Dari sekian ketidakmengertian saya tentang diri saya, saya hanya bisa mengetahui bahwa ada sesuatu dalam diri yang terasa tidak ada gunanya. Saya sering bertanya, kenapa ada ini kepada Tuhan. Perasaan kesal dan merasa rendah diri adalah atmosfir yang lazim tatkala ia ada. Pasalnya, ia berbentuk seperti monster besar dan berbau. Kala ia datang, inginnya selalu menyerobot kompas. Kedatangannya di rumah saya juga tidak sebentar. Ternyata ia makhluk lama yang selama bertahun-tahun berdiam diri di belakang rumah. Tidak jarang rumah saya dibuat sesak dan sempit karena keberadaannya yang merusak dan membuat distorsi apa yang saya lakukan.
Intermezzo : Saya secara sengaja menuliskan cerita ini menggunakan kiasan, agar saya punya imajinasi tentang perjuangan yang saya ambil dari film-film bergenre sejarah. Terima kasih Hollywood dan teman-temannya yang sudah memvisualkan dengan apik bagaimana berjuang dalam hidup.
Saya illfeel dengan diri saya sendiri. Namun, mau bagaimanapun makhluk suram itu datang ke rumah saya dengan membawa surat izin. Tidak bisa tidak menolak. Saya harus menerima karena makhluk itu datang dengan perintah tertinggi. Dengan sangat terpaksa saya menemaninya, sebagaimana yang diamanatkan dalam surat perintah bahwa ia adalah tamu yang harus dilayani. Saya memilih gudang sebagai tempat duduknya. Saya duduk di dekat pintu luar agar bisa berjauhan darinya sembari memegang obor kecil yang berbahan bakar harapan. Harapan tentang sebuah masa di mana monster ini berubah menjadi gadis cantik nan wangi. Tanda sayyiah telah berbuah hasanah.
Saya membuat catatan observasi tentang makhluk ini. Satu hal yang membuat saya senang, terutama dalam 3 tahun ini, setiap bulan Ramadhan, monster ini tidak bau seperti biasanya. Ia juga lebih kurus. Barangkali karena ketika puasa bahan makanan menipis. Sesekali ia juga pergi keluar entah ke mana, mungkin untuk makan. Selama dia pergi rumah pun lebih sedikit lapang, iya sedikit saja.
Namun akhir-akhir ini saya merasa aneh karena sering kepikiran dia. Saya bertanya-tanya di mana dia? Apakah dia sudah benar-benar pergi dari rumah saya?
Dan baru tadi malam, dia sudah duduk di ruang tamu. Melambaikan tangan kepada saya. Seolah mengartikan dia kembali ke rumah saya. Rumah saya kembali sempit dan bau.
Sebenarnya saya tidak kaget karena saya mengenali tanda ia datang. Tapi entah dari mana kali ini saya punya tekad keberanian untuk menjamu tamu lama ini. Ini adalah hal yang saya syukuri. Saya langsung mengambil obor yang lebih besar agar ia bisa jelas terlihat dan punya banyak catatan observasi tentang dia.
Pagi ini, saya sedikit gusar terhadap makhluk ini. Kekuatan dari mana saya tidak tahu, tapi saya bisa menepisnya dengan sebuah hadits tentang masa bertamu yang berlaku selama tiga hari [1]. Tidak sampai disitu, saya pun sampai inisiatif menghubungi teman saya, Kesabaran, yang sangat sering saya lupakan untuk bertanya bagaimana menyikapi makhluk ini. Lalu, dengan renyah dia berkata kepada saya :
โSabar ada tiga tingkatan; sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan. Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah akan mengangkat 300 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah mengangkat 600 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) โarsy. Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah mengangkat 900 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) โarsyโ.
Saya pun mengangguk-angguk dan mencatat dengan seksama ucapan yang disampaikannya. Belum selesai saya menulis, dia sambung lagi dengan perkataan yang lebih padat. Begini kalimatnya :
"Dan bersabarlah (Muhammad) danย kesabaranmuย itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan." [2].
Setelah selesai menyampaikan untaian kalimat agung itu, kesabaran pun pergi melengos sambil tersenyum kepada saya, "Kamu pasti bisa melakukan perjamuan ini."
Laa hawla walaa quwwata illa billahil 'alliyyil 'adzhiim
[1] Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam. Dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya; ย dan tidak halal bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga memberatkannya. (HR. Bukhari).