Renungan dari Drakor Hospital Playlist
Beberapa minggu lalu, drama korea Hospital Playlist season 2 sedang hits, dan beberapa hari lalu adalah penayangan episode terakhir. Setelah sekian bulan (mungkin setahun lebih) tidak tertarik menonton drakor, tiba-tiba saja saya jadi penasaran dengan drama ini.
Karena belum menonton season 1, maka saya mencari dan mulai menonton dari episode pertama. Sampai di episode 4, entah kenapa bagi saya drakor ini cukup hambar. Hanya adegan kumpul berlima yang bagi saya cukup menarik. Tetap saya lanjutkan saja. Seringnya sambil makan (saya melanggar aturan mindfulness hehe). Di episode ke 7, saya sudah menyiapkan diri menanti tibanya konflik yang klimaks (karena di drakor biasanya episode 4 ke belakang, konflik mulai membesar dan berada titik klimaks saat episode 7-9). Nyatanya, ya gitu-gitu aja. Betul kata seorang kawan, “drakor yang tidak begitu menguras emosi.”
Well, sebetulnya saya tidak mau review tentang drakor ini. Ada hal lain yang cukup bermakna yang saya tangkap saat menonton ini. Dari drakor ini saya menyadari:
Ternyata ada buaaanyak sekali jenis penyakit. Melihat diri sendiri sehat, tanpa didiagnosis kanker, tumor, dan penyakit mengerikan lainnya, sungguh betapa seharusnya kita bersyukur dan menjaga diri. Dari sekian milyar manusia dan puluhan (atau ratusan) penyakit yang mematikan, kita sangat mungkin mengidap salah satunya. Tapi nyatanya sekarang saya sehat, ibadah-makan-tidur dengan nyaman. Alhamdulillah.
“kematian adalah sebaik-baik nasihat” entah dari mana saya tau quote ini, tapi saya setuju. Kalau ada teman atau saudara meninggal, salah satu yang saya pribadi pikirkan “bagaimana jika si mayit adalah aku? Apa bekal yang sudah siap kubawa?”. Yang saya pikirkan kemudian adalah, para dokter di rumah sakit melihat kematian dengan jelas di depan mereka, begitu sering. Sebetulnya, mereka bisa jadi orang yang paling taqwa di dunia. Iman mereka bisa di-charge setiap kali melihat orang mati. Ah, tapi, memang perlu diakui ya, kejadian yang berulang kali terjadi dalam kehidupan kita bisa membuat hati jadi mudah beradaptasi, tak lagi terkejut atau tersentuh 😞
Hal lain yang cukup membuat saya tertegun saat menonton drakor ini, adalah adegan memotong hati saat proses tranlantasi untuk didonorkan pada pasien lain (saat menulis ini saja saya meirnding takjub). Allahu Akbar, betapa kuasanya Allah menciptakan manusia dengan susunan yang begitu rinci dan sempurna, yang tak pernah kita bayangkan masing-masing organ memiliki fungsi penting dan bekerja setiap detik 24/7 non stop untuk kelangsungan hidup kita. Ma sya Allah! Satu saja tak berfungsi dengan baik, kita tak akan hidup nyaman 😭
Betapa luasnya ilmu Allah. Dari drakor ini, saya jadi bisa menghubungkan dengan surat al kahfi ayat 109 yang berbunyi: Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” Maksud dari kalimat-kalimat Allah dalam tafsir Kemenag RI adalah ilmu-ilmunya Allah. Jadi, saking luasnya ilmu Allah. mau berkali-kali dituliskan, tak akan pernah selesai membahas ilmu Allah. Lalu apa hubungannya dengan drakor Hospital Plaslist? Saya jadi tahu ada yang namanya dokter spesialis Terakoplastik. Ketika browsing segala jenis spesialis, ma sya Allah banyak sekali. Ilmu bedah saja masih beranak pinak. Spesialis anak masih punya subspesialisasi lagi. Belum lagi ilmu-ilmu keseharan lain yang mirip-mirip dengan ilmu kedokteran (ilmu gizi, kesehatan masyarakat, psikologi klinis, dll). Ini masih di satu cabang ilmu ya, belum lagi di ilmu sosial, agama dan yang lain. Ma sya Allah.
Bagi saya, keempat poin di atas cukup berkesan dan sangat mungkin meningkatkan taqwa dan perubahan dalam diri. Tapi, sebagai manusia, kita sering lalai atau sengaja mengabaikan. Yah saya akui, saya pribadi masih susah sekali mengontrol konsumsis cemilan, padahal itu bisa memicu penyakit :(
Malang, aula kosan
21 sept 2021











