Aku ingin mendapat banyak bahagia dan berani menghadapi banyak kesedihan.
No title available

@theartofmadeline

roma★
todays bird

Discoholic 🪩

Origami Around
Misplaced Lens Cap
occasionally subtle

No title available

blake kathryn

Kaledo Art
ojovivo
One Nice Bug Per Day

#extradirty
Peter Solarz
AnasAbdin
DEAR READER

祝日 / Permanent Vacation

oozey mess
wallacepolsom
seen from France

seen from Malaysia

seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from France
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States
@rahamnita
Aku ingin mendapat banyak bahagia dan berani menghadapi banyak kesedihan.
Senandika: Jadi Orang Baik
+ aku mau jadi orang baik, aku ga mau nyakitin orang. - boleh. + ga enak banget disakitin orang. - iya. + kalo ada orang yang nyakitin aku, gapapa. yaudah. semoga aku punya daya untuk memberikan maaf. tapi cukup di situ. aku ga mau memelihara dendam. aku ga mau melampiaskannya ke orang lain. ga baik. - ... + tapi susah kayaknya. - kata siapa jadi orang baik itu gampang? + ... - tapi... + tapi apa? - jadi orang baik itu susah. tapi, sebelum jadi orang baik ke orang lain, jadi orang baik ke diri sendiri dulu kali, ya... + ... - kan kita paling sering ketemu dengan kita. makanya dibiasain berbuat baik ke diri sendiri dulu. nanti berbuat baik ke orang lain bakal kebiasaan dan autopilot. + ... - kayaknya lebih gampang deh. + iya, kamu benar. - ... + ... - gak ngasih kesempatan untuk orang lain nyakitin kita LAGI adalah salah satu cara berbuat baik ke diri sendiri, loh. hehe. + iyaaa...
Ibu Batin dan Kesedihan
Kebahagiaan dan Kesedihan adalah saudara kembar yang terlahir dari rahim yang sama: Ibu Batin. Dari kecil, keduanya diperlakukan sama oleh Ibu Batin. Mereka selalu berjalan beriringan, mengenakan pakaian yang sama, dan bergandengan tak terpisahkan. Bahkan pernah dikisahkan suatu ramalan, bahwasanya Kebahagiaan selalu datang bersamaan dengan Kesedihan.
Namun, meski begitu, Kesedihan memiliki nasib yang berbeda dengan saudara kembarnya, Kebahagiaan.
Pada acara-acara manusia, keduanya dipastikan akan selalu datang. Kebahagiaan selalu dicari pada pesta-pesta dan pertemuan. Sebetulnya Kesedihan juga hadir di sana. Namun ia sering diabaikan. Bahkan kadang ia tidak diharapkan datang.
Di acara lain seperti pemakaman dan perpisahan. Kesedihan hinggap memeluk satu-satu hati manusia. Padahal tak ada yang mencarinya. Ia harus bekerja di sana sebab Kebahagiaan tidak tahu harus berbuat apa. Kebahagiaan juga berada di sana. Meski sembunyi karena tak tega melihat cara kerja Kesedihan, Kebahagiaan tetap dicari.
Meski mereka datang secara bersamaan, mereka selalu bekerja bergantian. Tiap kali Kesedihan hinggap di hati manusia, ia selalu ingin menetap lebih lama. Manusia selalu mengusirnya dan mencari-cari kebahagiaan yang sedang bersembunyi. Namun tiap kali Kebahagiaan hinggap, Kebahagiaan tak pernah menetap lama. Barangkali ini yang membuat Kebahagiaan selalu dicari.
Kesedihan tahu, ia dan saudara kembarnya, Kebahagiaan, hadir di dunia ini secara bersamaan. Namun nasib tak pernah merayakan Kesedihan.
Pada malam-malam panjang ketika Kebahagiaan terlelap dengan damainya, Kesedihan duduk di tepi jendela. Seperti kelelawar, energinya bertambah berkali-kali lipat kalau malam.
Ia termenung dan bertanya pada Langit, "Mengapa manusia tak mau berhadapan dan menyelamiku? Mengapa manusia membenci nestapa, duka, dan pilu?"
"Anak, belum tidur?" Ternyata Ibu Batin mendengarkannya. Ia sedang memeriksa kelima anaknya yang lain yang sedang tertidur pulas.
"Sedang bertugas, Bu."
Ibu Batin tersenyum. "Boleh. Asal tidak membangunkan Amara."
"Kalau Amara bangun, ia pasti membangunkan Takut. Kami bertiga akan bermain. Lalu malam menjadi gaduh. Aku tidak bisa bekerja."
"Ketika keenam dari kalian hadir, hidup Ibu seperti lengkap, tak kurang suatu apa. Meski kalian sering bertengkar dan berebut posisi siapa yang paling nomor satu." Ibu Batin duduk di sebelah Kesedihan. "Ketika salah satu dari anak Ibu meragukan keberadaannya, Ibu bisa tahu bagaimana menjadi anak yang yang sedang meragu tersebut."
Kesedihan yang sedang menerawang ke depan, kini menatap Ibu Batin.
"Manusia yang mampu menghadapimu adalah ksatria pemberani. Pujangga merayakanmu, Anak. Ia memiliki banyak nama untuk merayakan kehadiranmu. Jika engkau tak hadir di hidup Pujangga dan ia tak berkenalan baik denganmu, manusia mungkin akan lebih takut karena tak bisa mengenalimu dalam bentuk lain.
"Saudara kembarmu itu cukup pemalu. Kamu tahu itu. Itulah kenapa ia banyak dicari. Kebahagiaan memang punya banyak bentuk dan manusia akan dengan mudah mengenalinya. Namun ia tak sanggup lama bertahan."
"Jadi itulah mengapa aku lebih banyak bekerja? Untuk melengkapi kerja Kebahagiaan yang tak mampu bertahan lama?"
Ibu Batin tertawa kecil. "Anak, tadi Ibu bilang, kalau manusia yang mampu menghadapimu adalah ksatria pemberani. Tidak sembarang manusia mau dan mampu menghadapimu. Tapi ini bukan berarti engkau lebih istimewa dari saudara kembarmu, Kebahagiaan."
"Lantas?"
"Kalian berdua dilahirkan dengan tujuan masing-masing. Meski kalian kembar, dilahirkan bersama, dan berjalan beriringan, tugas kalian berbeda. Kalian saling melengkapi satu sama lain. Ah, satu lagi. Jika manusia ksatria pemberani itu mau dan mampu menghadapimu, ia akan menjadi manusia yang lebih bijak. Sama seperti ketika manusia-manusia bisa bertemu dengan kebahagiaan pada hal-hal yang kecil."
"Jadi aku ada gunanya, Bu? Seperti Kebahagiaan, Amara, Takut, dan saudara-saudara yang lain?"
"Loh, iya! Masih perlu dipertanyakan? Kalian semua anak-anak ibu yang bandel-bandel dan menggemaskan!"
Kesedihan menguap.
"Sana, tidur. Besok masih bekerja untuk manusia, kan? Kesedihan harus istirahat yang cukup. Kalau tidak, pujangga dan ksatria pemberani akan mati kebosanan."
Kesedihan turun dari jendela dan berjalan sempoyongan ke tempatnya tidur. Ibu Batin mengucap selamat malam pada Malam dan menutup jendela. Ketika Ibu Batin berbalik badan, ia telah mendapati Kesedihan yang tidur tengkurap dan mendengkur. Ia menghampirinya dan membetulkan posisi tidur Kesedihan lalu keluar kamar.
Di balik selimutnya, Amara, si sulung, mendengarkan percakapan itu.
Melepaskan orang sama seperti mengeluarkan barang dari ruang: memberikan efek lega.
Kalau kita ga bisa lagi mengubah keadaan, ga apa. Kita masih bisa mengubah cara pandang kita terhadap keadaan tersebut.
Lilin Kecil
Telah lama aku tersesat sendiri di hutan belantara rimba raya. Aku tak tahu arah jalan pulang. Tak ada bintang utara, remah roti, dan kompas.
Tapi aku masih punya lilin kecil. Meski ia menyala redup, ia tak memutuskan untuk mati.
Lilin kecil, tetaplah benderang, tetaplah menjadi pelita. Kita cari panduan arah untuk keluar dari hutan raya ini. Kita tak perlu membakar hutan dan memusnahkan segala hidup untuk mengantarkan kita ke jalan keluar.
Sesusah apapun kita temukan bintang utara, remah roti, dan kompas, kita akan terus berjalan. Kita tak akan bakar hutan ini.
Hutan yang menyesatkan ini membuat kita bersahabat baik dengan ketakutan. Ia juga membuat kita belajar untuk berlindung dari hewan ganas yang bermaksud membunuh. Ia juga menenangkan kita dengan cuitan burung kecil dan gemericik air sungai. Ah, air sungai yang melegakan dahaga.
Tiada mengapa jika kita tersesat lama. Kita akan belajar banyak hal. Setidaknya kita telah belajar untuk bertahan hidup. Nanti, ketika kita telah berhasil keluar dari hutan ini, kita tak perlu khawatir lagi jika harus tersesat di hutan baru atau hutan yang lebih menyesatkan.
Dengan tenangnya kita akan berkata, "Ah, sudah pernah."
Jika kita temui hutan yang lebih menyesatkan, kita akan melihat itu sebagai tantangan baru.
Lilin kecil, tetaplah menyala. Tetaplah benderang. Tetaplah menjadi pelita.
Namun jika nanti kita bertemu dengan lautan luas tanpa ada daratan di ujung pandangan...kita pikirkan lagi nanti.
Tentang Kehilangan
"Aku kehilangan nyaris semuanya," ujarku kepada kawan di seberang telepon tepat dua minggu lalu, merangkum segala kejadian dua bulan lalu yang bertubi-tubi terjadi selama bulan Juni. Kalimat paling menyerah yang akhirnya aku ucapkan setelah melewati malam-malam panjang penuh peluh air mata.
"Mimpiku luluh lantak, rata dengan tanah. Semuanya diambil. Aku tak punyai apa-apa lagi."
Sejak malam itu, sejak aku menyerahkan kalimat paling menyerah, pipiku tak pernah kering. Aku terus mencari cara bagaimana menghadapi kehilangan yang utuh.
Lalu, tepat seminggu kemudian, seminggu yang lalu, aku berujar pada diri,
Tadi malam, cicilan air mataku lunas dibayar tunai dengan sudut pandang baru tentang kehilangan:
Aku telah kehilangan nyaris semuanya. Hanya diri yang tidak hilang. Diri yang telah lama kupegang teguh dan jadi tumpuan. Sedang yang lain diambil.
Jika diri adalah rumah, maka anggap saja segala mimpi, kawan, pekerjaan, dan cinta adalah perabotan pengisi. Ketika rumahmu dijarah, diambil segala apa yang kau punya, lalu tinggallah kau seorang yang kosong melompong.
Maka tangisilah. Menangislah tiap malam. Tangisilah dengan cukup segala yang telah pergi, hilang, dan diambil. Tak ada yang pernah siap dengan kehilangan meski pagar-pagar telah berdiri kokoh dan tinggi dan segala keamanan telah direncanakan sempurna.
Kita semua amatir menghadapi kehilangan.
Namun tak perlu ada dendam. Dendam itu laksana debu yang mudah berkerak. Jika dendam tumbuh dengan ganas dan liar, ia akan memenuhi rumahmu dengan kerak kotor. Ia juga akan menjauhkanmu dari tamu-tamu baik yang akan bertandang.
Setelah tangismu cukup, berbalik badan lah. Kau memang kehilangan semuanya. Namun lihat, ada ruang kosong yang sangat besar yang dapat kau isi dengan kesempatan-kesempatan baru yang semula tak pernah terpikir sebelumnya.
Inilah mengapa tak perlu ada dendam. Sebab jika dendam itu tumbuh dengan ganas, ruangan ini akan penuh sesak lagi. Namun jika bibit dendam itu telah tertanam di sana, cabutlah dan bersihkan.
Ingat, kau punya ruangan kosong. Kau bisa isi dengan kesempatan, mimpi, kawan, cita-cita, dan cinta baru sebagai perabotan baru yang akan menghiasi hidup barumu.