Tak ayal membuatnya gentar menjadi tulang punggung keluarga. Buta huruf dan tak tau angka ialah ciri khasnya. Tak pernah mengenyam sekolah tapi sistem manajemen kehidupannya sungguh tertata. Menghidupi tiga orang anak menjadi hal sangat mudah baginya. Menahan sebatas ingin di hari ini agar bisa menjamin kebutuhan esok hari. Ya, mbah uti (putri), ibu dari ibu ialah salah satu sosok panutan keluarga, terutama aku seorang. Aku masih ingat bagaimana raut muka bahagianya kala aku bercerita akan mengikuti seleksi beasiswa sarjana. Dirinya yang tak tau apa-apa turut bangga. Bahkan ketika awalnya menolak mentah aku pergi kuliah, pada akhirnya dia juga yang luluh lantah menghantarkanku dengan doa. Mbah, aku rindu. Aku masih jelas teringat bagaimana beliau bersedih tiada tara saat 20 Februari 2015, kala mbah Kakung harus menghadap sang Maha. Seolah dunianya hancur dan runtuh. Hari-harinya penuh dengan kesedihan. Alih-alih memikirkan bagaimana kehidupan esok hari tanpa mbah kakung, beliau lebih sering memberikan pesan kesan yang sungguh buatku tak menyangka. Tepat saat 15 September 2015, beliau pergi menyusul pujaan hati, mereka berada pada satu liang yang sama. Kalau mendengarkan lagunya Ananda Badudu yang Sampai Jadi Debu, diriku tak kuasa mengingat betapa kecintaannya mbah uti kepada mbah kakung yang luar biasa. Sosok wanita kuat yang apa-apa selalu ditanggung sendirian. Tiada sehari pun ia gunakan untuk berhenti bekerja. Jiwanya beneran kuat, bahkan ketika sakit saja ia tak mau menyusahkan keluarga. Ah aku sedih mengingatnya. Mbah, hari ini pasti lagi senyum-senyum, karena bude baru saja menyusulmu. Selamat membangun rumah kecil bersama mbah kakung, bapak, dan bude ya mbah.