Hati-Hati Memilih & Menjadi Telinga
Beberapa dari kita mungkin ada yang sudah pernah mendengar bahwa Allah seharusnya menjadi tempat pertama kita mengadu dan mencurahkan isi hati, segala harap dan cemas. Tapi seringkali kita memilih teman, sahabat, keluarga atau orang-orang terpercaya lainnya untuk menjadi telinga kita yang pertama.
Kita merasa bahwa semua sesak yang sedang dirasakan, cemas di pikiran, harapan yang ingin sekali dikatakan, perlu disampaikan kepada orang terdekat kita. Dengan segenap asa, berharap bahwa si pendengar akan mengerti yang kita sampaikan, mampu meresapi cerita kita, dan menjadi telinga yang baik bagi setiap keluh kesah kita.
Namun, alih-alih itu semua didapatkan, melainkan kecewa yang diraih.
Iya, kecewa. Karena ternyata telinga yang kita pilih, begitu mudah untuk menilai cerita dari obrolan beberapa saat dan alih-alih memaksimalkan fungsinya sebagai telinga, ternyata dibombardir dengan segala nasihat yang terasa seperti perintah, serta yang lebih buruk lagi adalah membandingkan penderitaan antara kita dengan jalan cerita pendengarnya.
Bukan lega yang didapat. Namun, bertambah lagi kecewanya.
Tersadarkan kembali bahwa itulah hakikat manusia dengan segala harapannya. Sering meletakkan ekspektasi ke sebuah titik yang salah.
Tapi bukankah hidup adalah proses pengambilan hikmah setiap saat?
Kelak menjadi telinga di sebuah fase hidup seseorang, berfungsilah semaksimal mungkin menjadi pendengar yang tulus. Tahanlah semua ceritamu, karena saat ada seseorang yang ingin menumpahkan pikirannya kepadamu, bukan untuk dinilai, bukan untuk dinasihati, bukan untuk dibandingkan penderitaannya denganmu. Kecuali, kalau si pencerita itu yang memintanya.
Karena kita tidak pernah tahu luka apa yang bisa kita gores di hati manusia dari setiap pertemuan, bukan?


















