Colette Dowling adalah salah satu perempuan yang concern memperhatikan pola tingkah laku kaum hawa. Di tahun 1981, dia menerbitkan buku hasil pemikiran mendalamnya tentang sosok perempuan-perempuan baik hati, sopan, anggun dan pekerja keras uhuuk saya banget, namun tidak didukung oleh lingkungannya sehingga membutuhkan bantuan pihak lain untuk membuatnya keluar dari situasi lingkungannya. Sebuah fenomena klasik mirip dongeng rakyat berjudul “Cinderella” karya entah siapa. Cinderella tidak bisa keluar dari masalahnya hanya dengan mengandalkan dirinya, dia butuh dilindungi orang lain. Keadaan ini pertama kali dideskripsikan oleh Dowling sebagai “Sindrom Cinderella Compleks”, women's fear of independence – an unconscious desire to be taken care of by others, kata Dowling.
Di bukunya yang berjudul “The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence” Dowling menjelaskan kecenderungan perempuan untuk tergantung secara psikis, yang ditunjukan dengan adanya keinginan yang kuat untuk dirawat dan dilindungi orang lain terutama laki-laki, serta keyakinan bahwa suatu dari luarlah yang akan menolongnya.
Entah bagaimana saya merasa sedang bercermin. Bukan. Bukan bercermin dan melihat sosok tuan putri di kaca, meskipun saya mirip Lily James si Cinderella *mirip pala luuuu*, tapi saya sedang berkaca bahwa saya bisa jadi adalah orang yang terlalu bergantung dan amat sangat dilindungi oleh orang lain.
Sebelum menikah, saya adalah orang yang (yhaa katakanlah) cukup mandiri. SMA saya sudah indekos. Awal SMA sudah pulang pergi naik kereta api dari rumah ke sekolah dari jam 5 subuh dan pulang jam 7 malam. Kuliah, saya adalah rider motor sejati yang menerjang hitam pekatnya asap knalpot bus yang terkutuk jika sedang apes macet dan terjebak di belakang damri.
Setelah menikah? Pak Ryan “Tuan Tahu Beres” Noor adalah jawaban dari keadaan ini. Saya berada di tangan orang yang jauuuuuh lebih mandiri dari saya. Di hadapannya, saya merasa seperti benalu yang ikut bobo di inangnya, seperti burung jalak yang numpang makan kutu di kepala Kerbau *apasih*
Dari keseluruhan kerapuhan daku, saya paling bergantung masalah teknologi. Dan Pak Ryan adalah orang butuh untuk melek teknologi. Semua barang-barang elektronik saya adalah lungsuran dari Pak Ryan, salah satunya hape. Maka, segala jenis mobile banking yang terdaftar adalah akun Pak Ryan. Bahkan, kartu debit dan kredit saya pun lungsuran Pak Ryan. Ya begimana ya, saya nikah waktu masih jadi mahasiswa. Rekening saya isinya cuma sebegitu saja, tidak membahagiakan untuk dikenang. Saya belum paham mengelola uang, jadi saya memilih untuk “yaudah kirimi adek uang saja bang”. Dan sejurus kemudian Pak Ryan memutuskan : pakai kartu akang aja, Oh aku sih yes. Karena keenakan tinggal laporan, akhirnya baru setelah saya praktek, saya mulai urus-urus rekening sendiri. Payah, kalah sama anak SD.
Jadi, selama saya menikah, segala sesuatu yang berbau transfer, pembayaran, dan lain-lain yang sifatnya online, semua dilakukan Pak Ryan. Saya tinggal bilang, “kang tolong transfer ke norek XYZ Rp.JKL, aku beli jilbab” “kang tolong isi pulsa” “kang tolong isi gopay” “kang...” “kang...” “kang...” tidak ada habisnya.
Ini harus disudahi. Saatnya saya tidak lagi mengganggu Pak Ryan di tengah-tengah rapat hanya untuk “kang, paket internet aku habis” meskipun Pak Ryan tidak pernah sekalipun mengeluhkannya.
Tadi siang, saya memutuskan untuk memindahkan isi rekening lungsuran Pak Ryan ke rekening saya pribadi, sehingga mobile bankingnya bisa terdaftar dengan nomor saya sendiri. Mulai hari ini tidak lagi laporan-laporan picisan. Bye bye Cinderella. Cukup wajah saya saja yang seayu cinderella (?), sindromnya tidak perlu.
Menuju Detin Mandiri 2019