Selalu ada alasan dibalik sebuah perbuatan,
Selalu ada alasan untuk tetap terlihat baik-baik saja,
Apakah semesta sedang memberikan koma atau sudah benar-benar titik?
Menurut ku tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Meninggalkan atau ditinggalkan, bukan itu persoalan utamanya.
Yang meninggalkan pasti mempunyai alasan yang mungkin sebenarnya nalarnya pun juga marah dengan keputusan semesta, bahwa ia harus berperan sebagai tersangka. Tidak ada yang sebenar-benarnya jahat. Mungkin kacamata mu yang gelap sehingga melihat dunia dan seisinya rasanya penuh amuk, coba sesekali melepasnya dan melihatnya tanpa kacamata.
Senja sore ini dengan langit orennya, mengantar ku pada sebuah perenungan, lagi!
Kali ini tiupan angin membawa kedamaian sehingga sel-sel darah di dalam otakku mampu mengingatnya dengan keadaan "baru". Tidak peduli seberapa jahat semesta memutar balikkan episode hidup ku, satu hal yang pasti "skenarionya tidak pernah salah" atau bahkan tertukar dengan tokoh lain, tidak mungkin. Kali ini tiupan angin justru membawa ku pada ingatan yang menyenangkan, ingatan bahwa aku pernah mengenalinya sebagai malaikat kecil. Sebelum banyak luka yang ia tinggalkan, aku sunggu mengenalinya dengan baik, hatinya tulus, cara memberiku ruang untuk bercerita, memberiku jajan meski harganya tak seberapa, tapi tulusnya, yang tidak bisa dimanipulasi oleh anak usia sembilan tahun. Nampaknya tidak adil jika semesta mengutukku untuk membencinya, meskipun ada beberapa sikapnya yang tidak bisa dibenarkan. Setidaknya, aku yakin, itu semua bukan kuasa hatinya, melainkan semesta ingin mendewasakan ku melalui luka.