Hai diriku, mari berlatih untuk jangan terlalu perasa. Dirimu tahu itu sangat menyiksa, padahal orang pikir itu hal biasa.
Rumah, 27 Ramadhan 1441 H
Rajuami
Not today Justin
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Andulka
Keni
Cosimo Galluzzi
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
YOU ARE THE REASON
Today's Document
Xuebing Du

#extradirty
occasionally subtle
The Stonewall Inn
RMH
trying on a metaphor
TVSTRANGERTHINGS
d e v o n
NASA
Sweet Seals For You, Always
hello vonnie
seen from United States

seen from India
seen from Algeria

seen from Uzbekistan
seen from Moldova
seen from Brazil
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United States
seen from India

seen from Saudi Arabia
seen from Brazil

seen from Bangladesh

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Singapore
seen from Spain
seen from United States

seen from Bangladesh
@rajuami
Hai diriku, mari berlatih untuk jangan terlalu perasa. Dirimu tahu itu sangat menyiksa, padahal orang pikir itu hal biasa.
Rumah, 27 Ramadhan 1441 H
Rajuami
Ingat ya, kewarasanmu juga ditentukan sama kesiapan atasanku menjadi seorang leader.
Kalau dia ga siap, kamu yang bakal capek sendiri. Dia salah bilangnya wajar, kamu salah dicecer terus-terusan.
Dia bertanya itu hal lumrah, kamu bertanya itu sebuah pertanda baginya bahwa critical thinking-mu bermasalah.
Inget udah dua kali dirawat inap di RS, satu kali konsul ke konselor, dan pernah didiagnosa stress bekerja Mi. Jangan diulangi.
Mencintaimu kini seperti apa yang aku doakan serta bayangkan dulu.
Rajuami
Atas apapun yang terjadi Ya Allah, makasih karena selalu menyelipkan kesadaran bahwa rencanaMu pada akhirnya yang membawaku bisa sejauh ini melangkah.
Stasiun, 1 Juli 2026
Rajuami
Aku kira 2025 lalu udah cukup jedar jeder hidup, ternyata 2026 lebih dari itu. Naik level kah aku ini Ya Allah?
Kantor, 25 Juni 2026
Rajuami
Bapak Berpulang
Pagi itu seperti biasa sampai di rumah mama untuk menitipkan anak kami. Aku dan suami hanya bertemu mama di ruang tamu. Bapak di kamar, katanya. Mama hanya bilang kalau bapak tidak bisa tidur setelah kemarin terapi dan mama sangat kelelahan.
Siang hari, saat aku dan beberapa teman makan siang di blok M, pengasuh anakku mengabari kalau bapak sesak dan dibawa ke rumah sakit. Aku masih mencerna kata sesak yang sebelumnya ga pernah bapak keluhkan. Semua temanku bilang cepet sekarang pulang, namun aku bilang ada satu rapat yang harus ku selesaikan dulu biar besok cuti ga diganggu kerjaan, pikirku. Aku memang sudah berencana cuti untuk menjaga bapak di rumah sakit.
Sore itu, saat rapat sedang berlangsung. Kakak pertamaku mengabari di group keluarga kalau bapak kena serangan jantung. Oke tidak hanya cukup di sana berita mengejutkannya. Paru-paru serta jantung bapak sudah penuh cairan hingga menjadi penyebab utama sesak itu muncul.
Buru-buru ku bereskan barang dan memesan kendaraan menuju stasiun. Pikiranku kalut. Aku takut. Aku mulai membayangkan kemungkinan terburuk yang tak pernah terlintas sebelumnya. Dan aku menangis di gojek maupun di kereta. Tangis yang tak bisa ditahan. Meluncur deras air mataku sore itu. Aku terus mengulang kalimat, "Tunggu Ami, Pak. Tunggu."
Perjalanan sore terasa lebih lama dari biasanya. Kesal entah pada siapa karena memang begitu jauh jarak yang harus aku tempuh ini sudah lebih tiga tahun aku jalani. Di pertengahan jalan, aku chat mama menanyakan gimana kondisi bapak dan memesan makanan secara online untuk aku dan mama saat di rumah sakit nantinya. Mama hanya bilang, nanti temui dokter ya. Dokter mau ketemu.
Ok, ini degupan jantungku makin ga karuan. Kenapa harus ketemunya aku bukan mama saja? Separah itu? Atau apa?
Akhirnya aku sampai di rumah sakit setelah perjalanan kurang lebih dua jam. Aku masuk ke UGD dan menuju ruangan bapak. Aku letakkan tas di bawah dan langsung bertemu bapak.
Bapak menggenggam tanganku sangat lembut dan dingin. Aku hanya bilang, bapak kedinginan?
Tapi bapak tak menjawab itu.
Aku bertemu dokter dan dia menjelaskan dengan detail apa yang terjadi pada bapak. Semua percakapan itu berakhir dengan, bapak harus masuk HCU ya. Ruangan sudah disiapkan dan tinggal menunggu persetujuan keluarga. Aku diam. Menelpon kakak-kakakku meminta persetujuan serta menemui mama. Mereka semua sepakat untuk menyetujui saran dokter demi kebaikan kondisi bapak.
Bapak memandangku dan bertanya kapan kakakku sampai? Aku hanya bilang, besok ya pak. Besok semua kita kumpul ketemu bapak. Dan setelah itu aku bantu bapak untuk meminum obat. Aku bilang padanya, pak ini obat nanti bikin bapak tidur. Bapak kan kurang istirahat beberapa hari ini. Ami izin pulang dulu ya simpan tas dan ganti pakaian. Bapak meresponku dengan lelucon khasnya. Dia masih bisa tertawa. Ah bapak emang baik-baik saja.
Sampai di rumah, hujan turun deras dan anakku sedikit demam. Aku bilang pada keluarga kalau belum bisa kembali malam itu. Dan aku tertidur saat menemani anakku tidur malam.
Lima belas menit berselang, berita itu sampai di handphoneku. Pukul sebelas malam dan hujan sedang deras-derasnya.
"Bapak meninggal"
Aku langsung berteriak keluar kamar menemui suamiku yang belum tidur. Aku menangis memeluknya sambil berkata ini mimpi kan? Gimana aku bingung. Aku harus apa. Dan tangisan sederas hujan di luar sana.
Malam itu, kembali ke rumah mama. Yang aku cari pertama adalah mama, aku peluk mama dan berkata, mama nanti sama Ami ya. Mama jangan khawatir. Kita akan tinggal sama mama. Entah mama bisa mencerna kalimatku atau tidak. Karena yang aku lihat hanya mata yang entah sedang menerawang kemana.
Aku temui bapak, aku lihat badannya yang telah tertutup kain berwarna cokelat. Aku diam. Seperti adegan di mimpi beberapa tahun lalu. Tapi ini bukan mimpi.
Pak, Ami bilang memang obatnya bikin bapak tidur tapi apa seperti ini tidur yang bapak inginkan waktu itu? Besok itu memang akan kumpul semua anak bapak, tapi alasannya bukan ini yang waktu itu aku maksud. Pak, tanganmu dingin, apakah saat itu malaikat perlahan telah ada di sekitarmu?
Sekarang setiap kali ingat bapak, aku hanya bisa tersenyum simpul. Bilang bahwa masanya telah usai. Tapi kenangan tentang bapak akan selalu abadi. Bapak orang baik. Aku menyayangi bapak.
Bapak telah menepati janji untuk menemaniku wisuda, menikah dan melahirkan cucu bapak.
Terima kasih atas 32 tahun terindah yang bapak berikan kepadaku.
Alfatihah untuk bapakku tersayang.
Mengenang Bapak di Commuterline, 22 Juni 2026
Rajuami
Engga semua orang relate sama cerita kita. Dan ga semua orang harus relate sama cerita kita.
Jalanan menuju Kebayoran, 19 Juni 2026
Rajuami
Apakah semua tulisanmu tertuang saat di kantor?
Halo.
Hmmm engga semua. Tapi bisa dibilang kebanyakan ide saat di kantor hehe.
Satu-satunya afirmasi yang belakangan aku perkuat adalah Allah sedang menyelamatkanku dari sesuatu yang akan membuatku merasakan sakit lebih dalam.
Ada kecewa pasti dong. Namanya juga berkaitan sama manusia. Apalagi alasannya berkaitan dengan loyalitas. Tapi aku sangat yakin bahwa Allah tak pernah sekali pun membuatku kecewa.
"..dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku (QS Maryam:4)"
Kantor, 22 Mei 2026
Rajuami
Aku takut jika suatu hari nanti tidak bisa lagi merasakan sedih saat mengingat hari dimana bapak pergi. Aku ingin tetap merasakan dukanya, begitulah caraku menebus rasa bersalah karena tidak menemani bapak di detik terakhirnya.
Stasiun, 27 April 2026
Rajuami
Pak, terima kasih karena telah mendoakan banyak hal untukku. Kini saat salah satu terwujud, engkau lebih dulu berpulang menemui Sang Pengabul Doa.
Rumah, 12 April 2026
Rajuami
Tentang Kehilangan (6)
Menyengajakan diri untuk terus mengingat hari dimana aku berduka adalah satu-satunya cara agar bapak terus ada diingatanku.
Tak mau lupa. Tak mau sampai lupa bagaimana hari-hari berat itu dilalui sambil merangkul satu sama lain. Saling menguatkan padahal sama-sama berada titik terendah yang hampir sama.
Pak, rindu tapi tak bisa bertemu atau video call ternyata begini ya rasanya? Maaf ya jika dulu pernah ada panggilan suara yang tanpa sengaja tak aku angkat. Kini aku rindu.
Commuterline, 12 Maret 2026
Rajuami
Tentang Kehilangan (5)
Entah pagi, siang, malam atau kapan pun itu, masih seperti orang yang kebingungan. Dan kembali mencari-cari percakapan malam itu, melihat foto atau video, dan tersadar kembali bahwa ini memang terjadi di kehidupanku.
Dulu sekali, aku sering bermimpi tentang kehilangan dan rasanya sesak setiap kali mata terbuka. Kini, ku pandangi lagi dan lagi tempat dimana semua orang berdoa untuknya. Aku usap pelan lantai dimana beliau tertutup kain. Hanya doa dan tangisan dalam lirih yang bisa kini aku lakukan.
Sungguh banyak penyesalan kenapa dan kenapa di kepala, tapi selalu aku akhiri dengan, tak pernah ada waktu yang cukup untuk membahagiakan beliau. Kini, bersyukurlah karena Allah yang mencukupkan segala kebahagiaan hingga beliau pergi dengan begitu tenang, dan meninggalkan banyak kenangan manis bagi kami.
Pak, sebulan tanpamu rasanya masih seperti mimpi. Semoga Bapak berbahagia selalu di sana.
Kantor, 2 Maret 2026
Rajuami
Tentang Kehilangan (4)
Sahur hari ini hanya terbangun oleh suara alarm. Tidak ada lagi lantunan ayat suci dengan suara khas yang memenuhi ruang tamu. Seperti mimpi tapi entah kapan akan terbangunnya.
Setelah habis satu piring kudapan, aku merebahkan diri di ruang tengah yang kini terasa lapang. Aku pandangi satu per satu frame berisi wajahmu di sana. Senyum khas mata segaris, gigi yang berjajar rapi, hingga acungan jempol yang tak luput dari gayamu saat menghadap kamera. Ah, ternyata masanya sudah habis ya?
Katanya tidak boleh berandai-andai, jadi aku hanya bisa merecall apapun, semaksimal yang aku bisa, karena aku tak ingin melupakan tentangmu. Semoga dengan cara ini kenanganmu di kepalaku tak pernah habis.
Allah, ramadhan ini beda ya rasanya. Aku tak marah padaMu. Aku hanya ingin bapak hidup diingatanku selama yang aku bisa.
Ramadhan hari ke 1, 2026
Rajuami
Tentang Kehilangan (3)
Ya Allah, aku tak marah padamu karena mengambil bapak hari itu, aku marah pada diriku sendiri karena ternyata masih banyak mimpi yang belum terwujud bersamanya.
Ya Allah, aku tidak lagi bertanya kenapa Engkau membawanya jauh dariku, aku hanya bertanya-tanya apakah bapak bahagia dengan segala yang telah kami lalui bersama.
Setelah bapak pergi, aku penuh kebingungan. Harus mulai dari mana menjalani kehidupan baru ini. Entah bagaimana aku yang tak mudah menangis ini bisa tiba-tiba berurai air mata saat di ruangan kerja atau di perjalanan pulang dari kantor.
Pak, aku ingat betul saat di pemakaman, mataku berkelana ke berbagai penjuru, berharap satu detik saja kita bisa saling menatap tapi ternyata tidak terjadi. Aku tersadar saat adzan itu dikumandangkan, pak. Ternyata adzan ini yang siap tidak siap kami harus siap mendengarkannya.
Pak, jika rindu bolehkah mampir sebentar pada mimpiku. Aku hanya ingin memelukmu dan bilang bahwa ternyata tanpamu itu hidupmu jadi berbeda. Aku, menjadi versi terbaru. Entah akan berapa lama peralihan ini berlangsung, aku hanya berharap masih bisa merawat banyak memori yang telah kita timbun selama 32 tahun.
Pak, semoga surga terbaikNya adalah tempatmu yang kekal.
Commuterline, 13 Februari 2026
Rajuami
Mungkin Allah sedang berusaha menyelamatkanku dari sesuatu yang bisa membuatku lebih terluka.
Kantor, 11 Februari 2026
Rajuami
Tentang Kehilangan (2)
Jangan menitipkan apapun pada seseorang yang sedang merasakan kehilangan. Sebab dia sendiri pun telah memikul banyak beban yang tak disangka akan sehebat ini dampaknya.
Jangan memerintahnya untuk melakukan hal-hal yang belum siap dia lakukan. Sebab dia sedang memilah arah dengan minim duka.
Berilah dia ruang, untuk memvalidasi rasa, menarik napas panjang, menangis sepuasnya, dan memikirkan bagaimana hidup ke depan yang harus dia lalui. Sebab kehilangan tentu menjadi gerbang baru baginya. Dan dia kini sedang berusaha menata kembali hidup yang tak lagi utuh.
Biarkan dia berduka, ku yakin tak akan lama.
Rumah Tanpa Bapak, 5 Februari 2026
Rajuami