Laki-laki
"Kak, aku mau nanya deh. Kakak kan friendly, baik ke semua orang. Apa kakak gak takut kalau ada seseorang yang suka sama kakak?"
Tentu butuh keberanian yang besar untuk menanyakan ini kepadamu. Tentang pemikiranmu terhadap apa yang selama ini aku rasa. Tentang bencinya aku terhadap sikap baik kakak yang sudah meluluhkan hati ini.
"Lah, ngapain takut? Yang penting kita ngelakuin kebaikan itu dengan niat yang bener. Urusan perasaan itu urusan masing-masing. Kalau ada yang suka sama kita, yah itu urusan dialah. Adapun kita, harus selalu berusaha untuk terus melakukan kebaikan dengan niat yang benar."
Aku tersenyum tapi merasa pedih membaca chatmu kak. Benar memang, perasaan ini urusanku. Tapi bagaimana bisa begitu saja lepas tangan sedangkan kakak sudah keterlaluan memberi harapan.
"Dek, laki-laki itu, selama dia belum mendatangimu dan menyatakan perasaannya kepadamu, maka jangan pernah mengartikan segala kebaikan dan perhatiannya. Itu terlalu membuang waktu. Jika dia cinta, maka dia akan mengatakan dengan caranya sendiri. Jadi, jangan berasumsi dan memikirkan suka atau tidaknya dia kepadamu.".
Aku menelan ludah dan berulang kali coba meresapi kata-kata yang kakak kirim. Agar ia benar-benar menyadarkan diri ini yang sudah terlanjur menaruh harapan. Kakak benar, aku saja yang terlalu mengartikan semua kebaikan kakak dengan perasaan cinta.











