Hujan
Belakangan, tak lagi tercium aroma hujan Namun hari ini aroma hujan membias begitu menyengat Aku tak sanggup menoleh kembali pada ingatan Maka kuraibkan segala tentangmu yang terpaut dalam bait
Kau bilang menyukai sastra Lantas mengapa kau raib ketika prosaku hanya membicarakan dirimu? Kau bilang sulit jatuh cinta Lantas mengapa berbahagia meninggalkan aku yang masih pilu?
Jemariku sukar melihat arah mata pena Benakku pun kesulitan merangkai prosa Bait puisi hambar, kehilangan nyawanya Sialnya nalar belum memberi izin pada lupa
Aku harap jatuh hatimu kali ini adalah benar Aku harap nalar akhirnya memberi izin pada lupa Aku harap cakrawala tak lagi ingat asa ku tentang dirimu Agar kelak ia menjadi atap paling indah bagi kau dan dia










