Apa itu cerdas dan apa itu bodoh? apa batasan keduanya?
Cerdas berarti mengerti apa yang sedang dilakukan dan tau betul konsekuensinya sehingga akan berhati-hati ketika melakukan sesuatu dan penuh perhitungan. Hal itu akan membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan.
Bodoh berarti tidak mengerti dengan apa yang dilakukan, tidak tau akan konsekuensi hingga akhirnya nantinya akan tersesat dan celaka.
Siapa yang tidak ingin bahagia dan selamat? semua orang mengiginkan hal tersebut. Namun, tidak semua orang tau dan mau. Maka merekalah orang-orang yang bodoh.
Lantas siapa yang paling cerdas? Rosul kita sudah pernah memberitahukan hal ini:
''Bersama sepuluh orang, aku menemui Nabi SAW lalu salah seorang di antara kami bertanya, 'Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?' Nabi menjawab, 'Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat'.'' (H.R Ibnu Majah).
Lantas apa hubungan mengingat kematian dengan kecerdasan? Kematian adalah salah satu pintu yang pasti dilewati setiap yang bernyawa di dunia ini. Kematian menjadi awal untuk kehidupan kekal di akhirat. Ketika kita sudah memasuki babak akhirat, itu artinya tidak akan ada kematian lagi. Di akhirat hanya ada 2 pilihan, kenikmatan yang abadi atau penderitaan yang abadi. Kenikmatan yang abadi merupakan konsekuensi dari ketakwaan dan keimanan kita di akhirat. Jika selama di dunia kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, maka kita akan berakhir pada kebahagiaan kekal selamanya. Begitupun penderitaan yang abadi, merupakan konsekuensi dari maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Ketika nafsu kita turuti selama hidup di dunia tanpa memikirkan koneskuensi akhirat, maka bersiaplah adzab pedih nan abadi menanti.
Orang cerdas, pasti akan memilih bersabar selama hidup di dunia untuk kemudian mendapatkan kebahagiaan abadi kelak di akhirat. Adapun orang bodoh, senantiasa menuruti hawa nafsunya, tidak berfikir panjang dan tidak sabar. Hingga akhirnya mereka akan mendapatkan adzab yang pedihi diakhirat.
Dengan mengingat mati, maka kita sadar bahwasanya kehidupan dunia ini fana. Ia tak akan selamanya ada. Ada yang membatasi siapapun untuk hidup di dunia ini. Hatta Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam, yang hanya berumur 63 tahun hidup di dunia ini. Ketika sadar adanya kematian yang membatasi kehidupan di dunia ini, kita seharusnya senantiasa waspada bertemu kematian tanpa persiapan. Kehidupan setelah pintu mati amatlah masih sangat panjang sebelum kita sampai kepada tujuan akhir kita. Umur kita di dunia ini bahkan hanya secuil jika dibandingkan phase-phase yang akan kita lewati di akhirat kelak. Walau begitu, kehidupan dunia ini mempunyai peran yang sangat besar untuk menetukan nasib kita di akhirat.
Dengan mengingat mati, kita akan selalu berhati-hati dalam melangkah di dunia ini. Setiap langkah yang kita ambil di dunia, setiap detik yang kita habiskan akan memiliki konsekuensi pada kehidupan akhirat kita. Semua akan dihisab dan semuanya akan kita pertanggung jawabkan.
Dengan mengingat mati, maka kenikmatan dunia akan menjadi tidak ada apa-apanya. Istri yang cantik, jabatan yang tinggi atau harta yang melimpah, tidak akan ada harganya di hadapan kematian. Semua akan ditinggalkan. Tidak akan ada yang menemani setelah kematian kecuali yang kita habiskan di Jalan Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka apa guna itu semua? Apa guna kita mati-matian dengan segenap hidup kita untuk mengumpulkan itu semua, bahkan ada yang sampai menggunakan cara-cara haram untuk mengumpulkannya.
Kematian menjadi momok yang menakutkan bagi orang bodoh karena mereka berfikir pendek, visinya hanya sebatas dunia ini. Sehingga ketika mereka mati, berkahir semua yang telah mereka usahakan. Namun, kematian menjadi hal yang dirindukan untuk orang-orang yang cerdas. Andaikata ada cara untuk mati segera dengan cara yang diperbolehkan oleh syariat agama ini, mungkin itu akan ditempuh. Sayangnya Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan bersabar untuk menunggu giliran mati dengan cara-cara yang di ridhoi-Nya (btw bunuh diri merupakan cara yang haram, temasuk bom bunuh diri. hal tersebut akan mendapatkan laknat Allah Subhanahu wa ta'ala). Orang cerdas senantiasa mengingat mati, untuk dijadikan rem untuk setiap langkah mereka yang akan mengantarkan pada maksiat. Namun disaat yang sama, kematian akan menjadi Booster untuk ibadah-ibadah mereka. Mereka rindu untuk pulang ke kampung akhirat, sehingga serius mempersiapkan bekal untuk pulang.
Banyak-banyaklah pemutusan semua kenikmatan dunia karena dengannya kita akan selalu berhati-hati hidup di dunia, tidak putus asa ketika ujian tak henti-hentinya datang menyapa, tidak tersesat ketika zaman semakin jauh dari Agama ini dan tidak menjadi orang-orang bodoh karena lupa jalan pulang ke kampung kita yang sebenarnya, yaitu akhirat.