Kemarin lupa belum menulis, jadi menulis sekarang. Saya menemukan sebuah pelajaran berharga dalam riset-riset kepenulisan saya :
Salah satu kendala terbesar pertumbuhan kita adalah lingkungan. Dan ini, kutemukan di banyak sekali orang pada saat melakukan riset untuk penulisan cerita-cerita. Tapi, bukannya kemudian tersadar dan bergegas meninggalkan lingkungan tersebut tapi justru merasa sangat nyaman di sana. Kalau dalam istilah psikologi ada namanya Trauma Bonding, lebih ekstrem lagi Stockholm Syndrom atau Cycle of Abuse. Silakan teman-teman pelajari teori dari masing-masing istilah tersebut.
Istilah dalam psikologi tersebut saya buat menjadi sebuah penjabaran yang lebih general, karena ketika belajar teori dari istilah-istilah itu, saya melihat sebuah gambaran yang lebih luas mengapa seseorang, ketika sudah tahu bahwa mereka berada di tempat yang tidak membuat mereka berkembang, menahan mereka, membuat pikiran mereka tidak terbuka, tapi mereka tidak bisa, tidak berani, dan bahkan tidak mau meninggalkannya padahal jelas-jelas itu adalah alasan terbesar dari seluruh masalah hidup yang selama ini dikeluhkannya.
Seringkali, saya dapati bahwa solusi dari masalah seseorang itu “sesederhana” perluas pertemanan, bertemanlah dengan orang-orang yang punya pemikiran lebih baik, cari lingkungan yang benar-benar bisa memberikan kita dampak terhadap cara berpikir, cara berperilaku, dan dorongan yang kuat untuk tumbuh. Karena, sempit dan kecilnya cara berpikir tersebut membuat semua permasalahan hidup terasa menjadi sangat berat karena minimnya referensi dan pengetahuan. Bahkan, ditekan oleh lingkungan yang seolah-olah membuat penilaian benar dan salah atas tindakannya. Sehingga membuat orang takut untuk berpikir karena takut salah.
Ketidak mampuan membuat keputusan, menganalisa risiko, memahami sebuah masalah dengan memahami konteksnya, berkomunikasi, memahami struktur masalah dan mencari akar masalah, menyusun strategi, bernegosiasi, dan semua kemampuan yang semakin dibutuhkan saat kita dewasa itu tidak bisa berkembang karena berada di lingkungan tumbuh yang salah.
Tapi, pada akhirnya selama saya riset pun. Saya menyadari bahwa, ada saat dimana ada orang minta tolong, kemudian saya berikan semua jawaban terbaik, tapi dia sendiri tidak mau melakukan jawaban itu. Apakah saya akan tetap membantunya? Tidak. Apakah saya bersikap jahat?
Analogi ini semoga tepat: Ada seseorang mau tenggelam di laut kemudian saya lewat dengan kapal, kemudian saya lempar tali beserta pelampungnya agar dia bisa saya tarik, Tapi justru dia sendiri yang memotong tali dan membuat pelampung tersebut bocor.
Dalam hidup ini, kita tidak bisa menolong semua orang. Tapi, kita bisa menolong orang yang memang mau ditolong. Akan kamu dapati nanti, orang yang mungkin justru menjadi ketergantungan denganmu saat kamu ingin menolongnya tapi dia sendiri tidak berniat untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia justru merepotkan hidupmu, membuat hidupmu terus dihantui perasaan bersalah kalau tidak membantunya.
Dari pelajaran berharga selama riset ini, saya jadi memahami kapan saya harus menolong orang dan orang seperti apa yang memang bisa ditolong hidupnya. Jadi ini juga menjadi pertanyaan refleksi untuk diri kita sendiri, apakah kita mau menolong diri kita, menyelamatkan diri kita dari semua masalah yang sedang kita hadapi, dari kemalasan, dari sempitnya cara berpikir, dari sedikitkan teman-teman yang baik, dari keterkungkungan hidup yang selama ini kita keluhkan?
Barangkali, selama ini begitu banyak orang yang sebenarnya ingin membantu kita tapi urung karena kita sendiri terlihat tidak berminat dan enggan bergerak untuk menyelamatkan hidup kita sendiri.
©kurniawangunadi