Visualisasi puisi adalah sebuah pilihan diantara banyak pilihan ekspresi seni untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, perasaan dan sekitarnya dalam wujud visual. Video, lukisan, sketsa dan fotografi adalah beberapa bentuk karya visualisasi yang dapat diciptakan berdasar puisi.
Contoh dalam bentuk gambar dua dimensi adalah sebagai berikut: 
Gambar di atas dibuat oleh Koskow berdasar sebuah puisi yang berjudul “Suatu Pagi di Alun-alun Kecil”. Lariknya sebagai berikut: Kegelisahan mengental/ dalam gelas kopi/ Pagi ini: sendiri Ada juga yang membuat dengan menata kata/kalimat dalam puisi sehingga membentuk sebuah komposisi tertentu yang secara visual menarik.
Salah satu contohnya adalah karya Sutardji Calzoum Bachri sebagai berikut yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka”:  Puisi atau sajak merupakan gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
Puisi atau sajak telah menjadi sumber inspirasi bagi berbagai kalangan untuk mengalihwahanakan menjadi bentuk seni rupa, pertunjukan dan lainnya. Proses penggarapan visualisasi puisi dapat dilakukan oleh siapa saja. Anak-anak, remaja, orang dewasa, kalangan pelajar, kalangan mahasiswa, kalangan pekerja, dll.
Sebuah puisi jadi acuan untuk membuat gambar/visual atau rangkaian gambar yang diharapkan sesuai dengan gagasan/pesan yang dibuat oleh sang penyair. Penafsiran dapat dilakukan kata demi kata, bait demi bait, atau secara keseluruhan. Proses breakdown ini bebas sesuai dengan tafsir sang visualiser. Masyarakat yang akan menilai apakah tafsirnya tepat atau tidak, apakah memunculkan makna baru atau tidak, apakah unik atau tidak, dst.
Mari kita perhatikan rangkaian kata yang disusun oleh Asdeje, sahabat MT, seorang blogger, penulis, seniman dan pekerja komunitas yang berproses di Bogor ini:
Derai rintik hujan yang tercurah
Senja itu luruh di kota hujan
Basahi daun dan atap-atap rumah
Basahi diriku yang tak terlindung naungan
Kurengkuh suasana temaram
Di bawah lampu jalan yang tak menyala
Kuhirup udara yang basah lembab
Tak terlukiskan suasana yang tercipta
Kenangan penuhi ruang jiwaku
Rangkaian kata di atas merupakan sebuah syair lagu, yang bagi saya juga merupakan sebuah puisi yang menarik. Oleh MT dan grupnya Fabian Folklore, syair di atas telah dialihwahanakan menjadi sebuah lagu yang dapat anda nikmati di sini: http://festivalhujan.com/
Saya sedang membayangkan rangkaian gambar/video dari susunan kata-kata di atas. Saya sedang membayangkan visualisasi puisi Senja di Kota Hujan. Saya sedang membayangkan kolaborasi artistik antara senja, hujan dan pojok-pojok bermakna dari sebuah kota. Saya sedang membayangkan sebuah karya seni video Senja di Kota Hujan.
http://festivalhujan.com/
http://mataharitimoer.com/
http://dgi-indonesia.com/menikmati-sajian-visual-di-dalam-percakapan-diam-diam/
Tulisan ini dapat dibaca juga di: http://tomytaslim.wordpress.com/2013/01/15/visualisasi-puisi/