Family's holiday 👪 Thank you @bintangpesisirpahawang for a great adventure 😆😆 (at Pulau Pahawang)
Mike Driver

shark vs the universe

ellievsbear
taylor price
Monterey Bay Aquarium
he wasn't even looking at me and he found me

Love Begins
RMH
KIROKAZE
Stranger Things
Xuebing Du
Three Goblin Art
Alisa U Zemlji Chuda

JBB: An Artblog!
d e v o n

PR's Tumblrdome

★
noise dept.
No title available
h
seen from China

seen from Senegal
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Taiwan

seen from United States
seen from United States

seen from Belgium

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from France
@retnoesw
Family's holiday 👪 Thank you @bintangpesisirpahawang for a great adventure 😆😆 (at Pulau Pahawang)
Nothing beats the sweetness of a family 👪💞😚 (at Pasundan Kalidoni)
We just like to get together and have a laugh! #edisilengkap #akhirnyafotojuga 😂😳🙌💞
Terima kasih untuk 4 bulan kebersamaannya #Homey 😙 so much fun, so much laughter. Sampai jumpa lagi. Sukses di tempat internsip masing-masing. See you when I see you 😘💜💞 Baru pisah dua minggu tapi udah kangen 😢 #edisilatepost #edisikangenhomey
Balada Istri yang ingin....
“Ayah, aku mau kerja!”
“Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya :)”
“Itu, tetangga kita, dia kerja!”
“Hehe …, dia itu guru, sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Ayah dan anak kita. Di rumah saja, ya.”
“Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.”
“Nanti, tunggu Ayah meninggal dunia.”
“Apa-apaan sih?”
“Dia itu janda, sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”
“Tapi kebutuhan kita makin banyak, Ayah”
“Kan Ayah masih kerja, Ayah masih sehat, Ayah masih kuat. Akan Ayah usahakan, InsyaAllah.”
“Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Ayah untuk saat ini tidaklah cukup.”
“Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Ayah bilang begitu? Karena Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”
“Kan ada Ibu! Pasti beliau tidak akan keberatan. Malah dengan sangat senang hati.”
“Istri Ayah yang Ayah cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Ayah bisa mengerjakan pekerjaan Ayah sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Ayah belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Ayah yakin itu tak akan bisa. Setelah itu semua, apakah sekarang Ayah akan meminta Ibu untuk mengurus anak Ayah juga?”
“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Ayah?”
“Apa bedanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”
“Jadi, kita harus bagaimana?”
“Istriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khawatir! Mintalah pada-Nya. Atau begini saja, Ayah ada ide! Tapi Ayah mau tanya dulu.”
“Apa, Ayah?”
“Apa alasan paling mendasar, yang membuat kamu ingin bekerja?”
“Ya untuk memperbaiki perekonomian kita, Ayah. Aku ingin membantumu dalam penghasilan. Untuk kita, keluarga kita.”
“Kalau memang begitu, kita buka usaha kecil saja di rumah. Misal sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnis online saja. Kamu yang jalani. Bagaimana? anak terurus, rumah terurus, Ayah terlayani, uang masuk terus, InsyaAllah. Keren, kan?”
“Suamiku sayang, aku tidak pandai berbisnis, tidak bisa jualan. Aku ini karyawati. Bakatku di sana. Aku harus keluar kalau ingin menambah penghasilan.”
“Tidak harus keluar. Tenang, masih ada solusi!”
“Apa?”
“Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja pada-Nya.”
“Iya, Ayah, aku tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar nyata.”
“Kita ini partner, sayang. Ayahlah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. InsyaAllah jika menurut Allah baik, menurut-Nya kita pantas, kehidupan kita pasti akan berubah.”
“Tapi, Ayah?!”
“Ayah tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”
“Aku ingin kita hidup kaya dan berkah.”
“Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. InsyaAllah kaya dan berkah.”
“Kalau tidak kaya?”
“Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”
“Apa, Ayah?
“Pilihlah pintu surga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”
***
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” [H.R. Muslim]
Agar Menemukan
Kau butuh hilang agar dicari, kau butuh pergi agar bisa pulang. Kau butuh kesepian agar ditemani, kau butuh diam agar ditanya.
Hanya saja, seringkali kita mengeluhkan tentang jalan yang harus kita tempuh demi apa yang kita cari. Seringkali kita setengah hati menjalani jalan yang sebenarnya mengantar kita pada apa yang kita cari, hanya saja kita tidak tahu tentang itu.
Yang kita tahu hanya sebatas pada apa yang kita rasakan saat ini, pada apa yang terlihat dan terdengar. Kadang dan lebih sering menyakitkan juga melelahkan tapi kita tidak punya pilihan selain menjalani.
©kurniawangunadi
Kamu butuh ikhlas untuk melepaskan…
Jalan
Perjalanan masih jauh, jauh. Masalahnya, apakah masih ada waktu untuk menyelesaikannya? Masih ada waktu hingga sampai tujuan? Ah sudahlah tak usah banyak dipikir, jalan saja.
Rasanya, waktu, satu-satunya yang paling menyeramkan di dunia ini. Sesuatu yang berhasil bikin insecure. Sesuatu yang tak pernah datang kembali setelah hilang.
© Febriani Eka Puteri
Cieee alhamdulillah udah sah jadi manten 😳 Selamat ya mbak Lia sayang dan Senno, semoga bahagia selalu 💑 We're very happy for both of you 😘💞
Menghargai waktu...
X : Pada bisa kapan?
Y : Anytime!
X : Lo kok kayaknya nyante banget sih. Ngga ada kerjaan?
Y : *Cengar-cengir*
Jika anda menemui percakapan serupa di atas, fakta yang terjadi adalah Y menempatkan agenda janjian tersebut pada prioritas kegiatannya. Sehingga, Y akan berusaha menyesuaikan agenda pribadinya agar agenda janjian dengan X dan kawan-kawan dapat terlaksana. Bukan berarti karena tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan oleh Y.
"No one is always busy. It just depends on what number you are on their priority list."
Saya sendiri selalu berusaha memperingatkan diri sendiri. Bahwa barangkali, hal yang paling berharga dari seorang manusia adalah waktunya. Maka, orang yang memberikan waktunya untukmu, maka ia telah memberikan sebagian dirinya padamu. Jangan pernah disia-siakan.
Assalamualaikum. Salam sehat. Ayo tinggal 5 hari lagi. Pendaftaran seminar yang diadakan oleh FK Unsri dgn judul "Penanganan dan Pencegahan terhadap Komplikasi Pasca Persalinan" dengan pembicara dr. H. Amir Fauzi, SpOG (K) dan Ns. Jum Natosba, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.Mat sebagai pembicara di bidang asuhan keperawatannya masih dibuka. Seminar akan dilaksanakan pada: Hari/tanggal: Minggu, 10 April 2016 pukul 08.00-12.00 WIB Lokasi: Gedung DPRD Sumsel Dapatkan sertifikat 6 SKP (Total 4 skp IDI, 1 skp IBI, dan 1 skp PPNI) hanya dengan 80rb sampe tgl 9 april ini aja, on the spot 100rb. Ayo segera daftar dan ajak teman2 yg lain. Mari bersama mencari ilmu. Buruan daftar sebelum kehabisan. For more info: azka (0852-6754-3454), lia (0857-6460-6465), eno (081373988824) Best regards, Panitia Seminar 😊 – View on Path.
Assalamualaikum. Selamat siang. Salam sehat untuk kita semua. Info terbaru. Ayo buruan ikutan 🙌 Pendaftaran seminar yang diadakan oleh FK Unsri dgn judul "Penanganan dan Pencegahan terhadap Komplikasi Pasca Persalinan" dengan pembicara dr. H. Amir Fauzi, SpOG (K) dan Ns. Jum Natosba, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.Mat sebagai pembicara di bidang asuhan keperawatannya diperpanjang. Seminar akan dilaksanakan pada: Hari/tanggal: Minggu, 10 April 2016 pukul 08.00-12.00 WIB Lokasi: Gedung DPRD Sumsel Dapatkan sertifikat 6 SKP (Total 4 skp IDI, 1 skp IBI, dan 1 skp PPNI) hanya dengan 75rb sampe tgl 9 april ini aja, on the spot 80rb. Ayo segera daftar dan ajak teman2 yg lain. Mari bersama mencari ilmu. For more info: azka (0852-6754-3454), lia (0857-6460-6465), eno (081373988824)
Ga kuat dedek bang diliatin kayak gitu 😳😍
Daehan, Minguk and Manse historical outfits
Melting dedek bang diliatin gitu 😍😍
romantis
“We do not see for those who love one another anything like marriage”
Kakak pernah berbagi cerita tentang pengalaman uniknya berkunjung ke sebuah klinik pengobatan di Bandung beberapa taun lalu. Klinik itu berisi sekumpulan ahli pijat yang terampil meredakan cedera akibat berolahraga atau berkendara. Banyak pesepakbola, yang menjadikan tempat ini sebagai “bengkel” otot dan tulang.
Malam itu, kakak mengantar teman perempuannya untuk mengecek nyeri di bagian bahu sehabis terjatuh keras. Terapis yang sedang kebagian jaga bernama Kang Tatang. Ia generasi kedua dari sang pendiri klinik yang telah malang melintang puluhan taun di dunia pijat memijat. Dengan kepribadiannya yang ramah, laki-laki berkumis lebat itu mencairkan suasana tegang dengan obrolan penuh canda.
“A, Teteh ini pacarnya?” tegur Kang Tatang. “Iya, Kang” jawab kakak malu-malu. “Tau enggak siapa laki-laki paling romantis?” kembali ia bertanya. Kaget, kakak cuma bisa nyengir dan menjawab enggak. “Laki-laki paling romantis itu suami. Pas anak-istri pengen liburan nih, dia sadar kalau tabungannya enggak cukup. Banting tulanglah si suami sampai lembur di kantor berhari-hari. Lembur capek enggak? Capek. Pergi liburan? Capek juga. Tapi kebayar lunas sama anak-istri yang hepi walau pergi cuma dua hari dan besoknya kerja lagi. Romantis enggak?”.
Kagum dengan filosofi sederhananya, kakak tertegun. ”Sekarang, tau siapa perempuan paling romantis?”. Kakak masih menggelengkan kepala. “Perempuan paling romantis itu istri. Waktu tau berangkat liburan akhirnya jadi, dia nih yang repot nyiapin tas, pakaian sampai makanan untuk semua. Nyiapin perlengkapan keluarga capek enggak? Capek. Pergi liburan? Capek juga. Tapi kebayar lunas sama anak-suami yang hepi walau pergi cuma dua hari dan besoknya harus ngurus baju kotor lagi. Romantis enggak?”.
Tanpa menyisakan sedikitpun jeda, topik berikutnya lalu digulirkan. ”Tau enggak siapa pemuda paling romantis?”. Lagi-lagi, kakak menunjukkan ketidaktahuannya. “Pemuda paling romantis tuh mereka yang semangat membangun diri dan ngabisin waktu dengan hal positif demi pasangan masa depan yang masih disimpen Tuhan. Bangun diri capek enggak? Capek. Nungguin? Capek juga. Tapi kebayar lunas sama hubungan yang barokah nanti. Romantis enggak?”
…
Dulu, saya gampang banget menyematkan kata “romantis” sama sepasang kekasih yang mengekspresikan asmara penuh gelora. Sayang, banyak diantara mereka yang romansanya berakhir seketika dan tak berlanjut ke jenjang rumah tangga.
Nyatanya, cerita romantis itu enggak pernah jauh dari jangkauan kita. Bentuknya bukan tulisan, gambar atau film yang ditaburi banyak pemanis buatan. Lihat kedua orang tua kita. Ibu, perempuan tulus yang mengelola urusan rumah supaya semua berjalan mulus. Bapak, pria pekerja keras yang pantang lelah menghidupi seisi rumah. Keduanya memegang peranan penting untuk membudidayakan kasih sayang keluarga dengan penuh tanggung jawab. Kepaduan mereka berdua mengalahkan adegan cinta di sinema manapun.
Kenapa masih mencari episode romantis yang diada-ada?
Saya takjub dengan kebiasaan seorang mentor yang selalu bersikap manis kepada istrinya di usia yang telah menginjak angka 60 taun lebih. Saat kami sedang berbincang santai di pelataran toko, istrinya menghampiri beliau selepas bepergian. Kontan, beliau mendaratkan bibirnya di tengah kening istrinya. Perempuan itu pun menimpali dengan mencium tangan kanan suaminya penuh rasa hormat. “Oh ya, Satria. Ini istri saya. Sudah pernah ketemu belum?” tanya beliau. “Sudah, Om. Taun lalu” jawab saya sambil tersenyum simpul.
…
“Menurut saya, tiga itu yang disebut romantis. Kasih bunga, kirim cokelat atau sayang-sayangan anak muda yang masih cinta monyet mah bohong. Kebawa sinetron. Kalau betulan sayang mah harusnya dinikahin. Nah, alhamdulillah. Beres nih!” tutup Kang Tatang sembari menyelesaikan ikatan perban di bahu teman perempuan kakak.
Maka, wujud lain dari kasih sayang-Nya adalah ditetapkannya pernikahan sebagai hubungan yang menyempurnakan separuh agama, melanggengkan kisah romantis sepanjang hidup sebagai suami-istri dan mendorong setiap kebersamaan yang terjadi sebagai ibadah saat dijalankan dengan penuh ketaatan kepada-Nya. Nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
Iki. loh. bro. sis.
Indeed. Anyway I miss them so much 😭😅