Hoax Menjajah Indonesia, Menumpahkan Air Mata Bumi Papua
Kota Sorong lumpuh, gedung DPRD di Manokwari diberangus oleh api, masyarakat Papua berbondong-bondong memenuhi jalanan, menyuarakan kekecewaan. Hari kemerdekaan di bagian timur Indonesia itu dibanjiri tangis yang tumpah oleh ironisme perlakuan yang tak manusiawi. Dulu keadilan diperjuangkan dengan darah, kini sebagian wilayah di Papua mempertanyakan keadilan dengan tangisan, apakah Indonesia belum sepenuhnya merdeka?
Hari kemerdekaan disambut dengan riuh gemuruh aksi menuntut keadilan di bumi Papua, perihal sejumlah anak negerinya yang merantau di kota-kota besar diperlakukan bukan sebagai mahasiswa sebagaimana status yang tengah diembannya. Maka suara “kami bukan monyet” dan “usir kami berarti usir NKRI dari tanah Papua” menjadi perlawanan dari perlakuan sebagian orang yang menganggap Papua itu berbeda, tidak diperlakukan sebagai manusia.
Berawal dari isu, adanya perusakan bendera merah putih yang dilakukan oleh seorang oknum menggemparkan Surabaya, barang bukti berupa patah tiganya tiang dengan bendera merah putih yang terkapar di selokan menimbulkan amarah sekumpulan massa, bukan sebuah kebetulan bahwa dugaan perusakan tersebut dilayangkan kepada mahasiswa Papua, tiang bendera yang wajib menancap di depan pekarangan setiap rumah dinistakan di depan asramanya sebagaimana rupa. Massa yang menjungjung tinggi kecintaan pada negeri pun berdatangan, atas nama penistaan pada simbol negara, masyarakat mana yang tidak sakit hati bendera merah putih yang melambangkan darah dan tulang pejuang dalam memerdekakan Indonesia dirusak dan dilecehkan.
Respon massa yang tak manusiawi, seiring dengan media daring yang mengambil andil dalam penyebaran informasi, pesan berantai digaungkan, menyudutkan mahasiswa Papua sebagai pelaku penistaan simbol negara, massa yang terdiri dari aparat, ormas, pejabat setempat, dan masyarakat mengepung asrama dan mengecam dengan makian. Tanpa ada dialog dan pendekatan secara personal, mahasiswa pun bungkam, memilih mengurung diri dibanding ribut-ribut adu kekuatan. Apakah penduduk kota sudah lupa bahwa bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia? Sikap reaktif menjadikannya lupa bahwa setiap berita perlu diteliti kebenarannya dan tanda cinta pada negeri adalah tidak anarkis, apalagi melanggar aturan. Pengepungan dan persekusi melayang-layang di sekitar asrama, seolah lupa bahwa mahasiswa Papua adalah kaum terpelajar yang dapat melakukan dialog dengan kata-kata. Maka, bumi Papua pun memanas, tidak terima anak rantaunya dicibir dan dimaki, dikepung seperti hewan liar dan dikatai monyet oleh sebagian massa.
Massa yang digerakkan oleh hoax, hingga saat ini perusakan bendera merah putih masih menjadi teka-teki, informasi perusakan pun dikonfirmasi hanya sebatas katanya dan katanya, tidak ada yang melihat secara langsung mahasiswa Papua merobek kehormatan simbol negara, tapi rasialisme dengan kata makian dan pengusiran telah terlanjur melukai hati masyarakat Papua. Di hari kemerdekaannya, Indonesia masih dijajah oleh hoax, berita yang nilai kebenarannya masih dipertanyakan, namun dampaknya telah jauh dari kata fatal, menumbangkan rasa aman dan menumpahkan air mata ketidakadilan.
Hoax telah menjadi senjata dalam merusak bangsa, bukti nyata ada di tanah Papua, sehingga persatuan rubuh digantikan dengan rasa benci pada pemerintahannya. Kerusakan sebesar apa yang ditunggu akibat dari penyebaran hoax yang telah nyata menggadaikan kemanusiaan kita? Maka sebagai warga negara yang telah merdeka, mulailah untuk pintar memilah informasi, bersikap tenang dan tidak reaktif merespon berita, serta adil sebelum bertindak.
Merajut kembali persaudaraan dan persatuan, Papua adalah Indonesia, kehormatannya adalah kehormatan kita, setiap massa yang ikut serta dalam aksi pengepungan wajib meminta maaf atas persekusi yang telah terjadi, hanya itu yang dapat mengembalikan persatuan untuk bangkit dan membangun negeri dengan mempererat hubungan kembali.
Kerusuhan di Papua adalah sebuah manifestasi bahwa Indonesia bukan hanya mudah dijajah oleh hoax, tetapi rentan dari permainan oknum-oknum yang memiliki kepentingan pribadi. Maka apabila buntut dari kerusuhan adalah munculnya orang-orang yang tampil mencari panggung dengan menjatuhkan dan mendiskreditkan pemerintahan, cukup di sini saja tumpahnya air mata Papua, tetaplah menyatu dan bersatu, tidak terpancing oleh pernyataan-pernyataan yang dekstruktif sebagai sumber tumbuhnya amarah dan perusak persatuan. Dengan demikian, pembangunan nasional dapat terwujud, demi pemerataan tanpa pandang bulu, sesuai janji pemimpin dalam memajukan negeri. Bangsa yang satu, bangsa yang bersatu.
Persatuan menjadikan perbedaan sebagai harmonisasi, dimana kerukunan di dalamnya memperindah hakikat negeri, maka melukai sesama adalah melukai diri sendiri. Kita semua bukanlah boneka, maka jangan pernah mudah dipermainkan. Mari kita merdeka, dari hoax yang memecah-belah bangsa.











