Aku terjatuh. Pingsan. Entah berapa lama.
singkat kata. saat ini di depan ku dokter spesialis cancer sedang kutbah.
sementara orang yang aku cintai juga serius menyimak, sesekali dia menyela kutbah bu dokter.
"Oh my god" bathin ku.
aku tak melihat itu suatu musibah bagiku, alih alih saat ini yang ku lihat adalah sosok perempuan yang ku cintai begitu cantik. ya, benar. Begitu cantik.
aku serasa baru melihat dia pertama kali. cantik. berkerudung. dengan senyum chrunchy setengah canggung.
"Pagi, Pak. Saya Dila, saya new comer, dan ditugaskan menjadi asisten bapak"
Aku hanya menjawab dengan senyum mahal ku. maklum harus jaim. dan Dila sepertinya bingung dengan jawaban tanpa kataku.
Kikuk.
Sesekali aku mencuri pandang tanpa dia tau. kedua kali. ketiga kali dan kempat kali hingga akhirnya jadi kecanduan.
mungkin dia juga merasa sudah ku curi kecantikanya. Tapi dia hanya melirik saja.
dua bulan berlalu. kita jarang ketemu karena aku harus dinas luar kota.
sampai akhirnya ada momen di salah satu hotel di kota lumpia.
momen itu adalah tempat parkir. kita berdua making picture. serasi banget saat itu. aku tersenyum dan dia tersenyum crunchy, just like usual.
Aku mungkin lupa, atau bahkan tak pernah nembak dia dengan kata kata. just like me as usual.
yang ku ingat adalah aku cium keningnya saat dia setengah tertidur. dan dia merespon dengan senyum kecil seraya peluk guling.
Dan sejak itu aku benar benar jatuh cinta padanya. meski tak terucap. tapi aku yakin dia merasakan itu.
"sayang km ga bole males mik vitamin ya"
"iya say tenang saja" jawabku sembari meraih vitamin yang ia sodorkan.
"kamu ga usah kemana mana, sini aja bobo. i want u"
"as u wish my love"
seperti malam malam sebelumya, tak pernah ada malam kedua. berdua kita lalui malam pertama yang abadi. Begitu indah. Begitu menyenangkan. Kecanduan kalo dia bilang.
dan malam ini saat dia lelap disamping ku, aku sudah memutuskan hal besar.
"aku harus pergi. harus bisa" kataku dalam hati.
Ya benar. aku harus pergi. pergi dari kehidupan dia.
Jujur aku sudah kecanduan dia. kecanduan cintanya, kecanduanya senyum chruncy nya dan kecanduan sayangnya.
aku hanya tak mau dia, orang yang aku sayangi, menjadi terbebani dengan penyakitku ini. cepat ato lambat penyakitku ini akan menang. dan aku tak mau dia melihat aku dalam kondisi kalah seperti itu.
Aku harus pergi. harus. dia pantas dapat yang lebih baik dari ini.
Biar aku yang mundur dari hidupnya.dalam kecanduan ku ini.
Berat memang. tapi untuk kebaikan berdua.
Waktu pun berjalan. Berlari bahkan. begitu cepat tiga tahun tak terasa.
aku kembali ke kota ku. Surabaya.
Masih panas ternyata kota ini.
hal pertama yang kuingat adalah Kumala. Pendampingku ku di kantor dan di hatiku.
Aku dengar dia sudah merit. entah dengan siapa. atau mungkin aku tak mau mengenal suaminya. maklum harus jaim.
Tepat pukul 17.45 petang itu, hujan rintik turun. Aku lihat dia mengendarai motornya seorang diri sepulang kerja. ku kuntit dari belakang diam diam.
tiba tiba hujan makin deras. Spontan dia menepi dan mencari jas hujan di jok motornya.
tubuhnya sudah kutub.
"Pake ini aja mbak" kataku setengah teriak sambil menyodorkan jas hujan.
Dia menoleh. Mata kita tak berkedip beberapa saat.
Bluk !
Dia memeluk ku. Erat. Erat banget.
"kamu jahat" katanya sambil terisak. "kamu tega banget ma aku"
Aku hanya bisa diam. aku hanya mampu memeluknya. merasakan kembali cinta.
"ayo kita kesana aja" kataku
Berdua kita berteduh ditempat cuci motor.
"gimana kabarmu ?" tanya ku
"kenapa emang ?" dia balik bertanya.
"ya aku pengen tau aja gimana kabar kamu"
"rahasia"
Ya ampun, masih sempat sempatnya dia bercanda.
Plok ! Bhukk!
Dia menamparku dan memukul dadaku.
"lho kenapa" tanyaku
Matanya berkaca kaca. dalam banget.
"kamu itu pengecut ya ternyata" katanya dengan nada meninggi. "tega banget kamu ninggalin aku, aku kamu anggap apa"
Aku hanya bisa terdiam. melihat nya tidak seperti yang ku kenal. Berubah. Meski masih cantik.
kantung matanya menebal. matanya letih. lesu dan pucat.
"kamu pikir aku ga berat" kataku.
"aku harus meninggalkan kamu disaat aku sedang kecanduan kamu. itu yang terbaik buat kita""terbaik ? terbaik katamu?. kamu ninggalin aku begitu saja setelah seluruh cintaku seluruh sayangku sudah tak bersisa lagi. itu yang kamu bilang terbaik?" katanya sembari berdiri.
"duduk non, duduk" kataku seraya menariknya duduk disamping ku.
"gak mau. biarin aja"
"ntar makin cantik lho kamu kalo marah"
"hmmm mesti gitu kamu itu. bikin aku ga bisa marah"
"sama, kamu juga mesti gitu" balasku
"kenapa emang"
"tetap cantik"
"hhmmmmm gombal"
"dipakai ngepel "
"hahahhahaaaa"....kita tertawa lepas bersama
bisa ku lihat dia seolah lepas dari beribu beban. senyum chruncynya yang lama kurindukan masih ada. tak berubah.
"may i hug u sayang?" kataku
"i m still yours"
terkadang aku berpikir, bahwa keputusan ku meninggalkan dia, untuk jauh dari dia adalah hal terbaik buat kami.
atau sebenarnya itu hanya terbaik buat ku saja ?.
kala dua hati sudah menyatu, memiliki satu sama lain. tidak mudah untuk dipisahkan. sulit.
"sayang beli pempek yuk" kataku
"asiiikkkkk, ayooo, km yang traktir ya"
"beres, serombongnya juga boleh asal jangan minta penjualnya aja"
"hahaha... bisa aja kamu say"
"aku boncengin kamu ya sayang"
"lho terus motorku gimana"
"tinggalin aja " kataku
"lho jangan"
"kenapa? di kunci aja kan bisa"
"itu motor kantor say"
"upsss"
"ntar kalo ilang aku bisa di jantur atasan ku"
"galak emang dia say"
"sama si galaknya kaya atasan ku yang dulu, ga banyak omong"
"hahahhaaaaaa"
to be conclude