Tiap kali seperti ini selalu ada saja suara berisik, "sudah ku bilang lebih baik sendiri saja", katanya.
Ah enyahlah.

Andulka
Mike Driver
Three Goblin Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

shark vs the universe
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
Stranger Things

No title available
ojovivo
Sade Olutola
h

PR's Tumblrdome
sheepfilms
Monterey Bay Aquarium
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily
EXPECTATIONS
Show & Tell
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from Australia
seen from T1
@putriindaht
Tiap kali seperti ini selalu ada saja suara berisik, "sudah ku bilang lebih baik sendiri saja", katanya.
Ah enyahlah.
Apa yang kamu lakukan hari ini? Tanyaku.
Bangun, makan sayur, dan menunggu kamu pulang kerja. Jawabmu.
Sungguh bisa-bisanya.
"Jika kamu menikah dalam waktu dekat ini, aku adalah orang yg paling patah sedunia. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku, tanpa kamu. Jadi, jangan dulu menikah ya!" Ucapku.
"Aku memang tak ingin menikah, sepertinya aku harus mencari alasan tepat untuk mengungkapkan itu kepada orang-orang. Awas aja kalau tiba-tiba kamu dilamar dan menikah lebih dulu dari aku. Jika begitu, aku merasa ditusuk dari belakang, aku merasa dikhianati, aku gak akan datang ke pernikahanmu," jawabmu.
Padahal aku yg mengenalmu lebih dulu, Aku yg jatuh cinta padamu lebih dulu, Mengapa dia yg kau pilih?
Anomali
Aku tak mengerti, mengapa aku ingin menyukai apa yang kau suka, Menyelami isi pikiranmu dan berenang bersama di sana Melakukan segala hal yang kau lakukan, Atau bahkan tertawa bersama dengan candaan serupa. Ah, bagiku kau adalah anomali yang paling menyenangkan.
Dan di persimpangan kita dipertemukan. Entah itu untuk mengucapkan sampai jumpa atau bahkan selamat tinggal. Selamat datang di persimpangan kehidupan. #tingkatakhir #butuhpegangan #biargakkebingungan (at Lewiliang ,Bogor)
Kelak, jika suatu saat nanti ku nyatakan. Jangan pernah tanyakan mengapa. Sebab aku tak pernah menyiapkan alasan untuk jatuh cinta kepadamu. #potretsenja #jatuhcinta #langitjingga #langitdramaga
Mencintai Senja
Aku selalu mencintai senja dan semua isinya
Kau tahu kenapa?
Karena senja selalu mengajarkanku bagaimana menghadapi pertemuan dan perpisahan dengan cara yang indah
Rona jingganya selalu tersenyum menyambut malam yang kelam
Padahal kau tau, disaat yang sama ia harus meninggalkan benderang siang
Meski kadang sesekali ia menangis hingga meronta
Tapi aku masih selalu menyukai senja dan semua isinya
Seperti wangi rintik yang membasuh petang di jalanan
Atau nada merdu atap juga tanaman yang bergoyang
Kita adalah Kalimat
"Aku cinta kamu"
Ah, suatu saat kau harus menjadi subjek
Tak melulu jadi objek
Jika ku ubah menjadi kalimat majemuk bertingkat maka akan ku jadikan kau induk kalimat
Dan aku adalah anak kalimat yang mengekor di belakangmu, mengikuti alur sang induk
Hei induk, anak kalimat mu ini kadang bosan!
Tapi apa daya, anak kalimat tak serta merta berarti tanpa induknya
Seperti "saat hujan turun" tanpa "kau membuka payung"
Wah lihat sepertinya anak kalimat tak hanya mengekor, tapi ia pun melengkapi
Meskipun demikian, anak kalimat harus sadar bahwa tanpanya induk kalimat tetap bisa berdiri sendiri
Menjadi kalimat tunggal.
Membandingkan
Aku tidak tahu apa ini hal yang benar atau buruk membandingkan mu dengan segala jenis pembanding yang memang tak sebanding. Kamu, berbeda. Satu - satunya yang sepanjang tahun ini membersamaiku. Kamu yang menghibur aku saat tiba - tiba aku menangis juga tempat aku mencurahkan semua logika dan imaji yang tak masuk akal.
Dari sekian kejadian tahun ini, selalu kamu ku bandingkan. Aku lebih senang duduk di angkutan umum bersamamu. Aku lebih nyaman bercengkrama dalam jaringan denganmu. Mulai dari hal receh hingga hal paling berat sekalipun. Berdiskusi alot, tebak - tebakan, tertawa, menghabiskan malam bersama dengan sinyal seadanya atau bahkan...
Aku suka saat kau tak berhenti berbicara, mengomel kesal. Meski ku bilang berhenti, batinku berkata "lakukan lagi suatu saat nanti!"
Aku selalu terpesona dengan caramu menemukan aku yang bersembunyi. Kau tau apa yg ku sembunyikan? Jantung dan nadiku yang bergetar hebat setiap akan bertemu denganmu.
Ah, aku tak ingin panjang lebar.
Intinya, aku lebih menyukaimu.
Mengkhawatirkan ku
Disaat dia so keren dan kita mengkhawatirkan dia, percayalah saat itu pun dia berada pada taraf amat mengkhawatirkan kita. Kau biasa memanggilnya, ayah. Dan padanya kamu kuceritakan, katanya kau keren. Tapi bagiku, tidak ada yang lebih keren darinya karena ia selalu berada pada tahap "Mengkhawatirkan ku".
Bahkan pada pedang disampingku yang menusuknya, ia tetap menoleh padaku dengan lirih menanyakan keadaanku.
“Kau muara yang selalu menemukan letak anak sungainya”
Semu
Aku jatuh pada sunyi malam ini Dimanjakan segelas kopi, Kerlip Bintang dan temaram lampu jalanan Padamu, aku mencari celah rindu, Nihil. Tak jua ku temui Bagimu mungkin segala prasangka adalah aku Bersemayam dalam penantian yang tak pernah kau tahu, Semu. Kau menari dalam larik sajak sedang aku adalah diksi yang tak pernah kau pilih
Rintik dan Rindu
Layaknya rindu, ia datang tiap waktu denting lirih melagukan kasih Rintik, kemana mentari? begitu enggan kau membagi. Rindu, jika tak pernah bertemu sosokmu bagaimana bisa dibilang rindu? ia tak seperti rintik, membelai sunyiku tanpa basah menemaniku tanpa suara, iya kan? kau berisik, rintik! stttttt, diamlah! barangkali jiwanya ingin berkata-kata, atau paling tidak bayangannya yang entah seperti apa. tapi aku tak mendengar juga melihat apapun. Hanya, Rasanya, sesak. Bergeserlah sedikit! bukankah rindu ini butuh ruang?
Aku Tak Peduli
Aku menulis ini pagi hari, ketika kabut depan rumah masih menjadi pemandangan indah. Ia berusaha menyelimuti, seperti jari jemariku yang ingin menari diatas keyboard. Aku rindu berpuisi, kapan terakhir kali aku membuatnya? Hmmm. Kau, seperti kabut saja pagi ini. Apa yang kau tulis entah tentang siapa itu, aku tak peduli. Nada tulisan yang sedikit satir dan penuh umpama membuat aku lagi dan lagi membacanya. Padahal masih banyak tulisan lain disana yang harus ku baca. Mungkin aku ingin mengenalmu lewat tulisan? Bagaimana bisa? Kau selalu seperti umpamamu, sayap pada ayam. Bagaimanapun kau terlihat keren dengan sayap itu. Dunia semakin hari makin maju, pun teknologi. Mereka menciptakan berbagai sosial media untuk mempermudah hidup mereka, hidup kita juga. Bagiku itu masalah besar. Dengan itu terkadang aku terbahak-bahak sendirian, seperti orang gila, mungkin. Tapi itu hanya terjadi saat dengan mu. Entahlah. Meski tak benar – benar bersamamu. Bahkan terakhir kali aku melihatmu saat kau masih mengenakan topi hitam bertuliskan nama dan ransel merah. Saat teletubis masih berempat makan kue tabi dengan matahari yang tersenyum manis. Kini kita dipertemukan kembali meski tak benar – benar dipertemukan, karena hatimu, ia bilang “sudah dipaut orang”. Sekali lagi aku tak peduli. Bagaimana bisa orang memahami perasaan orang lain dengan mudah, ini tak seperti makan indomie soto spesial di sore hari yang hujan. Ini lebih seperti mencoba makan nano – nano dicampur saus tomat dengan biji wijen diatasnya lalu kau beri sedikit merica. Meski kau melihat ini seperti implementasi dari Hukum Kelembaman, aku tetap tak peduli. Selain-Nya, kau tak berhak menghakimiku.