Emak-emak dan Hari Perempuan Internasional.
Apa yang melintas di benakmu saat mendengar frasa emak-emak? Dasteran, bawel, tukang nawar kalau belanja, tukang bergunjing, rajin menyebar broadcast padahal hoax, ngasih sen kanan padahal mau belok kiri? Tipikal ya, hampir selalu stigma negatif yang melekat pada emak-emak.
Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Perayaan ini dimulai ketika 15.000 buruh perempuan di New York, Amerika Serikat, turun ke jalanan untuk menuntut upah dan jam kerja yang lebih baik. Hingga saat ini, Hari Perempuan Internasional agaknya hampir selalu dilambangkan oleh para perempuan yang ‘turun ke lapangan’ dan ‘memiliki aksi yang nyata’. Sebut saja arsitek, aktivis lingkungan, guru, penulis, jurnalis televisi, politikus, dokter, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan emak-emak?
Aku, berdiri dalam barisan emak-emak. Aku seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, 8 dan 4 tahun. Aktivitasku di rumah tentu tidak jauh-jauh dari memasak, membersihkan rumah, menyetrika, segala kegiatan yang mungkin bagi para wanita perkasa di jalanan sana tidak membutuhkan otak, cukup tenaga saja. Apalagi kalau sudah dikerjakan bertahun-tahun, cukup disetel ke mode autopilot sudah cukup.
Padahal emak-emak itu memliki tugas paling berat sepanjang masa. Selain pekerjaan rumah tangga yang membosankan, tak lain hanya menghabiskan tenaga, kami juga harus membesarkan dan mendidik anak-anak. Iya, itu lho, penerus generasi bangsa! Mendidik anak-anak tidak bisa disetel ke mode autopilot! Apalagi di zaman sekarang, di saat media sosial dan penyiaran bisa dengan mudah menjadi pedang bermata dua. Belum lagi segala berita mengerikan tentang perundungan, kekerasan seksual, dan obat-obatan terlarang yang membuat kami mengurut dada.
Kemarin aku membaca kiriman Najwa Shihab tentang ‘berperilaku di dunia maya hendaknya sama dengan di dunia nyata.’ Sungguh aku sedih sebetulnya bahwa hal-hal sebatas ‘common decency’ menjadi suatu kemewahan. Apa yang salah dari pendidikan di masa lalu yang membuat orang-orang masa kini merasa berhak mengomentari bahkan mencampuri pilihan hidup seseorang yang bahkan tidak mereka kenal?
Karena itulah beban terberat jatuh ke pundak kami para emak-emak. Tugas kami bukan lagi hanya menyekolahkan anak setinggi langit agar mereka berguna bagi bangsa, negara, dan agama, namun juga mendidik mereka agar kelak, generasi penerus bangsa menjadi generasi yang decent, berempati, dan peduli pada sesamanya, pada lingkungan sosialnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Sayangnya, kami emak-emak selalu dipandang sebelah mata. Komentar-komentar semacam, ‘lah sayang banget udah sekolah tinggi-tinggi kok di rumah aja’, ‘wah enak ya di rumah aja tinggal nunggu gaji dari suami’, ‘kamu kan di rumah terus, ngapain aja seharian kok ga ngurus diri sih?’, masih sering sekali kami dengar dari lingkungan sekitar, bahkan dari sesama perempuan sendiri. Padahal menemani, menghibur, menangani, dan mendidik anak-anak itu bukan hanya menguras tenaga melainkan juga emosi (lebih banyak emosi). Kami juga harus pintar-pintar menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, yang bukan hanya tak ada hentinya namun juga semakin sulit setiap harinya. Jadi bila tenaga kami habis untuk mengerjakan tugas rumah tangga, maka isi kepala kami terkuras untuk mendidik anak-anak.
Tapi bahkan di Hari Perempuan Internasional pun, kami emak-emak alpa disebut. Lupakah mereka, kalau kami juga sedang berjuang? Apakah karena perjuangan kami tidak langsung menampakkan hasil jadi kami tidak patut diperhitungkan? Ataukah perjuangan kami tidak sebanding dengan perjuangan para wanita di luar sana?
Apakah kami, emak-emak, tidak layak mendapat tempat di Hari Perempuan Internasional?
















