Aku memilih duduk di sebuah meja yang dekat dengan kaca. Agar aku bisa melihat orang yang lalu lalang di jalan. Mengamati lingkungan sekitar merupakan hobi baruku belakangan ini, karena bisa mengurangi diriku untuk berbicara yang tidak perlu. Dengan mengamati sekitar mungkin kita bisa belajar tentang suatu hal.
Hari ini jalan begitu ramai padahal hujan sedang mengguyur ibu kota, banyak orang yang berlalu lalang, dengan mengenakan berbagai warna dan model baju. Penuh warna, tidak monoton. Jadi teringat bahwa selama 25 tahun ini Allah mempertemukan aku dengan banyak orang yang memiliki warna masing – masing. Yang menjadikan hidupku lebih berwarna.
Di tengah kerumunan orang di jalan, mataku terpaku pada sesosok wanita yang manis (menurutku). Mengenakan gamis berwarna gelap, badannya semampai. Dia sedang berbicara dengan temannya, sesekali ia tersenyum. Masya Allah, senyumnya teduh sekali. Sangat terlihat ketenangan jiwanya. Mungkin seperti yang banyak orang katakan “ Wanita shaliah “. Yang tiap kali memandang wajahnya, kita merasa tentram. Duhai kakak, bagaimana caranya aku bisa menjadi sepertimu? Ingin rasanya berlari keluar mengejar, tapi percuma engkau tak mungkin bisa ku kejar. Aku hanya bisa memandangmu di balik jendela, dan berdoa semoga selalu istiqomah dan menginspirasi banyak orang.
Tiba – tiba dadaku terasa sesak, pandanganku tertuju pada seseorang laki – laki yang perawakannya bersih, ia menggunakan kemeja biru, warna kesukaanku. Dia mirip sekali dengan seseorang. Seseorang yang sering berpapasan denganku waktu itu, seseorang yang sering menggunakan kemeja biru. Seseorang yang selalu berada di depanku dalam segala hal, yang mengajari aku sesuatu meskipun mungkin dirinya tidak menyadarinya. Aku ingin sejajar dengannya agar aku bisa sekedar menyapa atau tersenyum. Aku berlari sekuat tenaga bukan untuk mengejarnya tapi hanya ingin sekali saja dia tahu aku berada di depannya. Tapi, sayang waktu belum bersahabat denganku waktu itu. Aku, masih tetap berada di belakangnya, hanya bisa menatap punggungnya hingga akhir.
Ku lemparkan pandanganku ke arah yang lain karena aku tidak ingin terlarut dalam suasana sendu. Aku melihat segerombolan mahasiswa yang sedang duduk menunggu hujan reda di depan jendelaku. Mereka masih sangat terlihat muda, terlihat bersemangat sekali.tetap ceria, meski hujan membasahi kota. Ah, aku teringat beberapa sahabat yang membuat aku yang sendu menjadi penuh tawa, aku yang lemah menjadi kuat, aku yang sukanya tidur awal menjadi suka begadang ^^ . Hei bersama kalian banyak hal yang menggembirakan terjadi, banyak prestasi yang bisa aku capai. Karena kita sama sama saling bersaing dalam hal prestasi bukan? Meski kini tiga tahun sudah berlalu tapi kalian masih memperhatikanku. Bersyukurnya aku bisa menghabiskan masa tiga tahunku bersama kalian.
Tapi sekarang aku sendiri di sini, menunggu hujan reda di temani secangkir coklat panas. Ternyata aku sudah mengalami banyak hal ya, sedih, senang, menyerah, kecewa, bersemangat dan kehilangan. Apapun itu, segala puji hanya untuk Rabb Semesta Alam. Jadi teringat firman Nya
“ Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu , dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al Hadid 22 – 23)
Segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, sekarang dan masa depan sudah Allah tuliskan sebelum aku diciptakan.Bertemu seseorang, lalu berpisah dengannya. Memiliki seseorang, lalu aku kehilangannya. Sedihku, bahagiaku semuanya sudah tertakdirkan. Semoga aku bisa berduka cita secukupnya jika aku kehilangan orang – orang yang aku sayang termasuk kamu. Dan bisa bergembira secukupnya jika aku mampu mendapatkan apa yang aku cita cita kan.
Hujan masih tetap mengguyur ibu kota, dan aku masih duduk sendiri di balik jendela. Masih sabar menunggu, menunggu hujan reda dan menunggu seseorang yang akan menjemputku.Iya seseorang itu bisa jadi kamu atau malaikat maut. Entah siapa yang akan datang lebih dulu.
Jika kamu yang datang terlebih dahulu,aku mohon agar kita bisa saling membantu dalam hal mendapatkan perbekalan di safar yang singkat ini. Perbekalan yang cukup untuk di perjalanan panjang. Kamu, akan menjadi ketua perjalanan di safar yang pendek ini, dan aku makmummu.
Jika sebaliknya, malaikat maut yang datang semoga di safar pendekku aku bisa mengumpulkan perbekalan yang cukup untuk meneruskan di perjalanan yang panjang.
Ternyata hujan sudah reda, dan baik kamu ataupun malaikat maut tidak datang hari ini, saatnya meneruskan perjalanan.. Hm.. jadi teringat hakikat kehidupan. Kita hidup di dunia ini seperti seorang musafir yang mampir minum. Singkat sekali. Maka, semoga aku bisa dengan bijak menggunakan waktu yang ada.(Gadis di balik jendela J)