Cerita Senja
Senja tak pernah memintamu untuk menunggu. Karena dia tak mau melihat kau bersedih kala dirinya datang tetapi sesaat kemudian dia pergi. Menyisakan jingga di rasamu. Ahh, sayangnya aku selalu menunggunya. Untuk sekedar menikmati indahnya. Karena entah mengapa selalu ada cerita yang tertinggal. Yaa, ada perpaduannya yang bisa membius diri. Ada hal yang terasa kala melihat dan menikmatinya. Seindah kata yang tak bisa dituturkan lisan.
.
Ini juga tentangmu. Tentangmu dengan sang jingga. Dia memberikan kesan yang berbeda tentangmu. Dia tak menyembunyikanmu, tapi membuatmu nampak begitu misterius. Senyummu tertutup, tapi terasa. Walau mimikmu tak sampai pada mata, tapi yakin hadirmu tetap ada.
.
Yaa, ini ceritamu dengan senja. Tentangmu saat berdiri dan terindera sempurna dipandangku. Tentangmu yang terlihat dari sudut lainku. Tentang ceritamu yang tak pernah hilang. Ahh, walau senja pergi, tapi ceritamu tak pergi, malah tercipta cerita antara kau dan senja yang membekas di rasa.
.
Sebentar, tapi bermakna.
Sekejap, tapi terasa.
.
Ini ingatan tentangmu, kamu dengan sang senja. Kamu dan senja yang sedang menari bersama cakrawala. Yaa, seperti kata sang jingga, “Senja begitu hebat, datang ketika rindu benar-benar rindu”.
Pantai Lahar, Banda Neira, Maluku Tengah, Maluku - Indonesia
|| 180917 - C













