Rindu ini timbul tenggelam, tanganmu ingin kugenggam dan melihatmu hal terakhir sebelum ku berpejam.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Three Goblin Art
almost home

祝日 / Permanent Vacation
TVSTRANGERTHINGS
styofa doing anything
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
Alisa U Zemlji Chuda
Misplaced Lens Cap

tannertan36

roma★

#extradirty
wallacepolsom
Claire Keane
sheepfilms
No title available
he wasn't even looking at me and he found me

Andulka
seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from Ukraine

seen from China

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@rajaveline
Rindu ini timbul tenggelam, tanganmu ingin kugenggam dan melihatmu hal terakhir sebelum ku berpejam.
Antara Realistis dan Dramatis
Cinta, sesungguhnya satu kata yang tidak asing untuk telinga kita. Tapi bisa sebegitu asing, atau bahkan terasa aneh di hati kita.
Dalam riwayatnya, cinta hanyalah pengulangan-pengulangan perjalanan rasa, yang selalu melahirkan rasa duka, maupun bahagia. Lalu, apakah kita masih mengenali cinta dengan segenap pancaindera dan otak kita sebagai seorang manusia tatkala kita pernah merasakan betapa lepuhnya luka cinta. Dan seandainya kita masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya, bagaimanakah caranya kita akan mengenali cinta? Lalu, apa yang akan kita lakukan? Masihkah dengan cara kebutaan cinta, atau jatuh hati yang membabi-buta, atau dengan cara yang sedikit lebih dewasa, saling memahami perbedaan-berbedaan yang lebih dulu ada, misalnya?
Aku cinta kamu, kamu cinta aku, dan kita saling mencita. Apakah kita telah cukup menafsirkan cinta dengan sesederhana itu saja? Bukankah setelah itu akan banyak hal baru yang harus saling dibangun agar bahagia makin kuat adanya?
Setiap manusia berpeluang mempunyai nasib malang, dan jika kemalangan tersebut kita asumsikan sebagai kenangan yang paling menyakitkan, apakah kita akan membuangnya agar menjauh, selamanya pergi dan tidak pernah kembali? Lalu, kenapa kita yang harus merasakan kepedihan cinta? Atau, takdir yang sedang mengharuskan kita untuk saatnya berduka? Padahal, perpisahan itu sendiri sebetulnya telah membuat peluang kita untuk terbuka seluas alam jagat raya.
Bagi beberapa orang, barangkali tulisan ini tidak ada menariknya sama sekali, atau bahkan sebaliknya, sebab di sini saya tidak bercerita tentang cinta dengan segala mealnkolinya, saya hanya mengajak para pembaca untuk melihat lebih realistis lagi akan arti sebenar-benarnya cinta.
Maka, sudah seharusnya kita bahagia pernah merasakan cinta, meski hanya mendapat kesempatan mencintai saja.
Writers’ Series adalah ajang tahunan persembahan The Jakarta Post Writing Center yang mengajak para penulis, calon penulis, dan pembaca untuk bersama-sama membuka ruang baru bagi mereka-mereka yang ingin mendalami bidang kepenulisan kreatif dalam bahasa internasional, Bahasa Inggris. Acara Writers’ Series dibagi menjadi dua: Creative Writing Workshop dan Up Close and Personal: An Intimate Conversation — dan kali ini kami mengundang XU XI: penulis, editor dan pengajar bidang kepenulisan Asia-Amerika yang sudah malang-melintang di dunia sastra sebagai tamu kehormatan. Dalam sesi Up Close and Personal: An Intimate Conversation, Xu Xi akan berbincang dengan Maggie Tiojakin tentang tantangan, keindahan serta pentingnya bagi kita untuk menulis dalam Bahasa Inggris agar dapat memperkuat daya saing sastra lokal di pasar internasional. Kita juga akan membahas pentingnya menjaga rasa dan budaya dalam kepenulisan berbahasa asing; serta peran Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam khasanah kesusastraan lokal. Dan pertanyaan-pertanyaan mendesak yang sering menghadirkan kontroversi juga akan dijawab di sini: Apakah penggunaan Bahasa Inggris akan mengurangi citarasa lokal dalam tulisan kita? Bagaimana cara mengimbanginya? Adakah batasan yang perlu diperhatikan? Apa hubungan antara bahasa dan identitas? Apakah penulis Indonesia yang menulis dalam Bahasa Inggris tidak layak dipertimbangkan karyanya dalam khasanah kesusastraan Indonesia? Bukankah cerita yang baik tidak dinilai dari bahasa apa yang digunakan, melainkan penggunaan bahasa serta konteks bahasa dan identitas cerita itu sendiri? Dan yang terakhir: kenapa Bahasa Inggris? Kami dari The Jakarta Post Writing Center mengundang kalian semua untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi singkat di Museum Nasional pada tanggal 30 Juli 2016, pukul 15.00 – selesai. Segera daftar ke Jasmine/Mona di [email protected]
Aku lupa bahwa kita sudah menjadi dusta dan ingatan tentangmu tak lebih dari fatamorgana. Andai harap adalah dosa, maka priamu dulu adalah pendosa.
Untuk Perasaan
Untuk perasaan yang kembali datang. Dibuangpun tak kunjung lekang. Kadang benci, kadang sayang. Kadang pula menyelinap dalam bayang.
Senyap sesenyap angin malam. Terang seterang matahari siang. Perasaan yang membawa tentram. Dalam tentram kau berubah kelam dan kembali hilang.
Keras sekeras logam. Tipis setipis benang. Hangat yang menjalar bagai demam, menggantung layaknya layang-layang.
Untuk perasaan yang sekali lagi diam. Terbiar membisu dalam bungkam. Izinkan kuucap salam, padamu yang mulai temaram.
matamu laut, bila kau menangis, aku yang hanyut.
(via karizunique)
Bibirmu surya, sedikit kau senyumi, silau aku sebulan.
Seta: Kenapa kamu suka menunggu, bukan memulai lebih dulu?
Rea: Aku terlalu tahu rasanya memulai tanpa sambutan balasan. Sudah kenyang dengan rasa kecewa.
Seta: Lalu?
Rea: Dengan menunggu, aku berjanji tidak akan mengecewakan. Selalu akan memberi balasan.
Maaf, dadaku bukan lagi ruang tunggu yang bisa kautempati hanya untuk hitungan waktu. Mataku bukan lagi cermin, yang hanya untuk kautanya “sudahkah aku cantik?”. Aku sudah lebih menarik, untuk hanya kaujadikan tempat bagi sikapmu yang menggelitik.
(via a-hap)
Dan (kuharap) gantungan lukis potretmu sudah roboh dari hatiku dengan benar, kali ini.
Bisikku Untukmu
Hei kau yang disana, duduk sendiri melihat indahnya keluar jendela. Di depanmu aku duduk mengamati sesuatu yang lebih indah. Kau.
Senyum di bibirmu membuatku tersenyum, mungkin bukan senyuman di bibir. Hatiku tersenyum hanya dengan mengamatimu. Namun senyumanku ini tak santai, rasanya sakit.
Dan rasa sakit ini baiknya tak kau tau, yang ada menjadi malu aku. Kau, yang dulu merupakan tempat curahan segala gundahku, kini menjadi biang gundah paling syahdu.
Salahmu, salahmu hadir saat kubutuh tempat mengadu. Seharusnya tak perlu ada kau saat itu jika saat ini aku harus kembali tersendu di tengah tidurku. Tak usah kau dengar pilu-pilu yang kubisik saat itu, karena sakit ini makin membatu.
Ingin rasanya kucerca kau. Kau yang melihatku seolah tak terjadi apa-apa. Hah, bagimu memang tak terjadi apa-apa, tak juga mata ini yang melihatmu penuh makna. Aku sadar bahwa aku dan ceritaku hanyalah dongeng pengiring tidurmu.
Rasa ini rasanya tak pantas, namun apa daya, si Tak Pantas ini hanya bisa diam-diam memikirkanmu di kala langit membisu.
Potret yang Kau Lukis
Kau si pelukis. Pelukis kesan-kesan yang hadir dalam hidupmu. Kesan-kesan yang kau degup erat, kadang terlalu erat. Kau si pelukis. Pelukis angan-angan yang menghampirimu di mimpi. Mimpi yang hanyalah sebatas mimpi, tak ada harapan lebih, katamu. Lukisan-lukisanmu selalu penuh warna, menyempilkan gembira. Garisnya sesederhana senja, merona. Yah begitulah mulanya, tak terlalu istimewa dan biasa saja. Kau mulai terobsesi dengan sebuah potret. Potret yang tiada henti kau lukis di waktu senggangmu. Tapi itu masih biasa saja, sanggahmu. Hanya potret lain yang kau lukis dalam waktu senggang. Potret yang kian lama menguras tenaga dan tinta. Iya, tinta. Tintamu tak lagi sama dengan tinta pada lukisan-lukisanmu sebelumnya. Kau gunakan tinta yang berbeda, warnanya lebih menyala. Namun sayang, lukisan hanyalah lukisan, tak ayal bedanya dengan potret tersebut. Andai kau sadar, dirimu lebih berharga dari sekedar potret yang tak akan melukismu balik. Sadar dengan cara biasa tentunya. Kau menjadi murka. Obsesimu menetes diantara nyala api yang kau lemparkan ke potret tersebut. Katamu dengan ini kau akan baik saja. Sayang, kau butuh bantuan.
Untuk Perasaan yang Bergantung di Pintu Rumahmu
Lepaskanlah, lepaskan, perasaan itu yang sekali-kali kau pandangi di pintu rumahmu. Perasaan itu sudah bukan waktunya untuk berada disitu. Lepaskanlah, lepaskan, perasaan itu sudah terlalu lama berdebu dan mengganggu pandanganmu saja. Kau lebih dari itu, lebih dari sekedar wanita yang menunggu hal tak tentu. Lepaskanlah, lepas. Perasaan itu kian lama kian menghambatmu. Pintu yang dulu kau lalui dengan senyum kini kau lirik dengan harap, hanya karena perasaan itu masih bergantung. Lepaskanlah, demi kebahagiaanmu.
Dan Lalu
Dan tentang kita yang dulu gigih bertindak sesuka hati, menyombong bak maha memiliki, kini diam dalam pilu. Realita memang terkadang kejam, tak ada jeda dalam harap, seolah angan itu semu. Lalu maumu apa? Mengacung tak suka? Ini bukan akhir yang kau duga kan? Marahlah, bentaklah, cacilah semaumu! Teruntuk sakit hati di dadamu, aku mengambil porsi yang banyak, porsi yang kau paksa aku ikut serta.
Ntah mengapa rindu ini makin menjadi, samar-samar bayanganmu menguat lagi. Sayang, bisu ini sudah tak mampu menahanku lagi.
Kau tau apa yang lucu? Aku padamu seperti roda-roda yang melaju, mengejarmu walau tau takkan bertemu. Tapi sayang, porosku sudah sampai masanya, poros ini sudah tak mampu.
Anggrek yang Kau Sirami
Hai Mendung, lama tak berjumpa. Lama rasanya ku tak melihatmu. Ya akhir-akhir ini langit terlalu gembira, ia seolah merampasmu dariku.
Mendung, apa kabarmu? Warnamu tak sepekat biasanya, apakah ada sesuatu di benakmu? Atau, kau sedang ragu? Bisikanlah padaku, barangkali aku bisa membantu.
Kemarin aku bahagia, kau, tanpa isyarat mendatangiku, membasahi daun-daun anggrek yang bergantungan di atas kolam. Kau tau, tak henti kupandangi tetes-tetes air yang menetes itu. Aku tau kau kecewa, sekaligus mengucap syukur. Kadang aku terkekeh geli ketika daun yang layu jatuh ke kolam, tak cukup kuat ia menampung airmatamu.
Daun-daun yang jatuh itu berpegang erat satu sama lain terapung di keruhnya kolam, wah mereka yang sudah jatuh saja masih kompak. Kutengok ke arahmu, warnamu makin lama makin memudar, agaknya kau tak lagi risau. Tak apa, berarti waktu kita berjumpa tak lama kali ini, tak apa.
Mendung, datanglah lain kali basahi lagi anggrek-anggrek itu. Nanti, tangismu akan kutukar dengan kembang istimewa.
Aku ingin menjadi seperti uban di usia tuamu, yang tiada hari tiada kau keluhkan dan karenanya kau sibuk mengecat hitam rambutmu.
Kau Tutup Pelan-pelan Jendela Itu
Kulihat kau menutup mata. Mau tak mau tau pelan-pelan kau tutup jendela kamarmu, jendela yang biasa kukunjungi di luang waktu. Segala macam alfabet pembenaran terlontar dari mulutmu, "Bukan hanya salahku." Kau benar, bukan hanya mutlak kesalahanmu yang membuat kita begini. Aku dan segala tindak-tandukku juga ambil andil dalam pentas yang selama ini kita bicarakan. Aku sadar. Tapi, tak bisakah kau tak menutup mata? Apa kurang penjelasan-penjelasan yang kubisik terhadap angin yang menerpa hidungmu? "Kita kan ga mungkin bersama." Jelas bukan, mungkin nadanya terkesan satir, namun aku selalu menyelipkan keseriusan di kalimatku itu. Kali ini kau mendelik, kecewa, seakan akulah yang menghancurkan dongeng pengantar tidurmu. Sadarlah! Kau bukanlah Rapunzel yang sedang menanti pangeran di jendela kamarmu dan aku tak akan pernah menjadi pangeran itu. Kita hanyalah ketidaksengajaan yang saling bertemu dan menukar tawa. Tak lebih, tak akan. Kesannya aku egois, iya memang aku egois karena menolak keegoisanmu. Aku egois dalam hal yang menurutku benar. Senang sekali rasanya berteman denganmu, nyaman. Iya, berteman. Tapi kau mulai meneteskan air mata, salah siapa? Aku? Kau? Tidak, kita, salah kira karena menduga-menduga dan tak bicara. Kau kembangkan perasaan itu seolah apa yang kulakukan adalah respon untukmu dan kudiamkan sikapmu sebagai bentuk penolakanku. Ayolah, kau tau ceritamu tak akan menyatu dengan ceritaku, takkan menjadi cerita kita. Kau menutup telinga, jendela itu sudah rapat sekarang. Perlahan-lahan sosokku juga akan menjadi peran ketiga dalam dongengmu berikutnya.