Antara Ikhlas atau Menyerah.
Sebenarnya ada perbedaan di mana itu adalah Ikhlas, atau memang enggan berjuang lebih.
Ada juga perbedaan antara berjuang lebih giat, atau tidak tahu diri.
Terkadang kita sering dibingungkan apakah pilihan yang kita ambil ini adalah termasuk ke dalam kategori Ikhlas atau memang ada sesuatu di hati kecil yang merasa enggan berjuang karena beberapa alasan tertentu?
Saya juga kerap merasakan hal yang sama. Sering sekali bertanya kepada diri sendiri ketika diharuskan memilih antara melepaskan sesuatu karena jalanmu bukan di situ atau berjuang untuk berusaha lebih giat lagi.
Karena di situ selalu terdapat sebuah dilema yang besar.
Hal itu tidak kunjung kamu capai apakah karena memang Tuhan mengatakan Tidak untuk hal itu? Ataukah Tuhan menginginkan kita untuk berjuang lebih keras lagi dalam mencapainya?
Salah satu contoh kasus paling umum adalah ketika seorang mahasiswa merasakan bahwa dia salah jurusan. Apakah harus dilanjut? Atau pindah ke lain jurusan? Apakah memang harus berjuang lebih keras? Ataukah mengambil jurusan yang benar-benar ia minati?
Karena sesungguhnya tidak ada jawaban konkrit dari Tuhan yang bisa kita capai saat itu juga. Tuhan selalu menyelipkan jawaban melewati orang-orang terdekat kita, melewati tulisan yang tak sengaja kita baca, melewati artikel di suatu majalah, atau bahkan melewati curhatan orang yang mencoba mencari pencerahan dengan cara berbicara dengan kita.
Hingga kemudian akan ada satu titik di mana kita akan kebingungan dan bertanya-tanya apakah perjuangan saya ini sudah cukup atau belum? Sudah cukup yang berarti bahwa Tuhan berkata Tidak. Ataukah belum terlalu berusaha maksimal hingga Tuhan masih berkata Belum?
Di luar dari konteks harus beribadah dengan macam-macam salat, hal ini kerap membingungkan saya sebagai seorang manusia. Kapan waktu yang tepat untuk berhenti karena tahu diri, dan kapan waktu yang tepat untuk berjuang karena memang harus dikejar dengan usaha yang lebih keras.
Mengutip kata-kata maestro, John Lennon:
“Saya tidak bisa melangkah jika saya tidak tahu ke mana arah tujuan saya pergi.”
Dan satu-satunya cara saya rasa adalah berharap Tuhan akan secepatnya mengirimkan orang-orang atau hal-hal yang menjawab rasa penasaran kita tersebut tentang pilihan apa yang harus kita ambil.
Ikhlaskan?
Atau memang kita belum berjuang terlalu kuat?