Tuhan Dalam Citra Manusia Modern
Cara manusia memandang Tuhan berubah seiring dengan perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri serta posisinya di alam semesta. Bagi manusia tradisional, realitas transenden dipahami sebagai pemegang kuasa atas segala sesuatu yang berada di luar kendali manusia: kehidupan dan kematian, bencana dan keselamatan, kesehatan dan penyakit, hingga perjalanan usia. Sebagaimana pencarian Nabi Ibrahim a.s. akan Tuhan Yang Maha Esa, manusia tradisional pun mencari sumber kekuatan yang kekal, yang melampaui dirinya sekaligus menjadi sandaran bagi seluruh eksistensinya.
Dari cara pandang itulah lahir sikap dasar manusia tradisional terhadap Tuhan: ketundukan, kepasrahan, penerimaan, dan penghormatan. Kesadaran akan keterbatasan dirinya juga mendorong manusia tradisional untuk menghormati alam, arwah leluhur, serta berbagai kekuatan metafisis yang diyakini turut memengaruhi kehidupan. Dalam konteks demikian, mitos dan legenda berkembang bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai cara menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan kekuatan transenden, sekaligus mengingatkan manusia akan batas-batas dirinya.
Berbeda dengan manusia tradisional, manusia modern memandang hubungan dengan Tuhan melalui perspektif baru yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Anggapan bahwa manusia modern cenderung sekuler tidak semata-mata lahir dari penyimpangan terhadap agama atau kekecewaan terhadap pihak-pihak yang mengatasnamakan Tuhan untuk memonopoli kebenaran. Di samping faktor-faktor historis, sosial, dan politik, perkembangan tersebut turut mengubah cara manusia memandang Tuhan dan hubungannya dengan-Nya.
Perkembangan itu membuat manusia modern merasa mampu menguasai berbagai aspek kehidupan yang dahulu dipandang sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan. Yang berubah bukanlah Tuhan, melainkan cara manusia memandang Tuhan. Jika dahulu manusia melihat hidup dan mati, kesehatan, atau perjalanan usia sebagai domain ilahi, kini ia merasa mampu memperpanjang harapan hidup, memperlambat penuaan, dan menundukkan berbagai penyakit melalui kemajuan ilmu kedokteran. Keberhasilan-keberhasilan tersebut melahirkan keyakinan bahwa semakin banyak persoalan hidup dapat dipecahkan oleh kemampuan manusia sendiri, sehingga cara manusia memandang Tuhan dan membangun relasinya dengan-Nya pun perlahan mengalami pergeseran.
Dari sinilah tampak salah satu bentuk kegelisahan spiritual manusia modern. Sebagian orang mencari pengalaman religius melalui berbagai praktik spiritual yang memadukan unsur dari beragam tradisi keagamaan. Selama menghadirkan rasa damai dan makna bagi dirinya, percampuran itu sering kali tidak lagi dipersoalkan. Fenomena perpindahan agama pun, dalam sebagian kasus, tidak selalu berangkat dari keyakinan teologis, melainkan dari pencarian akan ketenangan batin.
Bagi manusia modern, sejalan dengan kehidupan yang serba cepat, dinamis, dan instan, Tuhan sering kali diposisikan sebagai sumber ketenangan batin sekaligus pemberi kebahagiaan yang diharapkan dapat segera dirasakan. Hubungan dengan Tuhan pun cenderung bergeser menjadi hubungan yang pragmatis dan transaksional. Ibadah tidak lagi semata-mata dipahami sebagai bentuk penghambaan, melainkan juga sebagai investasi spiritual yang diharapkan menghadirkan manfaat tertentu, seperti ketenangan batin, kesehatan, keberhasilan, maupun kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, citra Tuhan dalam kesadaran manusia modern lebih banyak dipahami melalui lensa kebutuhan dan pengalaman psikologis yang terus berubah, bukan lagi sebagai representasi dari Dzat Yang Maha Mengatur kehidupan dan alam semesta. Pergeseran ini bukan sekadar menunjukkan perubahan dalam cara beragama, tetapi juga mencerminkan perubahan dalam memahami diri, posisi manusia di alam semesta, serta sejauh mana ia bersedia menundukkan diri kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya.
Jika manusia tradisional bertanya, "Apa yang dikehendaki Tuhan?", maka manusia modern lebih sering bertanya, "Apa yang memberiku ketenangan?" Pergeseran itulah yang mengubah citra Tuhan dalam kesadaran manusia modern. Sebab, yang sesungguhnya berubah bukanlah Tuhan, melainkan cara manusia memandang Tuhan. Cara pandang itu pun senantiasa mengikuti bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.













