🕕💭 Bahaya memutus persaudaraan telah dibuktikan ilmuwan psikolog-sosial, Zimbardo, yang melakukan penelitian tentang perbedaan orang kota dan orang desa. Ia menyimpulkan, orang kota menjadi serigala bagi manusia lain, karena orang kota telah kehilangan keakraban hubungan antarmanusia. Dalam bahasa Erich Fromm, psikoanalis terkemuka, orang seperti itu berkepribadian nekrofil, kepribadian mayat. Ia seperti mayat yang telah kehilangan perasaan, hidupnya tanpa rasa dan makna. Itu terjadi karena tiadanya hubungan interpersonal atau dalam bahasa agama, terputusnya silaturrahim. Salah satu predikat yang dimiliki manusia adalah a loving animal. Maka, stres yang paling berat bagi manusia adalah saat terjadi kegagalan hubungan interpersonal. Tanpa cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, seseorang rentan terhadap berbagai penyakit. Imunitas tubuhnya lemah, perkembangan dirinya secara spiritual, emosional dan intelektual akan terhambat sehingga kematian cepat menyambarnya. Silaturrahim menjadi obat bagi penyakit yang menimpa masyarakat modern yang cenderung individualis dan antipati. Sebab, kebahagiaan hanya bisa direngkuh dengan kebersamaan. Dan silaturrahim membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini terlihat dari banyaknya keutamaan dan manfaat silaturrahim, di antaranya: 1. Kemudahan dan keluasan rezeki. 2. Panjang umur. Kedua manfaat tersebut telah ditegaskan Rasulullah, “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung tali kerabat (silaturrahim)” (Muttafaq ‘Alaihi). 3. Mendapat mahabbah (cinta) dari Allah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw: Bahwa ada seseorang menziarahi saudaranya di kampung lain. Maka Allah mengutus malaikat di jalan tersebut dan ketika sampai di jalan itu, malaikat itu bertanya, ”Anda mau kemana?” Ia menjawab, “Saya hendak menziarahi saudaraku di kampung ini.” Malaikat lalu bertanya, ”Apakah ada kepentingan?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali saya mencintainya karena Allah Ta’ala.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya saya diutus Allah untukmu, bahwa sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana Anda mencintainya” (HR Muslim).