Yang tersisa dari kami anak-anak Tadika...
Kita adalah sempurna yang telah purna dan apa yang tersisa hanya membuatku tersiksa. (@kujagabulanbersinaruntukmu )
Aku adalah senja yang telah tenggelam dan apa yang tersisa hanya membuatmu terluka. (@rosdarodhiyana )
Kini, bagiku kau hanyalah sebuah kenangan; sisa-sisa ingatanku yang telah menemukan muara keikhlasan. (@kkiakia )
Kau serupa hujan sore yang setelahnya membawa hawa dingin. Kau turunkan air basah tumpah ketanah dengan curah yang tinggi dan kilat petir angkuh tanpa melihat ada diriku dibawahnya sedang bersembunyi dibalik batu bata merah. Setelah itu yang tersisa hanya bau tanah basah yang aromanya seperti memutar satu episode kebersamaan kita di masa lalu. Kau lalu pergi meninggalkan dingin dan genangan keruh tanpa kau pedulikan aku telah basah dan menggigil lalu rapuh. (@rasyiddinalhafidz )
Adakalanya yang pedih bukanlah luka, melainkan yang tersisa darimu tinggalah kenangan saja. (@meremahrindu )
Gimana? Barang-barangnya perlu aku kembalikan lagi, ndak?
Tagihan makan sama nonton, perlu aku kembalikan juga, ndak?
Aku nggak mau setelah perbincangan ini selesai, masih ada sisa-sisa yg belum saja usai.
- Harta, tahta, nida (maksa)
Aku memunguti serpihan serpihan kenangan yang tidak sengaja kau tinggalkan, lalu menyimpannya dalam setoples bernama ruang ingatan. Kemudian merawatnya dengan tangis dan tawa yang datang bersamaan. Sebab setelah usai, kenangan adalah satu-satunya yang tersisa yang dapat kupertahankan. (@manifestasi-rasa )
Kau tahu apa yang tersisa dari kita?
Adalah kita yang tak lebih dari seonggok sampah yang jika dikumpulkan tak bernilai sama sekali. Rasanya begitu tidak adil. Aku dan kamu telah berjuang, tapi mengapa kau yang lebih dulu jatuh cinta dan aku menjadi pihak yang harus terbuang? Kenapa kau dengan mudahnya melangkah dariku, sedangkan aku begitu setengah mati mati-matian mencoba melepaskanmu?! (@manipulasirasa )
Tiada caci maupun benci, yang tersisa hanyalah terimakasih karena telah sudi jadi bagian perjalanan hidup ini. (@zulzone )
Membuang sisa kenangan di kepala tak semudah membuang lembaran foto yang kita punya. (@rajuami )
Adalah engkau yang menempatkan rindu begitu tipis antara hinggap dan lenyap.
Dan aku yang masih terpaku kaku di ujung antara memilih melupa atau merawat luka. (@hafidhulhaqq )
Mengapa kau menjarak dengan membawa rindu yang begitu mahsyur, tuan?
Menjadikan yang tersisa dalam hatiku, hanyalah degup paling anggun dari lantun doa-doa yang berhasil meniadakan persoalan kita; yang lebih dekat pada kemustahilan. (@sfwhkml9 )
Bait demi bait yang kau tuliskan selalu membuatku berdecak kagum, siapakah gerangan yang kau tuliskan? Di mana keberadaannya?
Tapi, inilah aku; si puan yang tidak miliki keberanian, hingga menjadikan sebuah pertanyaan besar yang ku biarkan mengendap, selalu.
Apakah sosok itu ialah aku? Sebenarnya, seperti apa perasaanmu kepadaku?
Demikianlah, sisa pecahan rumpang yang berharap 'kan menjadi rampung (@langitawan )
Apa kabarmu disana yang tak kutahu dimana rimbamu hingga hari ini. Ini adalah surat kali kedua dariku, setelah surat pertama yang hingga kini ku tak tahu kemana harus mengeposkannya. Surat atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada dialog singkat kita soalan ekonomi politik yang nihil di negeri ini. Soalan pemikiran beberapa filsuf tentang eksistensi dan kesadaran di tengah masyarakat.
Ahh, betapa bodohnya aku Yafet, baru kusadari bahwa Oma mu adalah seorang pembina sebuah yayasan yang mengayomi para sahabat kita yang berkebutuhan khusus. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk mencari tahu keberadaanmu lewat yayasan itu. Bagaimana kabar Oma? Apakah masih tegas, disiplin, dan setangguh dulu? Semoga beliau selalu dalam lindungan Tuhan.
Yafet, ada sebuah pertanyaan yang muncul dari beberapa sahabatku. Engkau tentunya tahu, sudah pasti ingin ku bagi denganmu. Aku selalu terkesan pada jauhnya langlang buana pikiranmu, tajamnya analisamu. Pikiran seorang yang mengidap disleksia. Aku yakin, engkaupun akan sangat tertarik mendiskusikan dan turut memikirkan sepenggal pertanyaan itu.
“Yang tersisa...”, Yafet.
Apa yang tersisa dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini?
Yang tersisa dari congaknya sebuah ambisi.
Yang tersisa dari kepasrahan yang hakiki.
Yang tersisa dari melimpah ruahnya harta.
Yang tersisa dari kemiskinan.
Yang tersisa dari tingginya sebuah jabatan.
Yang tersisa dari paras cantik dan tampan rupawan.
Yang tersisa dari tingginya pendidikan.
Yang tersisa dari luasnya pengetahuan, dalamnya pemikiran.
Yang tersisa dari kemandulan intelektual.
Yang tersisa dari keserakahan nun pongah.
Yang tersisa dari kealiman seorang ulama.
Yang tersisa dari kelenaan atas anugerah.
Yang tersisa dari kebodohan.
Yang tersisa dari kedunguan.
Yang tersisa dari kemunafikan....
Apa yang tersisa dari kepolosan?
Apa yang tersisa dari kesederhanaan?
Apa yang tersisa dari kesabaran yang digerogoti godaan terus-terusan?
Apa yang tersisa dari kemanusiaan?
Apa yang tersisa dari nurani di zaman ini?
Apa yang tersisa dari iman yang kian terkikis?
Apa yang tersisa dari kata-kata?
Lalu, apakah semua yang tersisa adalah kesia-siaan belaka...
Yafet, Ibrahim telah pergi dan takkan kembali.
Ismail yang dulu tiada lagi.
Ismail-Ismail yang ada telah menjadi berhala.
Yafet, kurasa aku cukupkan saja.
Biarlah semua yang tersisa menjadi tanda tanya.
Mungkin dari sekian yang masih membaca, tak dinyana ikut pula bertanya-tanya.
Dan semoga pula menemukan jawaban pada masing-masing kesadaran yang terdalam dirinya.
Salam hangatku untukmu, sahabat disleksiaku...
Dariku, di tanah urang Banua...(@barakelana )
Dari kami yang tidak pandai merasa peka..
Untukmu yang mencari sisa-sisa, tapi jangan jadikan kami pilihan yang tersisa :")
Ruang Seni Hati Tadika Mesra, 28 Oktober 2020