Kepada november yang beberapa kali ku dapati sebagai hujan yang turun lebat, lalu terselip terik yang menyengat, juga pancaran gerhana bulan yang berkabut dan jingganya senja yang pekat.
....waktu terasa melesat begitu cepat, saat kita menikmati sebuah momen dalam kehidupan. Pun sebaliknya, waktu terasa berjalan melambat saat kita menggerutu terhadap suatu takdir yang menimpa diri dan berusaha melawan dan tak menerima ketetapan-Nya.
...sebenarnya, waktu selalu bergerak konstan, namun perasaan kita lah yang membuat waktu terasa cepat atau pun melambat saat melaluinya diiringi oleh takdir yang bekerja dalam pergerakan yang rahasia yang sering membuat kita penuh tanya jika tidak berserah diri dengan sebenar-benarnya.
Kali ini, takdir dari-Nya...menuntunku untuk kembali pergi. Mengemban amanah yang mesti ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Sumpah telah terucap dan gelar di depan nama telah tersemat. Berat rasanya pundak ini menjalankannya jika hanya berpegang pada diri sendiri. Namun lapang rasanya hati jika terus menyadari bahwa gelar ini dipercayakan karena izin-Nya dan ringan langkah ini bekerja jika bersandar penuh pada kekuatan-Nya.
Tak henti-hentinya ku rapal dalam doa..semoga Dia selalu menolongku dalam setiap detik titian amanah yang aku jejaki ini, tak henti-hentinya juga aku mengingatkan diri sendiri agar jangan berlaku dzolim selama menjalani peran ini.
Perlahan-lahan ku tata kembali ketegaran hati, untuk kembali membentang jarak antara rumah dan tanggung jawab sebuah amanah. Mimpi yang sempat terjeda begitu lama...kini kembali dikayuh lebih jauh. Rindu yang sempat padam lalu menjelma abu, kini mulai menimbulkan percikan nyala yang rapuh.
Peran sebagai orang dewasa, masih tertatih-tatih kujalani. Pada beberapa titik, aku masih mendapati diriku kekalahan melawan keadaan, aku yang begitu menyukai keheningan namun mesti menjadi orang dewasa begitu rentan dengan tuntutan ekspektasi dan kebisingan.
Pesan untuk diriku sendiri di penghujung tahun ini: Titik keberhasilan setiap orang akan berbeda, begitu pula ujian yang meliputi setiap diri tidaklah sama. Namun di tengah segala perbedaan itu, ingatlah; selalu ada hikmah dalam setiap kejadian dan pertemuan yang terjadi.
Manusia menalarkan masa depan berpegang pada akalnya yang begitu terbatas dan faqir. Sedangkan Allah menggariskan takdir berdasarkan pengetahuan-Nya dan hikmah-Nya yang meliputi segala sesuatu yang gaib dan yang nyata. Percayalah penuh pada apa yang Allah sudah tetapkan untukmu, jangan ragu-ragu. Allah sudah mengaturkan segalanya untukmu dengan terbaik. Yaa hayyu yaa qayyum.
Selamat menempuh arus takdirmu kali ini diriku, jangan ditentang. Nikmati, resapi dan syukuri—maka keberkahan pun akan turut meliputi diri. InsyaAllaah.
H-6 menuju internsip dan di rumah sedang turun hujan, 17 November 2022 20.51