang tadi."
lalu tamparan berbentuk susunan huruf tajam menuju syarafku yang isinya hanya kamu. merusak nadiku yang siap ku sayat jikalau kamu suruh.
"rantangmu ini hasil curian tani! goblok!" katanya berteriak lantang seolah ia aku beri erotisme dusta di gerbang neraka.
tapi stok sabarku tak sebanyak padi tadi sore, jadi ku cekik lehernya; mukanya biru sempurna. ah, andai aku lihai menggambar, tapi cutter berkarat bapak tetap ku bawa untuk jaga-jaga.
"goblok itu kamu, siapa suruh merobek batik milik ibuku?!" tunggu aku pergi beli kain kafan dulu.













