Di Minggu malam, setelah selesai makan malam.
Beberapa jam menjelang UTS.
“Kak, kamu mau jadi dosen po nanti ?” tanya adek kamarku yang hobinya meluk boneka kalau lagi didepan laptopnya.
“hmm ya ngga sih dek” jawab Selvi sambil berusaha memahami angka-angka yang tertera dilembar kerjanya.
“ya kasian aja liat kaka masih ngapal-ngapal buat UTS” Suci kembali menanggapi nya.
“cuma passion aja sih dek, soalnya dari awal masuk kuliah pingin banget dapet predikat itu" teman sabaya ku satu ini sepertinya sudah tahu arah pembicaraan Suci, memang ya terbukti anak olim, langsung ngerti loh. Padahal mah Suci ngga menyebut-nyebut soal hal tersebut sebelumnya.
"emang berapa sih ka IPK kaka sekarang ?" ni anak makin penasaran ternyata, ckck.
Ternyata Selvi tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan ini, "3,.... dek. Kalau TA aku dan 3 mata kuliah yang aku ulang ini dapet A udah bisa mencapai itu insya Allah"
"oalah, oke deh ka. Sukses UTS nya yaa" (bagian ini ada sedikit improv dari ku, lupa detailnya).
Kemudian Selvi kembali melanjutkan aktivitasnya, masih diatas kasur biru nya.
Aku punya firasat buruk, Selvi akan terlelap beberapa saat lagi.
Sementara itu, apa yang aku lakukan saat itu ??
Aku malah asyik dengan handphone ku, menanggapi chat adek-adek calon pendaftar RK.
Sebenarnya pikiranku tidak sesederhana apa yang aku kerjakan kala itu.
Pikiran ku jauh melayang ke hari-hari jauh dibelakang. Hari-hari saat masih awal semester genap ini. Terlebih lagi dengan pertanyaan yang Suci lontarkan ke Selvi tadi. "Mau jadi dosen po kak ?". Sedangkan kondisinya saat ini adalah yang memiliki lifegoal kesana adalah aku. Suci pun demikian, memiliki tujuan yang sama. Yang berbeda adalah Suci masih memiliki tanggungan untuk mengambil mata kuliah di semester 7 dan 8 nya. Sedangkan jatahku sudah habis.
Lalu bagaiamanakah dengan IPK ku ??
Aku langsung teringat angka "tersebut" di benakku. Seperti melayang-layang dihadapan ku saat ini.
"Seharusnya aku lebih banyak ambil mata kuliah semester ini" baca : mengulang beberapa mata kuliah. Agar kesempatan menjadi dosen lebih besar.
Bagaimana ? Kelihatannya seperti tidak bersyukur kah ?? Tapi itulah perasaan ku saat ini, aku ingin menambah 0,.. untuk IPK ku.
Aku pun beranjak mengerjakan hal lain untuk mengusir pikiran itu pergi. Tapi tetap saja mereka tak mau pergi dari hadapanku. Aaarrghh bagaimana ini ??
Kemudian aku teringat terjemahan ayat Al-Quran yang kuhapal hari ini "Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)" Al-Qiyamah : 2. Ya Allah, bantulah aku untuk tidak menyesali nya.
Namun sepertinya penyesalan itu akan tarik ulur seperti gelombang laut. Akan sering datang dan pergi. Apalagi selama 2 minggu kedepan adalah minggu-minggu UTS. Hiks T.T
Seharusnya aku bersyukur karena tidak harus berkutat dengan slide-slide di ppt dosen seperti semester lalu. Akan tetapi, ternyata aku ingin seperti teman-teman asrama yang masih sibuk belajar untuk ujian besok. Sedangkan aku ?? Harus berkutat dengan jurnal-jurnal penelitian di web yang aku buka. Jurnal itu seringkali hanya tersimpan rapi dalam folder di laptop. Ditengok sekali-kali ketika dibutuhkan.
Memang ya, penyesalan datang selalu di akhir. Sungguh firman Allah tak pernah salah ataupun cacat sedikitpun.
Aku bertekad tidak akan terperangkap dengan perasaan ini. Kini saatnya aku memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal yang seharusnya sudah kulakukan beberapa bulan lalu. Semangat Lillah ~
Sesungguhnya Allah mengetahui hal yang kamu butuhkan Na :)