Dulu aku pernah batasin hubungan aku dengan teman laki laki, aku bersikap sewajarnya, bahkan ada batasan yang selalu aku jaga. Mulai dari hal kecil hingga soal rasa, sebelumnya aku pernah kecewa, kecewa berat, kecewa yang merubah prinsip hidup aku, kecewa yang membawa aku sampai ke titik terbahagia saat ini. Tapi apa ? Aku gak sepenuhnya bahagia ? Kenapa ? Ada satu hal yang selalu jadi penghambat bagiku, itu 'yakin' . Ini selalu jadi prioritas di hati aku sampai saat ini walaupun aku uda happy tapi hati mana bisa bohong. Dulu aku yakin sama semua apapun yg aku pilih, bahkan seragu apapun aku tetap aku harus yakin. Karena buat aku yakin kunci dari semuanya, tapi apa ? Aku kecewa dengan keyakinan aku sendiri soal rasa. Aku terlalu naif, pasif, bahkan bodoh. Aku gak pernah mencari alasan aku yakin apa, aku gak pernah mau tau alasan aku bertahan dgn keyakinan aku apa. Sampai di titik terlemah aku menyerah, aku hempas semuanya, aku lepas seikhlasnya. Sampai aku menutup kemungkinan untuk keyakinan selanjutnya. Aku menutup diri rapat rapat aku menutup hati sangat kuat. Sampai pada akhirnya ada satu orang yang dengan lancang datang di depan pintu hati aku, bersikap seolah gak tau kalau pintunya terkunci, bersikap seolah dia mudah dengan sendirinya terbuka untuk orang baru. Tapi apa ? Aku luluh. Pintu itu runtuh hingga kepingan paling halus mirip debu. Sekarang dia terbuka sangat lebar dan hanya menerima satu orang. Entah mantra apa yang dia sebutkan. Aku merasa lemah di titik terlemah, aku merasa bodoh di titik paling bodoh