Kenapa buayanya cerdik tur baik ya? Oh iya dia buaya darat :)
DEAR READER
sheepfilms
todays bird

Andulka
art blog(derogatory)
Monterey Bay Aquarium

roma★
No title available

@theartofmadeline

★
will byers stan first human second

Discoholic 🪩
dirt enthusiast
noise dept.
d e v o n
hello vonnie
RMH
Sweet Seals For You, Always
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
taylor price

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Greece

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Sweden
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Italy

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@ridlopratamasm
Kenapa buayanya cerdik tur baik ya? Oh iya dia buaya darat :)
Insan manusia selalu ingin menjadi seorang insan yang tampak sempurna. Pun hal serupa seperti ingin menjadi yang terbaik dimata setiap insan manusia di dunia ini. Jangan ada kesalahan itu cacat, itu membuat malu! Dalam benak setiap insan pernah merasakan hal itu.
Hati yang meronta, degup kencang yang sering melanda ketika ingin terlihat sempurna ternyata itu hanya dalam pikiran kita saja. Pikiran kita lupa selalu ada yang namanya toleransi, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan kondisi, berdamai dengan situasi.
Maka ingin selalu aku teriak kepada siapapun tak terlepas pada diri pribadi bahwa:
"Manusia tetaplah menjadi seorang insan yang manusia, bukan variabel antara baik atau jahat namun kadang menjadi insan yang baik terkadang menjadi insan yang kurang baik karena tidak ada yang jahat yang jahat hanyalah sikapnya bukan manusianya"
Perpusda surakarta, 3 November 2020
My love
Suatu pengajian hingga majelis ilmu di tengah masyarakat itu biasanya selalu menyediakan makanan ringan dan minuman hangat. Namun asumsiku kenapa kok pengajian atau majelis ilmu selalu ditemani snack ringan dan minuman hangat merupakan sebuah benteng pertahanan. Mengapa kok benteng pertahanan? karena manusia itu sering lalai dan ngantukan jika berdiam diri dengan waktu yang cukup lama nah dengan ditemani 2 item tadi menjadikan benteng pertahanan manusia untuk menjadi obat ngantuk ditengah pengajian ataupun majelis ilmu biar melek lagi. Yaa hakekatnya manusia ya gitu kali ya. Tapi kalo sistem snack dan minuman tadi ini diterapkan di bangku pendidikan pasti akan banyak perdebatan. Tapi menurutku layak untuk didebatkan.
Terlepas dari itu, ada satu asumsiku ketika melihat orang orang di pengajian atau majelis ilmu bisa kita lihat dari bagaimana dia mengatur snack dan teh anget tadi.
Tipe orang fokus pengajian dan majelis ilmu dia cenderung hanya menyeruput teh nya saja, hal ini dilakukan mungkin saja yang bersangkutan merasa serat dan nikmat ketika menyimak ilmu dari ustadz dan menyegarkan kembali fokusnya
Tipe orang ngantukan di pengajian dan majelis ilmu cenderung untuk menghabiskan snack yang ada niatnya memperhatikan ustadz yang sedang mengisi materi sih nah untuk dia bisa bertahan melek dia akhirnya nyemil sambil nyeruput tipis tipis, karena dia tau kalo disekaliguskan jatahnya sudsh tidak ada lagi dan cenderung malu untuk minta lagi
Tipe ga tau diri di pengajian dan majelis ilmu tuh biasanya dia snack langsung dilahap semua, minuman dia teguk langsung tanpa sisa. Nah tipe ini nih kadang juga tanpa malu untuk minta jatah snack ke yang sebelahnya sambil minta air tambahan dari temen temen sebelahnya dia kumpulin tuh
Tipe inget keluarga, nah kalo ini tuh biasanya mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak. Di pengajian tipe ini hanya minum saja untuk mengganjal perut sambil memfokuskan kembali menyimak materi dari ustadz, untuk makanan sendiri dia bawa pulang tuh untuk ditawarkan ke anaknya atau anggota keluarga lainnya karena dia tau bahwa anaknya suka banget snack yang dia bawa.
Dan masih banyak lagi, namun untuk menutup asumsi ini maka kita asumsikan bahwa dalam keadaan apapun ketika kita datang ke majelis ilmu atau pengajian sudah ada pahala yang tercatat di buku amal kita, namun seberapa kuat iman dan keikhlasan kita dalam menyambut ilmu baru dalam pengajian maupun majelis ilmu bisa kita lihat dari adab kita.
*tambahan tipe : nunggu sampe selesai modus bantu beres-beres liat ada sisa atau engga snacknya, terus sikat bawa ke kosan lumayan buat nyemil wkwkwk
Di sudut tikungan ku menunggu, indahnya dua insan berpapasan saling senyum tanpa tahan. Berlalu jalan menuju urusannya kembali. Namun jika posisi itu adalah kita, aku akan berhenti melihat kau tak kembali
Cita-citamu sedari dulu, bagaimana mempertahankan dan memperjuangkan keluarga serta idealisme diri, aku banyak belajar darimu pak.
Sekarang cita-citamu ada didepan mata pak sehat terus, semangat terus, maaf belum bisa mengantar semoga kita segera berjumpa dengan kondisi terbaik dibungkus dalam keberkahan. Barakallah bapak!
Bila ini adalah sebuah
Aku ingin bermimpi dan menjadi sesuatu yang bisa kalian banggakan.
Kujalani semua narasi tentang kebaikan, bersosial dan mengabdi dari bangga almamater hingga sekarang ingin segera menanggalkan almamater.
Percayalah wahai yang kucinta dan kusayang. Ku hanya ingin membuktikan. Bahwa aku mandiri dan bisa mengaktualisasikan diri di sini.
Maaf bila ku tetap dan masih mengecewakan kalian. Namun percayalah aku masih butuh kepercayaan. Semoga.
Doaku tak akan putus.
Untukmu Melati
Aku kira kau lemah, ketika itu tangkaimu layu hingga mendayu-dayu. Senyum warnamu mulai memudar ketika itu.
Sedih nyata melihatmu layu, ah bukan layu namun patah. Tangkai mu patah, itu yang membuatmu tak seceria kemarin. Aku memang tak baik, namun ayolah aku akan membantumu untuk mengembalikan senyum indahmu.
Hey melati, aku ga tahu apakah aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi aku belajar bahwa dari yang patah selalu tumbuh. Bertumbuhlah!
Harapan (2)
Ah pagi ini pun harus berpamit dari gubuk kecil yang hangat itu. Ditemani langit temaram dan ditemani jalanan yang basah setelah diguyur hujan, sahdu dan sedih bercampur. Setelah berpamit dengan ibu, bapak sudah siap dengan motornya untuk mengantarkan ke perantauan.
Sambil bernostalgia, sekelebat ingatan dimasa SD yang selalu dibonceng oleh bapak. Punggungnya itu selalu siap menjadi sandaran ketika aku kantuk melanda. Bermacam cara bapak membuatku nyaman dibuatnya, dari motor yang pelan hingga tangan sebelah kirinya melingkar kebelakang hanya untuk menjagaku agar tak terjatuh.
Pepohanan dan bangunan begitu terasa pelan ketika kami melintasi jalanan basah itu, teringat ketika hujan ku selalu bersembunyi dibalik jas hujan kelalawarnya itu. Ku hanya bisa memgang ujung jas dan sambil melihat aspal yang diguyur air itu dengab menunduk. Ahhh berat.
Sampailah di stasiun. Tak banyak ucap.
"Jam berapa a keretanya?" tanyanya sambil melihat jadwal kereta
"bentar lagi pak, jam 8.40" jawabku.
"oh ya udah, kalo mau masuk ga apapa" menyuruhku untuk bersiap.
Sebelum ku berpamitan, bapak cukup singkat dalam berpesan
"A, sok sing fokus. Nurut ka mamah, sing nyaah ka mamah" sambil mengusap kepalaku.
Paham yang dimaksud, "iya pak" jawabku.
Assalamualikum
Harapan (1)
Sebuah keinginan dari lubuk hati. Itu yang ku dengar dari orangtua. Tadi pagi sebelum berpamit ibu cukup banyak berpesan, suara lirihnyalah mengantarkan semua pesan itu ke lubuk hati tak ada satu katapun yang terlewati.
Aku hanya bisa terdiam dan berusaha meyakinkan semua harapan itu. Tapi beliau bilang, "mamah percaya, sok ya a sing fokus". Lalu berpamitanlah dengan ibu. Begitu berat, namun harus dilakukan.
Assalamualikum.
WOW INILAH TIPS UNTUK BAHAGIA !
Diceritakan seorang pemilik toko menyuruh anaknya untuk mencari rahasia kebahagiaan dari seorang paling bijaksana didunia. Si Anak pun pergi melintasi laut hingga melintasi padang pasir yang gersang selama empat puluh hari lamanya, dan akhirnya dia sampai disebuah kastil yang megah nan indah di pucuk gunung. Disanalah orang bijak itu tinggal.
Namun ketika si anak muda itu memasuki kastil tersebut bukannya menemukan orang bijak, tapi istana tersebut dipenuhi oleh para pedagang berlalu lalang, orang yang berbincang disudut-sudut ruangan, orkestra musik klasik mengiringi keramaian di dalam ruangan, dan meja di ruangan tersebut dipenuhi oleh makanan paling enak berasal dari belahan dunia. dengan keadaan kastil yang ramai si anak tidak terlalu kesulitan untuk mencari orang bijak tersebut, dia mengetahui dari seseorang yang berbicara dengan setiap orang hingga antrian yang memanjang, setelah menunggu dua jam tibalah kesempatan si anak berbincang dengan orang paling bijaksana itu.
“Wahai anak muda, ada yang bisa saya bantu” ucap orang bijak.
Akhirnya anak muda tersebut menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya, namun orang bijak mengatakan bahwa tidak ada waktu banyak untuk menjelaskan tentang rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda tadi untuk berkeliling dan melihat isi kastil miliknya, lalu menyuruhnya kembali lagi setelah dua jam berkeliling.
“Ah iya satu lagi, akan ku berikan tugas untukmu wahai anak muda” kata si orang bijak. Dia memberikan sendok teh berisikan dua tetes air. “sambil kau berlkeliling bawalah sendok ini, tapi jangan sampai airnya tumpah”.
anak muda itu pun berkeliling menulusuri setiap sudut ruangan yang ada dikastil tersebut, hingga dia harus naik turun tangga sambil matanya tertuju pada sendok yang ia bawa. Setelah dua jam ia kembali menemui dan menghadap orang bijak.
“Nah bagaimana nak? apakah kau sudah melihat keindahan lukisan lukisan dari persia itu? bagaimana dengan taman hasil dari ahli taman ternama selama 10 tahun ia kerjakan? apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustkaan ku itu?”
Sang anak hanya tertunduk malu, dia mengakui bahwa dia tidak memperhatikan apapun. yang dia perhatikan hanyalah sendok yang dia jaga agar air yang diatasnya tidak tumpah.
“Kalau begitu, berkelilinglah nak sekali lagi, dan nikmatilah segala keindahan yang kastil ini miliki”. kata si orang bijak. “tak mungkin kau mengenal seseorang tanpa mengenali rumahnya bukan?” sahut orang bijak tadi sambil tersenyum.
Merasa lega, akhirnya si anak berkeliling serta mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi setiap jengkal yang ada di kastil tersebut. kali ini dia memperhatikan setiap detail dari karya seni serta ornamen yang ada dilangit-langit dan tembok kastil. Dia menikmati cantiknya bunga dan tanamana yang ada ditaman, serta mengagumi gunung-gunung yang mengelilingi kastil dan mengagumi setiap detail yang ada. Ketika dia kembali menghadap orang bijak sang pemilik kastil, dia menceritkan apa yang dia lihat dari setiap lekuk dan keindahan kastil hingga ke detail-detailnya.
“Tapi dimana tetesan air yang kupercayakan padamu itu?” tanya si orang bijak
Si anak muda langsung memandang sendok di tangannya, dan menyadari sudah hilang entah kemana air yang dititipkan padanya
“Nak, hanya ada satu nasehat untuk mu. Rahasia kebahagiaan itu adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu”.
(Cerita diambil dari karya Paulo Coelho, Sang Alkemis)
Awal Oktober
Oktober, begitulah sebuah nama bulan diantara 12 bulan lainnya. Bulan tentang perasaan aral melintang sedang berdansa dihadapanku.
Ah Oktober. Ku harap aku bisa berdansa mengikutimu. Atau aku hajar dirimu untuk menentukan siapa yang terkuat. Tapi itu tidak mungkin.
Ah Oktober. Kau katanya permulaan dari sebuah hujan, yang harusnya memberi kesegaran bagi tumbuhan, hewan serta tanah kering kerontang. Tapi mengapa kau masih sembunyikan hujanmu itu? Kau hanya turun sebagian, apakah pilih kasih?
Ah Oktober. Kau katanya bulan krusial, dimana sebuah penelitianku sangat ideal untuk diselesaikan bulan ini. Hei Oktober, aku tidak akan mengungkit masa lalumu, aku tidak ingin mendengar kata orang tentangmu. Tapi aku ingin menawarkan sesuatu. Ayo kita berjuang bersama, aku yakin akan sulit dalam menghadapi ini semua, tapi ayo kita bekerjasama untuk urusan ini. Aku ingin kau menjadi sobat ambyarku!
Ayo Oktober!
Cuman mampir minum
Pagi tadi hasil dari jalan-jalan bersama manager DD Solo, aku cuman bantu menemani dan belajar bagaiamana cara NGO itu bekerja. maen ke daerah Boyolali kami bersilaturahmi dan calon mustahik (penerima zakat) yang akan diberi bantuan zakat umat. Kondisi calon mustahik ini singkatnya adalah sepasang suami istri yang tuna netra, bertempat tinggal di rumah orangtua, memiliki anak dua, dan keduanya berjualan kacang. ah mereka begitu bahagia tidak ada beban sama sekali dengan kondisi yang menurutku cukup memprihatinkan secara fisik. namun jika kamu bertemu langsung dengan mereka tidak ada raut wajah sedih, bingung apalagi sedih dengan kondisi mereka. setelah mengobrol dengan hangatnya mereka menimpali beberapa pertanyaan tanpa beban dari yang kami utarakan ternyata mereka ada nilai yang menjadi pegangan oleh sekeluarga. “mas dunia iki koyok numpang ngombe, yoo maksud e di dunia ini kita hanya numpang bentar, mencari bekal. kita tau sendiri ya akhiratlah yang kekal. yooo mosok mung ngombe tok ora berkah. yoo kita pengen yang berkah aja mas, minta doanya aja ya mas” ah sederhana. kita sering lupa akan namanya bersyukur. tapi kita juga sering melupakan poin dimana keberkahan itu berada. keberkahan itu berada dari niat-niat tulus kita hanya untuk mencari ridho-Nya. “suwun bu, insya allah selalu berkah nggeh bu. doakan saya juga bu semoga lulus tahun ini dalam predikat berkah” 3 Oktober 2019 Boyoken nganti lali
Teruslah
Aku akan senantiasa membaca tulisan-tulisanmu, tanpa harus aku sampaikan padamu kalau aku rutin membacanya. Teruslah menulis.
Aku akan senantiasa mendengar kisah dan semua ceritamu, tanpa harus aku sampaikan padamu kalau aku menyimaknya. Teruslah bercerita.
Aku akan senantiasa bangga padamu, tanpa harus kau tahu. Teruslah berkarya.
Aku akan senantiasa menjadi kawan baikmu, tanpa harus ada interaksi yang sama seperti dulu-dulu. Teruslah menjadi baik.
Terimakasih atas hikmah dan pembelajaran yang diberikan, meskipun bisa jadi kau tak sadar telah membuatnya ada.
Gelas itu Manusia
Menurutku gelas adalah sebuah teknologi yang paling mutakhir saat ini yang bisa menampung air untuk minum.
Kamu isi aja itu gelas dengan air minum, dan kamu tinggal minum. Jangan lupa sambil duduk serta baca bismillah dan tiga tegukkan.
Tuh kan sangat mutakhir.
Ketika gelas di isi oleh air, pun manusia 80% tubuhnya terdiri dari cairan. Sama sama cairanlah ya.
Manusia pada dasarnya pun dari awal kehidupan akan di isi oleh air-air kehidupan dari ilmu, cinta, hingga kasih sayang. Tak terkecuali kepercayaan.
Kepercayaan merupakan sebuah entitas bagaimana manusia itu hidup dan bagaimana manusia itu menjalankan peran kehidupannya di masyarakat. Kepercayaan adalah sebuah tingkatan akhir dari perwujudan manusia. Karena dari sinilah peran manusia itu diukur.
Oke kita bayangkan seorang ketua kelas. Pastinya ketua kelas ini dipilih atas kepercayaan. Kepercayaan ini dibentuk dari berbagai faktor apakah kepahaman lingkungan di kelas, perilaku dan adab di kelas, kecakapannya di kelas, manajemen massa kelas, keberanian dan memutuskan sebuah keputusan, kepedulian terhadap teman hingga mungkin sifat kebapaan atau sifat kemiliteran ya terserah. Namun muara dari itu semua adalah kepercayaan.
Jadi kalo misalnya kepercayaan adalah menjadi titik pondasi paling penting jika aku anggap kepercayaan adalah sebagai landasan paling bawah dari sebuah gelas, dan faktor faktor tadi adalah bagaimana bentuk dari atas kebawah sebuah gelas mau bengkok mau cembung atau mau lancip, namun pada pastinya akan bermuara kepada dasar. Pasti ada dasar. Kepercayaan.
Bayangkan jika secantik apapun gelasmu, seunik apapun gelasmu atau seunik hingga semahal mahalnya gelasmu tapi dasar dari gelasmu itu bolong atau pecah, maka gelas itu takan berguna sesuai mana mestinya. Pun manusia, sebaik baik rupanya, sehabat dia bercakap, sejago dia memanajemen manusia, seberaninya dia dipublik tak akan ada harganya di masyarakat jika kepercayaan itu sudah hancur.
Maka dari itu beralihlah menjadi team es teh di bungkus di gantung di paku tembok.
Maunya amplop merah, bukan putih
Sore hari tadi aku di telepon dari yang jauh disana. Bapak.
Ketika hujan dan suasana dingin juga, ada apa gawai ini bedering dan bergetar. Ternyata bapak melakukan panggilan. Lantas tak berpikir lama akupun langsung menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum, ya pak"
"Waalaikumusaalam, dimana a?"
"Dikampus pak, kumaha pak? Bapak lagi dimana?"
"Oooh tanya weh, bapak dirumah"
"Mamah sama yang lain di rumah juga pak?"
"Henteu, mamah lagi di bandung"
"Jeung teh mia oge? Teras si alit dimana pak?"
"alit nuju di bojong, bapak sendirian di rumah"
"Weh meni karunya, bapak teu piket pak?"
"Ah amplopnya putih, bukan merah"
"hahahaha"
"Ya udah atuhnya a, sok lajeungkeun. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Setelah panggilan berakhir, aku senyam senyum sendiri. Amplopnya putih bukan merah...
Ksatria menangis
Sudah lama aku memendamnya, mungkin ini saatnya.
Hei lihatlah aku, apa yang kau pandang dariku? Orang baik? Murah senyum? Asik? Keren? Salah besar jika kamu memandang diriku seperti itu.
Aku bukanlah seorang superior yang engkau kira, baik, lucu, sabar, asik. NO!
Aku ini seorang pendusta. Dustaku pada diriku dan tuhanku sendiri.
Kehidupan yang selama ini aku bangun dan belajar seolah-olah saat ini begitu hampa...
Sakit...
Sedih...
Kecewa...
Bingung...
Marah...
Benci...
Hingga aku tulis semua ini dalam keadaan menangis.
Aku begitu merasa bodoh dengan kehidupan yang ku alami saat ini. Entah apa yang aku rasakan, entah apa yang aku pikirkan, semua hanya seperti ketika kamu sedang menikmati aliran sungai untuk mandi namun ada tahi yang melewati begitu saja.
Hati ini hancur. Perasaan ini. Pikiran ini. Jiwa ini. Tak bisa aku jelaskan. Betapa bodohnya aku ini.
Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Sampai kapan aku terpuruk seperti ini? Sampai kapan aku harus hadapi semua ini?Sampai kapan? Sampai kapan? Sampai kapan?
Apakah ini akhir kisah seorang ksatria yang harus melepaskan cita akan kepahlawanan.
"Ketika dalam kesulitan disitu ada kemudahan, maka ketika ada dangdutan disitu ada goyangan"
– Mahasiswa Oa Oe