Hari ini, ada satu postingan yang sedikit mentrigger, sedikit membuatku bernostalgia akan perjalanan mendapat restu mertua waktu itu.
Semua orang tahu, abang datang dari keluarga dan marga yang jauh berbeda denganku. Terlebih lagi, ternyata yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya adalah orangtuanya seorang ulama senior yang cukup dikenal seantero negeri.
Lalu aku memandang diriku sendiri. Pantaskah aku? Mampukah aku? Kalau zaman sekarang mungkin tren nya adalah, mampukah aku menjadi ning untuk seorang gus?
Bagai langit dan bumi, bukan?
Hingga seorang kawan berkata kepadaku,"Kamu jangan terlalu memaksakan, cukup dilihat aja, kamu sama dia itu nggak setara sama sekali. Dia di langit, kamunya di kerak bumi."
Seakan belum cukup fakta tersebut, abang yang saat itu sedang menunjukkan kepadaku bahwa ia benar-benar berusaha, mengatakan suatu hal,
"Umi dan saudara-saudaraku nggak setuju aku sama kamu. Mereka maunya yang sama-sama punya marga. Apalagi kamu ada keturunan madura. Keluargaku pernah trauma dengan orang madura.
Jadi, sekarang, mereka lagi nyari calon untuk aku. Calon yang mereka mau."
Mungkin, dengan kabar ini, sudah seharusnya pria ini kita sebut 'red flag'? Sudah lah merendahkan, rasis pula? Ya Allah, lucu sekali kalau dipikir sekarang.
Saat itu, aku hanya bisa menangis, terus menerus mengulang sholat istikharahku, mengulang sholat taubatku, mengulang sholat hajatku.
Memang benar, cinta itu buta. Aku dibutakan rasa, sehingga aku tetap ingin mengusahakannya, memperjuangkannya. Entah itu jawaban dari istikharahku, atau hanya dorongan hawa nafsu? Entahlah.
Seharusnya aku sudah bisa menilai, bahwa mereka menolakku bahkan sebelum mereka bertemu denganku. Mereka hanya mendengar tentangku melalui apa yang abang jelaskan.
Tapi, dari sekian banyak tanda yang Allah tunjukkan, ada satu tanda pling kuat yang akhirnya membuatku memutuskan.
Tanda itu adalah abang sendiri dengan perjuangannya. Disaat aku mulai menyerah, tidak sanggup lagi mendengar bagaimana keluarganya menolakku mentah-mentah, padahal di sisi lain keluargaku menerima dengan sangat baik kehadirannya.
Abang selalu percaya diri, abang selalu maju satu langkah ke depan, abang selalu yakin dengan keputusannya. Jika ia sudah memutuskan, itu tandanya ia sudah memiliki alasan dan jawaban yang jelas atas keputusannya. Ia amat dewasa.
Satu kalimat yang cukup menenangkanku saat itu adalah,
"Aku sudah menyiapkan surat untuk umi abi, surat yang berisi alasan mengapa aku harus memperjuangkan kamu. Aku juga sudah 'menantang' mereka untuk menemukan perempuan bermarga yang kriterianya sesuai dengan apa yang aku minta."
Meski masih sekedar janji, tapi pada akhirnya aku tetap percaya, menunggunya. Hingga akhirnya datang panggilan dari keluarganya.
Iya, benar, sebuah panggilan, undangan.
Umi nya mengundangku untuk bertemu, saling berkenalan.
Seperti Khadijah bukan? Menurutku sih begitu. Aku seperti Khadijah, yang berani melamar Rasulullah. Karena aku jugalah yang datang menemui keluarganya untuk 'melamar'.
Dan, yaaa .. beginilah sekarang, aku sudah menjadi istrinya dua tahun lebih ini. Alhamdulillah.
Satu hal yang akhirnya aku sadari adalah, nyatanya tanda yang Allah tunjukkan atas doa-doa di atas sajadah dalam sholat istikharah, tidaklah melulu tentang mudahnya jalan menuju halal. Tapi, datangnya ujian dan tuntunan dari-Nya bagaimana kita sebaiknya menyikapi ujian tersebut.
Jika memang kita berhasil melaluinya, maka, jalan mulus dan mudah mulai terbuka. Bagai tol, kita akan segera sampai kepada tujuan sebenarnya.
Dan benar saja, pilihan dan keputusanku saat itu tidak pernah kusesali.
Bahkan dalam hatiku sering kukatakan, "Kalau bukan dia, kayaknya nggak bakal ada yang mau terima perempuan kayak aku."
Setelah pernikahan, semakin tersingkap kesetaraan yang Allah maksudkan dari kami berdua.
"Ooh, ternyata ini yang Engkau maksud, ya Allah."
Semoga Allah jaga selalu hubungan ini, sampai surga-Nya.